Tampilkan postingan dengan label Tips Ramadana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Ramadana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juni 2017

Berolahraga Pada Bulan Ramadan? Boleh Saja, Asalkan

Di bulan Ramadan aktivitas sehari-hari bisa dilakukan seperti biasa, hanya saja memang ada tips dan cara khusus yang perlu diperhatikan. Mengingat selama 12 jam tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman, sehingga perlu mangatur tenaga selama melakukan kegiatan. Pada Rabu, 31 Mei 2017 Mayapada Healthcare mengadakan acara Talkshow "Tips Berolahraga di Bulan Ramadan" di salah satu hotel daerah Jakarta Pusat.


Acara diawali oleh Pak Jonathan Tahir menjelaskan rencana bisnis Mayapada Healthcare Grup ke lima kota besar. Saat ini rumah sakit Mayapada ada di daerah Lebak Bulus dan Tangerang, ke depannya di kota-kota lain akan diusung konsep yang serupa. Mayapada Healthcare Grup memiliki diferensiasi tak hanya rumah sakit biasa, tapi mengedukasi masyarakat agar memiliki gaya hidup sehat. Konsep rumah sakit Mayapada juga dengan konsep modern dan nyanam, sehingga menjauhkan dari stigma buruk tentang rumah sakit.



Berlanjut ke sesi talkshow tips berolahraga selama bulan Ramadan, Dr.Zaini K.Saragih Sp.KO dari Mayapada Sport and Wellness Clinic. Dr. Zaini menyampaikan kebiasaan saat berpuasa masyarakat Indonesia: kurang beraktivitas fisik, kurang makan, pola makan yang buruk, kurang tidur, dan balas dendam makan usai bulan Ramadan. Iya enggak sih? Faktanya keseimbangan energi harus seimbang antara yang makan yang dimakan dan dengan energi yang digunakan saat berktivitas.

Memang pada bulan Ramadan pola makan dan kegiatannya berbeda. Namun, ternyata protein, karbohidrat, dan lemak bisa saling bertukar posisi untuk digunakan sebagai energi manusia. Tak ada alasan bagi kita saat puasa untuk bermalas-malasan, kita punya banyak cadangan energi di tubuh kita. Dr.Zaini menjelaskan bahwa saat makan kadar insulin pada tubuh kita meningkat, sehingga disarankan lebih baik makan banyak dengan frekuensi sedikit pada orang normal. Berbeda pada penderita diabetea yang perlu pola makan frekuensi sering dengan jumlah yang sedikit.

Baru saat ini masuk ke penjelasan tentang kebutuhan saat berolahraga. Saat berolahraga manusia memerlukan sumber energi dan cairan pengganti, sumber energi manusia banyak cadangannya. Yang tidak bisa didapatkan saat berolahara di bulan puasa adalah cairan pengganti, tanpa cairan pengganti saat berolahraga kita bisa pingsan. Cairan pengganti sangat penting untuk menstabilkan suhu tubuh saat kota berolahraga, sehingga disarankan berolahraga ringan saja.


Jika ingin melakukan olahraga juga kalau bisa dilakukan di dalam ruangan, waktu olahraga juga 1-2 jam sebelum berbuka puasa atau 2-3 jam sesudah berbuka puasa. Jadi boleh berolahraga di bulan Ramadan asalkan tahu waktu dan jenis olahraganya ringan. Karena saat manusia kekurangan cairan konsentrasi manusia berkurang, terlebih dalam kegiatan berolahraga sehingga bisa lebih mengatur waktu berolahraga. Usai berolahrga segerakan untuk makan dan minum, sehingga kebutuhan cairan pengganti terpenuhi.


Tips tambahan dari dr.Zaini agara kita juga menjaga pola tidur kita, tidur bukan berarti hanya kuantitas tapi juga kualitas. Tidur yang baik saat keadaan nyenyak "deep sleep" pada keadaan gelombang otak di posisi Delta dan Thetha. Gelombang otak "deep sleep" ternyata tak hanya saat kita tidur, tapi juga saat kita khusuk melakukan kegiatan ibadah. Usailah tips dari dr.Zaini acarapun dilanjutkan dengan berbuka puasa dan berfoto bersama.