Rabu, 12 Mei 2021

Untuk Indonesia Sehat, Kenali Manfaat Vaksinasi di Masa Pandemi

Vaksin menjadi perbincangan, karena diharapkan menjadi "Game Changer" di masa pandemi. Vaksin covid-19 yang saat ini dinantikan jadwal pemberiannya kepada seluruh masyarakat di Indonesia. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang masih ragu dengan manfaat dan aspek keamanan vaksin. Pada sisi lain pemberian vaksin pada anak jumlahnya menurun pada masa pandemi. Lalu, apa upaya yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat?

Pada momen Pekan Imunisasi Dunia 2021 (PID 2021) minggu ke-4 setiap tahunnya. Tahun ini PID 2021 berlangsung pada 24-30 April 2021 dengan mengangkat tema "Ayo Imunisasi, Bersatu Sehatkan Negeri". Saya berkesempatan untuk mengikuti, acara Temu Netizen Kesehatan pada momen Pekan Imunisasi Dunia. Acara diawali dengan narasumber pertama, yaitu: Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI): Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari Sp.A(K)., MTropPaed. Ia mengawali dengan penjelasan perbedaan antara vaksin, vaksinasi, dan imunisasi.

Menurut sejarah, bahwa vaksin pertama kalinya diberikan pada 14 Mei 1796 kepada seorang anak laki-laki (berusia 8 tahun). Kemudian WHO pada tahun 1974, melaunching PPI (Program Pengembangan Imunisasi. Sehingga setiap anak berusia kurang dari satu tahun, mendapatkan vaksinasi untuk perlindungan enam penyakit: Tubercolosis, Pertusis, Polio, Tetanus, Difteri, dan Campak.

Dalam pemberian vaksin, kualitas, kemanan, dan efektiviras vaksin sudah dipastikan dahulu oleh BPOM dan KIPI. Melalui uji klinis dan diberikan kepada manusia, sebelumnya diberikan kepada hewan dahulu. Vaksin mekanisme kerja, memicu sistem kekebalan tubuh. Menyerupai infeksi alami dengan komplikasi yang kecil.

Jika muncul KIPI terhadap vaksinasi akan dicatat dan diklasifikasikan. Namun, ada beberapa reaksi KIPI yang timbul bukan karena vaksinnya. Misalnya, rasa cemas saat akan divaksin. Khususnya pada vaksin Covid-19, pmberian vaksin tidak menjamin, bahwa seseorang akam terhindar dari terkena penyakit. Namun, memperingan gejala yang dialami, tidak sampai berat. Sehingga setelah divaksin, tetap perlu menerapkan protokol kesehatan.

Narasumber selanjutnya Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A., M.Sc, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Memaparakan pentungnya untuk melindungi anak-anak di masa pandemi dengan Imunisasi Kejar.

Prof Cissy menjelaskan manfaat vaksin kepada individu dan komunitas. Pemberian vaksin akan mencegah suatu penyakit, karena terbentuk kekebalan komunitas (Herd Immunity). Setiap penyakit memiliki angka cakupan vaksin berbeda, hingga akhirnya Herd Immunity dapat terbentuk. Misalnya, campak minimal 90% cakupan vaksin, karena sangat mudah menular.

Selama masih masa pandemi, vaksinasi pada anak perlu terus dilanjutkan. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Imunisasi Kejar atau imunisasi susulan, menyusulkan imunisasi yang tertunda.  Untuk mengejarnya, vaksin diberikan secara ganda. Jadwal vaksin dipersingkat. Jika imunisasi pada anak tidak dilaksanakan, maka kita akan menghadapi masalah baru, seperti KLB.

Narasumber ketiga dari WHO Indonesia, yaitu: dr. Olivia Silalahi memaparkan mengenai Upaya Dunia Mengoptimalkan Imunisasi Rutin dan Vaksinasi COVID- 19 di Masa Pandemi. Sekalipun masih masa pandemi, proses imunisasi perlu terus dilakukan dengan Imunisasi Kejar. Imunisasi rutin perlu dilakukan dengan penerapana protokol kesehatan. 



Pemberian imunisasi sudah diberikan secara aman, menggunakan sistem drive thru. Selain itu gedung sekolah yang tidak digunakan, bisa menjadi tempat pemberian imunisasi. Pemberian vaksinasi rutin pada anak, harus terus dilakukan. Kita tidak boleh lengah, sehingga terhindar dari kejadian KLB.

Kamis, 12 November 2020

Tetap Sehat dan Bugar dengan Bersepeda di Masa Pandemi, Begini Caranya

Pada momen menjelang Hari Kesehatan Nasional 12 November, berlangsung acara Seminar Online bareng komunitas sepeda "Yuk, sepedaan sehat dan aman di era adaptasi kebiasaan baru." pada Sabtu, 7 November 2020.  Diawali dengan penyampaian materi dari dr. Riskiana S. Putra, M.Kes selaku Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan menyampaikan  . Menjaga diri, menjaga keluarga, dan masyarakat untuk menyelamatkan bangsa dari pandemi Covid-19 dengan tekad menuju Indonesia Sehat.



Adaptasi kebiasaan baru dalam berolahraga. Dalam konsisi covid-19 dan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang negatif, berdampak pada akses pada kesehatan dan pangan yang menurun. Pak Riski mengajak masyarakat untuk bisa menghindari gejala gelaja akibat adanya penularan.

Berdasarkan hasil perilaku masyarakat di masa pandemi covid-19 BPS 2020 tentang persepsi responden atas efektivitas protokol kesehatan terhadap pencegahan terinfeksi COVID-19. Sebanyak 91,8% responden sudah menggunakan masker. Sedangkan responden yang tidak menerapkan protokol kesehetan, sebanyak 55% karena tidak ada sanksi jika menerapkan protokol kesehatan. 

Saat ini protokol kesehatan merupakan perlindungan kesehatab individu, selain menerapkan 3M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, dan Menggunakan Masker) ditambah konsumsi makanan bergizi seimbang, dan menjaga daya tahan tubuh. Istilahnya 3 Baik, 5 Sempurna. Diharapkan melalui penerapan adaptasi kebiasaan baru, maka kegiatan termasuk olahraga bisa berjalan. Sementara pengendalian penyakit bisa dikendalikan.

Azwar Hadi Kusuma, Founder Indonesia Folding Bike Community menjelaskan bahwa Indonesia Folding Bike Community adalah komunitas penggemar/pengguna sepeda lipat yang terbentuk tahun 2007 dengan 50.000 anggota di Facebook. Kini menjadi rumah besar bagi pengguna sepeda lipat di Indonesia.



Saat ini menghindari acara besar yang mengumpulkan banyak orang. Sebelum pandemi biasanya diadakan jambore dengan 1.800 peserta. Namun, karena pandemi kini diadakan secara virtual dan acara gowes bersama sementara dihindari. Acara gower virtual menggunakan suatu aplikasi, bersepeda sejauh jarak tertentu dan waktu beberapa hari. Baru hasilnya dilaporakan kepada panitia yang dicatat sebagai virtual gowes. Bisa bersepeda sendiri dengan waktu yang bebas.

Tips bersepeda yang aman di era pandemi, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum bersepeda:

1. Pastikan kondisi tubuh sehat dan bugar

2. Rencanakan rute gowes yang aman dan tidak terlalu ramai

3. Atur waktu bersepeda

4. Gunakan pakaian yang lebih tertutup (misalnya topi, kaos lengan panjang, dan celana panjang)

5. Siapkan perlengkapan keamanan sepeda (rem sepeda bekerja dengan baik)

6. Siapkan masker cadangan, hand sanitizer, air minum botol berpenutup)

Tips penting sewaktu bersepeda:

1. Usahakan gowes mandiri atau kelompok kecil maksimal 5 orang (orang yang sudah dikenal atau keluarga sendiri)

2. Gunakan helm, kacamata, dan masker (disarankan masker kain tiga lapis dan siapkan masker cadangan)

3. Menjaga jaga jarak belakang maupun samping (atur jarak dengan posisi zig zag, jangan lurus!)

4. Lakukan olahraga intensitas ringan sampai sedang (jangan terlalu berat, bersepedalah dengab santai)

5. Patuhi rambu-rambu lalu lintas

6. Hindari sosialisasi atau istirahat makan minum bareng

Sesampainya di rumah setelah bersepeda

1. Hindari kontak fisik dengan orang rumah

2. Lepas masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, helm, topi di luar rumah

3. Semprot desinfektan helm, kacamat, sepatu, dan sepeda

4. Segera mandi dan ganti baju

Poetut Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia. menjelaskan Bike to Work Indonesia dideklarasikan 27 Agustus 2005. Makna "Work" tidak sekedar untuk pekerja, tetapi didesain dan dimaknai "Work" semua aktivitas dan semua orang. Gerakan Bike to Work adalah gerakan massal untuk mengajak menggunakan sepeda sebagai alat mobilitas sehari-hari, utamanya ke tempat kerja. Jadi kalau pergi ke pasar boleh, sejak 2006 terjadi perubahan konsep menjadi social movement dengan jenis sepeda apapun dan ke manapun.



Sejak pandemi hanya ada pilihan olahraga yang bisa dilakukan di sekitar rumah: jalan kaki, lari, dan bersepeda karena bisa dilakukan secara individual. Hal ini berkembang terus hingga bersepeda menjadi populer seperti saat ini. Tetap prima selama bersepeda, kita perlu tetap menjaga diri kita dalam keadaan saat ini untuk menjaga imunitas.

Tidak sekadar sehat, tetapi juga pastikan bugar. Karena bugar membuat kita dalam mengelola kegiatan kita sebanyak mungkin dan produk menjalani kegiatan sehingga lebih baik. Sehat saja tidak cukup, orang bugar pasti sehat. Orang sehat pasti bugar. Salah satu cara menjaga kebugaran dengan bersepeda.

Bersepeda bisa dilakukan dari jarak dekat, mulai dari mini market dan ke tempat ibadah untuk membiasakan diri bersepeda. Ada atau tidak ya fasilitas, kita harus mulai bersepeda. 

Bersepeda dengan aman dan nyaman dengan mengenali sepeda (rem, tekanan ban, dan rantai), kenali diri (kondisi kesehatan dan kemampuan fisik), dan kenali lingkungan (kenali rutenya) Bersepeda harusnya membuat kita sehat, bukan menjadikan kita sakit.

Hindari dehidrasi dengan setiap 10-20 menit minum satu teguk, jangan menunggu haus, konsumsi 1,5 kali lebih banyak dari cairan tubuh yang keluar menjadi keringat. Perkiraan kebutuhan air selama satu jam sekitar 500-700 ml, kembali kepada diri kita sesuai dengan berat tubuh kita dan kecepatan bersepeda.


Minggu, 05 Juli 2020

Stres di Masa Pandemi? Kenali Bersama Cara Mengelolanya di We The Health


Banyak hal tak terduga yang terjadi pada tahun 2020, berbagai rencana dan perubahan terjadi dalam waktu singkat ketika pandemi melanda seluruh dunia, termasuk juga Indonesia. Tak sekadar berdampak pada kesehatan secara fisik, tetapi juga pada kesehatan secara mental. Banyak perubahan yang terjadi tak bisa begitu saja diterima dengan baik oleh semua orang, sehingga berdampak kepada stres.

Saya berkesempatan mengikuti acara We The Health, konferensi digital kesehatan pertama dengan berbagai narasumber dan topik menarik seputar kesehatan. Ada Track Jovee.id dan lifepack.id yang berlangsung pada Sabtu, 27 Juni 2020. Saya memilih ikut dalam sesi "Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stres Saat Pandemi" dengan narasumber Ade Binarko (Founder sehatmental.id pada Lifepack Track


Ade Binarko mengawali dengan ceritanya dalam membangun sehatmental.id ejak tahun 2014 untuk meningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Ia pada tahun 2009 mengalami kesulitan dalam bernafas dan harus masuk ke IGD, hingga akahirnyania berkonsultasi ke psikiater dan didiagnosa menderita Panic Disorder. 

Awalnya tak mudah menerima, perlu self accaptance dan self care bahwa setiap orang punya masalah masing-masing. Pada tahun 2013 Ade Binarko mengikuti Enterprenuer Fest dan bertemu Natali Ardianto. Pada tahun 2015 ia punya keberanian dan ide untuk membuat festival tentang kesehatan mental, hingga membuat sehatmental.id.


Pada berlangsungnya masa pandemi Ade Binarko mengajak untuk kita beradaptasi, tak hanya kita saja yang punya masalah, oranh lain juga. Gunakan momen pandemi untuk mengevaluasi diri, mengatur prioritas, dan adanya peluang (seperti memanfaatkan media live streamung dan webinar). 


Selalu ada berkah di balik musibah yang terjadi. Ambil sisi positif dari pandemi yang terjadi, kini kita bisa berkumpul dengan keluarga. Misalnya seorang pilot yang jarang bisa berkumpul dengan keluarga pada kondisu normal karena kesibukan. Ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan, misalnya saat ini menjual kue secara online dengan sistem pre-order. Andaikan sudah kembali bekerja, bisa membuat penjualan kue di akhir pekan.

Ade Binarko berbagi tips dalam menghadapi stigma tentang stres dianggap karena kurang ibadah dan cara mengelola stres selama di rumah. Perlu pendekatan perlahan-lahan secara persuasif kepada orang tua, sesuaikan dengan bahasa yang dipahami orabg tua, dan membutuhkan proses. Jika dirasakan sudah ada gelagat terkait kesehatab mentak, tak ada salahnya datang untuk memeriksakan diri sebagai upaya preventif.


Sejak tahub 2014 Ade Binarko berinisiatif membuat kegiatan dengan mental health check up secara gratis. Karena setiap orang punya masalah, perlu ada pemeriksaan seperti check up kesehatan fisik yang sudah umum dilakukan

Kisah Robin Willliam seorang komedian yang bunuh diri, hal itu membuat munculnya kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan hal yant penting. Sehingga diperlukan edukasi lewat berbagai cara, srperti konsultasi melalui Line @ dan memanfaarkan konsiultasi psikoli secara online.

Adanya kemajuan teknologi membuat harga terjangkau, seperti layanan Jovee.id yang memberikan rekomendasi suplemen dan Lifepack yang merupakan layanan apotek online. Sehingga pada masa pandemi seperti ini kita tetap bisa menjaga kesehatan dengan konsumsi suplemen. Selain itu Lifepack menjadi layanan yang memudahkan untuk membeli obat tanpa perlu kelua rumah.

Jika saat menggunakan media sosial merasa diri terganggu dan tak nyaman, gunakan mute atau blokir akun. Karena kita tak bisa menutup mulut semua orang, tetapi bisa menutup kedua telinga kita, dan bersikaplah bodoh amat dalam menghadapi pendapat orang sehingga tidak stres.

Sabtu, 13 Juni 2020

Tetap Produktif dan Aman di Fase Adaptasi Kebiasaaan Baru

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berlalu tanpa terasa tiga  bulan lebih berlalu. Sejak pertama kali kasus pasien positif COVID-19 pertama kalinya terkonfirmasi ada di Indonesia, hal yang awalnya sempat cukup mengejutkan banyak orang. Perlahan demi perlahan jumlah kasus positif terkonfirmasi bertahan, kemudian pemerintah mengambil berbagai kebijakan untuk melindungi masyarakat. Masyarakat diminta untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah.

Hingga akhirnya pada beberapa daerah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi berbagai kegiatan yang boleh dilakukan masyarakat.Salah satunya Kementerian Perhubungan mengatur perihal protokol penggunaan kendaraan umum dan pribadi yang diizinkan. Pemberlakuan aturan demi aturan dilakukan demi kebaikan bersama.

Masa pandemi ini berdampak besar perekonomian, mengingat masyarakat diharus untuk lebih banyak di rumah saja, demi memutus rantai penyebaran virus covid-19. Berbagai lapisan masyarakat yang bekerja di berbagai sektor merasa dampak, bahkan ada yang kehilangan pekerjaan.

Pemerintah tak tinggal diam dengan memberikan berbagai bantuan sosial kepada masyarakat yang kurang mampu. Berbagai tempat keramaian tidak diizinkan beroperasi, berbagai tempat makan hanya diizinkan untuk takeaway & delivery, dan berbagai pembatasan lainnya.


Memasuki awal bulan Juni secercah harapan pun datang, tingkat penyebaran virus COVID-19 pada berbagai daerah menurun. Sehingga adanya potensi untuk memasuki transisi menuju fase Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal). Fase di mana masyarakat sudah bisa kembali menjalankan sebagian aktivitas perekonomian dengan memperhatikan pelaksanaan protokol kesehatan.


Pandemi diprediksi oleh WHO akan masih berlangsung lama, setidaknya hingga obat atau vaksin nantinya ditemukan. Sambil kita bersama-sama menantikan saatnya akan tiba, kini yang bisa lakukan dengan berkegiatan secara produktif. Namun, tetap aman dengan melaksanakan berbagai protokol kesehatan yang diberlakukan.

Kegiatan perekonomian secara bertahap sudah dimulai kembali. Perkantoran sudah kembali berangsur normal dengan jumlah karyawan yang masuk 50%, gerai makanan mandiri sudah bisa kembali melayani dine-in (makan di tempat), pusat perbelanjaan & tempat rekreasi kembali dibuka, adanya perubahan aturan kapasitas angkut transportasi umum & pribadi, dan sebagainya.

Memasuki menuju fase Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal) membuat kita perlu beradaptasi akan kebiasaan baru, termasuk saya. Pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru saat menggunakan angkutan umum, kita harus disiplin dan mematuhi peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan. Misalnya, menjaga jarak saat duduk atau berdiri di dalam bus atau kereta dan tidak dipekenankan untuk berbicara selama ada di dalam bus atau kereta.


Memang awal tak mudah dan belum terbiasa, tetapi kita bersama-sama pasti bisa beradaptasi dengan protokol kesehatan yang diberlakukan di transportasi umum. Sehingga kita bisa kembali produktif bekerja di kantor dan perekonomian Indonesia bisa terus berkembang.

Tetap produktif dan aman. Namun, ada hal perlu diingat bersama bahwa pandemi masih berlangsung, belum sepenuhnua normal dan masih ada potensi penularan virus. Sehingga kebiasaan menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan tidak memegang wajah dengan tangan masih harus dilakukan demi kebaikan bersama.

Saya berharap pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru ini kita bisa bersama-sama disiplin mematuhi protokol kesehatan, sehingga kita bisa terus produktif bekerja. Namun, kita tetap aman dari penyebaran virus Covid-19. Saya juga berharap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan terus mensosialisaikan berbagai peraturan dan mengajak serta masyarakat untuk dapat turut serta memberikan masukan dan saran di masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Selasa, 09 Juni 2020

Selamatkan Anak Indonesia dari Bahaya Rokok

Suatu malam saya menyaksikan acara televisi, dalam keseruan tiba-tiba datanglah jeda iklam. Ada iklan yang bercerita tentang hal yang positif, pesan-pesan inspiratif, dan menampilkan sosok seseorang yang keren. Namun, pada bagian akhir iklan tersebut, barulah diketahui kalau itu merupakan iklan rokok. Ya, betapa kreatifnya iklan rokok di masa saat ini. Tanpa didasari setiap harinya kita terpapar iklan rokok dalam berbagai media.


Pada momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei, tahun ini mengangkat tema "Lindungi Kaum Muda dari Manipulasi Industri dan Cegah dari Konsumsi Rokok dan Nikotin". Tema yang sesuai dengan keadaan Indonesia saat ini, di mana industri rokok leluasa dalam melakukan kegiatan promosi. Tanpa disadari di alam bawah sadar anak muda memberikan dampak peningkatan jumlah perokok muda.

Sehingga diperlukan edukasi untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya upaya melindungi anak muda dari target pemasaran rokok. Saya berkesempatan untuk mengikuti Webinar Workshop Online yang diselenggarakan Lentera Anak, sehingga dapat mengetahui seperti apa praktek industri rokok dalam menargetkan anak muda sebagai calon konsumen masa depan.

Webinar Workshop Online mengangkat tema "Membedah Fakta Kebohongan Industri Rokok di era Post-Truth" dengan tiga narasumber:

1. Kiki Soewarso merupakan staf Pengajar pada STIKOM LSPR Jakarta, bersama Tim Peneliti Stikom-LSPR membuat riset tentang Situasi & Tantangan Pengendalian Tembakau, khususnya Paparan Iklan Rokok di Internet.

2. Hariyadi merupakan Data & Analyst Officer Lentera Anak. Terlibat dalam sejumlah campaign di Lentera Anak, antara lain Cukai Zei Campaign (2017), Bank Iklan Rokok (2017), Telur VS Rokok Campaign (2018), dan Pilih Bicara Campain (2019-2020).

3. Mouhamad Bigwanto merupakan Staf Pengajar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat UHAMKA, dan Ketua Pusat Kajian Kesehatan UHAMKA. Aktif berkiprah di Organisasi, dimana saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum pada Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Fakta di Balik Pesona Iklan Rokok di Indonesia

Narasumber pertama Kiki Soewarso menjelaskan jika pada zaman dahulu iklan rokok hadir dengan top model, kini iklan rokok tak lagi menggunakan model. Pesan-pesan inspiratif dan kreatif dalam iklan rokok ternyata sukses membuat terjadinya peningkatan jumlah perokok pada remaja meningkat. Tak hanya melalui iklan di TV, tetapi juga melalui sponsorship, iklan secara offline dan online.

Pada periode tahun 2013-2018 terdapat peningkatan 0,7% pada usia 10-14 tahun dan 1,4% pada usia 15-19. Iklan-iklan rokok yang "menginspirasi" disaksikan oleh para anak muda Indonesia. Pada anak-anak berusia <18 tahun terpapar iklan rokok sebanyak 45,7% dari internet dan melalui TV sebesar 85%.  Tak hanya itu saja bahkan anak dan remaja <18 tahun terpapar iklan rokok melalui plang toko yang menjual rokok sebesar 74,2%.




Iklan di TV, acara musik, dan pembagian sampel gratis menjadi kegiatan promosi yang paling berhubungan dengan status perokok pada anak dan remaja usia <18 tahun. Hal ini membuat risiko anak-anak yang terpapar kegiatan promosi dan sponsor rokok menjadi perokok. Anak dan remaja berusia <18 tahun berpeluang 2,8x lebih besar menjadi perokok ketika melihat pembagian sampel rokok gratis.




Begitu juga ketika melihat promosi dan sponsor rokok di berbagai acara memiliki peluang 1,5x-2,5x lebih besar untuk menjadi perokok. Pada saat ini konsumsi media online per hari meningkat, sehingga menjadi salah satu media promosi iklan rokok. Pada video di YouTube 80,3%, website 58,4%, Instagram 57,2%, dan Game Online 36,4%. Hal ini akan membuat potensi 1,5x lebih besar, anak dan remaja berusia <18 tahun menjadi perokok.



Kesimpulan: Adanya hubungan antara terpaan iklan rokok terhadap sikap merokok remaja. Media online yang sering diakses anak muda digunakan untuk menempatkan iklan rokok. Remaja yang tidak merokok ada kemungkinan merokok, setelah melihat iklan rokok.

Regulasi Sponsorship Iklan Rokok

Narasumber kedua Hariyadi, Data & Analyst Officer Lentera Anak menjelaskan tentang regulasi sponsorship iklan rokok yang diatur oleh PP 109 tahun 2012. Pada aturan pada pasal 36 ayat 1 tersebut adanya larangan menggunakan merk dagang, logo, dan brand image untuk mempromosikan produk tembakau. Pada ayat dua menjelaskan kegiatannya juga  dilarang untuk diliput oleh media.

Pada kenyataannya sering ditemui adanya brand image dalam sponsor yang sama dengan brand image dalam iklan rokok. Para pasal 37 PP 109 terdapat penjelasan tentang brand image yang dimaksud: semboyan yang digunakan oleh produk tembakau dan warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas produk yang disebutkan. Terjadi pelanggaran dalam penyelenggaraan sponsorship, karena menggunakan nama merk dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk termbakau, bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau.


Pengaturan sponsorship dan CSR terkait perlindungan khusus bagi anak dan perempuan hamil, tercamtim.Pada PP 109 tahun 2012. Pada pasal 47 menjelaskan setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori oleh produk tembakau dan/atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau, dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun.

Regulasi iklan rokok di televisi tercantum pada pada PP 109 no 2012 pada pasal 29: "Selain pengendalian iklan produk tembakau sebagaimana dimaksud pada pasal 27, iklan di media penyiaran hanya ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat. Namun, belakangan ini acara pada sekitar pukul 21.30 ditonton oleh anak-anak.

Tobacco Advertising, Promotion, and Sponsorship ( TAPS) di Era 4.0 

Narasumber ketiga Mouhamad Bigwanto menjelaskan tentang Era 4.0 & Industri Rokok. Salah satunya dengan merk rokok elektrik yang dimiliki oleh perusahaan rokok besar di dunia. Kemudian iklan di era 4.0 menunjukan tren peningkatan total belanja iklan di TV relatif meningkat dan diprediksi belanja iklan digital akan semakin meningkat.

Termasuk juga tobacco advertising, promotion, and sponsorship ( TAPS) di era 4.0 menggunakan iklan promosi dan sponsorship di media sosial, endorsment, user generated content, konten film, artikel atau berita yang secara tidak langsung mempromosikan rokok & brand image rokok, dan membangun komunitas & menggaet anak muda lewat games.
Bahkan kini pada kasus rokok elektronik menjual rasa aman dibandingkan rokok biasa dan dapat membantu untuk berhenti merokok. Pada kegiatannya melakukan pencatutan logo, pembajakan nama kegiatan, dan bajak istilah & image

Senin, 01 Juni 2020

KFC Jualan Donat, Bagaimana Rasanya?

Membuka akun Twitter menjelang malam hari, terlihat adanya postingan yang awalnya aneh bagi saya. Ketika ada gambar donat dengan halus yang terdapat logo KFC. Sejenak saya terdiam dan bingung, "KFC jualan donat? Apakah donatnya jadi garing rasanya gitu? Rasa penasaran bertambah, ketika membuka aplikasi chatting, ada grup chatting yang membahas tentang Donat KFC.

Ada anggota grup yang mencoba memesan Donat KFC, tetapi ternyata hanya ada di gerai tertentu. Jarak gerai KFC yang menjual donat cukup jauh dari rumahnya, akhirnya niatnya memesan donat diurungkan. Saya jadi mencari tahu, gerai KFC mana saja di daerah Tangerang yang menjual Donat KFC.

Pada suatu kali saya keluar rumah untuk belanja mingguan ke supermarket, selesai belanja jadi terpikirkan untuk membeli donat KFC. Iseng-iseng membuka aplikasi ojek online, lalu melihat daftar menu KFC. Tak menyangka gerai KFC yang ada di seberang supermarket, ternyata menjual Donat KFC.

Kemudian saya langsung menuju KFC BSD Square, memasuki, lalu mengantre, dan tak lama sudah berada di depan petugas kasir. Ada dua pilihan paker untuk pembelian Donat KFC: paketan dengan Mocha Float (Rp17.000) dan paketan 6pcs donat (Rp27.000). Saya memesan paketan satu Donat Icing Sugar KFC dengan Mocha Float, berhubung awalnya masih ragu dengan rasa donat KFC. 

Tak lama setelah membayar, lima menit kemudian saya dipanggil petugas kasir untuk mengambil Donat KFC dan Mocha Float. Berhubung masih berlangsung PSBB di Tangerang Raya, belum bisa makan di tempat (dine-in), saya membawa pulang dan menyantap Donat KFC di rumah.
Donat KFC dibungkus dengan kertas berwarna putih bertuliskan "KFC Jagonya Ayam", cukup membingungkan, tak menggunakan tulisan lain pada kemasan.

Mencoba Rasa Donat KFC
Mencoba Rasa Donat KFC 

Saat membuka bungkusan akan terlihat Donat KFC dengan gula halus yang cukup tipis, agak berbeda dengan tampilan pada gambar di menu. Saat saya menikmati Donat KFC terasa tekstur yang cukup lembut, rasanya tak terlalu manis, dan cukup cocok bagi saya.

Seminggu kemudian saat waktunya belanja mingguan, saya kembali mampir ke KFC BSD Square dan kali ini untuk membeli 6 pcs atau 1/2 lusin Donat KFC. Selesai memesan dan mengambil kotak berisi donat, saya menyadari ada yang berbeda. 

Donat KFC Paket 6 Pcs
Donat KFC Paket 6 Pcs 

Ternyata Donat KFC dalam kemasan 6 pcs taburan gulanya lebih banyak dibandingkan donat satuan dengan paketan Mocha Float. Saya meminta orang tua untuk mencoba Donat KFC, ternyata dapat kesan yang baik karena tekstur donatnya empuk.

Kesimpulan:
Sekalipun KFC dikenal sebagai restoran cepat saji yang terkenal dengan hidangan ayam goreng, tetapi menu lain seperti donat cukup enak. Tekstur donatnya cukup lembut, terlebih harganya cukup terjangkau. Namun, ada perbedaan banyaknya taburan gula pada kemasan satuan dan kotak. Secara keseluruhan Donat KFC patut untuk dicoba.

Senin, 06 April 2020

Tunda Dulu Mudiknya untuk Kebaikan Bersama

Tidak terasa dalam waktu kurang dari satu bulan menjelang Ramadan. Biasanya saat-saat seperti ini, sudah mempersiapkan diri untuk mudik. Namun, tahun ini kondisinya sudah berbeda. Kondisi di mana pandemi terjadi, siapapun bisa terkena Covid-19. Bahkan saat kita sehat, ada potensi terpapar dan bahkan menjadi "carrier" bagi orang lain. Termasuk juga orang-orang terdekat kita.

Ada yang memesan tiket kereta api, tiket pesawat, dan transpotasi lainnya. Tak disangka, ada virus yang datang tanpa diundang membuat rencana perjalanan mudik perlu ditunda. Selain itu juga perjalanan kereta api, sudah ada rute--rute yang dibatalkan juga sejak awal bulan April.

Lama tak berjumpa dengan orang tua di kampung halaman, tentunya ada rasa rindu untuk bertemu. Namun, karena rasa sayang pada keluarga. Alangkah bijaknya, jika memutuskan untuk tidak mudik dulu.

Kita tidak ingin menjadi "carrier' jika mudik. Perlu peran serta kita bersama untuk mencegah merebaknya virus. Kita perlu kompak untuk menunda mudik demi kebaikan bersama.

Terlebih ketika sudah ada orang yang positif, sepulangnya dari Jakarta. Tentunya kita tak ingin semakin banyak orang yang terpapar virus kah? Terlebih jika orang itu keluarga kita.

Jika kita mudik pada tahun-tahun sebelumnya, pastinya bawa oleh-oleh khas tempat merantau.Dalam keadaan seperti saat ini, bisa jadi kita membawa oleh-oleh virus. Tentunya kita tak ingin membahayakan anggota keluarga di kampung halaman. Memang ada rasa kangen bertemu orang tua, tetapi sementara waktu ditahan dahulu ya.

Langkah bijak perlu kita ambil, sehingga tidak membawa "oleh-oleh" virus dari kota perantauan ke kampung halaman. Hal yang perlu kita pertimbangkan untuk menunda mudik dulu di tahun ini.

Terlebih jika orang tua dan saudara yang sudah lanjut usia, tentunya akan lebih rentan terpapar dan memiliki risiko dua kali lipat.

Sehingga keputusan untuk tidak demi kebaikan bersama. Bahkan bentuk rasa cinta kita pada orang tua dan saudara di kampung halaman.

Tidak mudik bukan berarti tidak rindu pada keluarga di kampung halaman, tetapi justru kita sayang dan peduli. Kesehatan keluarga menjadi yang lebih utama dalam kondisi saat ini.

Sejenak menahan rasa rindu pada keluarga di kampung halaman, tidak mudik untuk saat ini. Jika kondisi sudah kembali baik, barulah nanti mudiknya.

Kita perlu bersama-sama berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran. Melalui kesadaran diri untuk #TidakMudik sehingga tidak semakin menyebar luas.

Kita tak pernah tahu kondisi kesehatan kita, terlebih sebagian besar tak bergejala. Jika kita mudik ke kampung halaman, bisa jadi nanti menularkan ke anggota keluarga yang rentan.

Pada momen menjelang Idulfitri nanti, alangkah bijaknya jika kita tidak membawa oleh-oleh virus kepada keluarga dengan tidak mudik.

Lindungi keluarga dengan berkegiatan di rumah saja, karena bisa menyelematkan banyak orang. Termasuk juga anggota keluarga yang kita cintai.

Kalau masih kurang komunikasi via teks. Nanti lebarannya sambil makan ketupat dan opor ayam, sambil video call dengan keluarga yang ada di kampung halaman.

Ketika nanti wabah ini sudah berlalu, kita masih punya banyak waktu untuk pergi mudik. Melepas rindu dengan keluarga bisa lewat telepon atau video call dulu.

Pilih menjadi warga cerdas dengan berkegiatan di rumah, mudiknya ditunda dahulu. Tak lain tak bukan menunjukan rasa sayang kepada keluarga di kampung halaman.

Dibandingkan memilih mudik dan membawa virus, kita bisa berkegiatan di rumah saja. Salah satunya menonton aneka film dari layanan streaming. Perlu peran serta kita bersama untuk mengurungkan niat untuk mudik, bersama-sama cegah penyebaran virus ke berbagai daerah.

Kebijakan ini diambil untuk memutus rantai penyeberan. Kini saat kita turut serta dengan menunda mudik. Jika sudah di rumah saja, sudah jaga jarak, kini mudiknya ditunda dahulu. Sejenak menahan rasa rindu bertemu orang tua, pasti bisa kok.

Saat seperti inilah kita perlu bergotong royong, memang mudik sudah menjadi tradisi. Namun, jangan sampai mudik dengan membawa virus ke desa ya.
Kita tak perlu jadi kurir virus karena memilih mudik. Sayangi keluarga dan jangan sampai mereka.

Bersama-sama kita pasti bisa, menjaga diri kita, keluarga, dan orang di kampung halaman dengan menunda mudik. Langkah untuk menunda mudik sebagai langkah pencegahan, didukung berbagai pihak sehingga pandemi ini bisa teratasi dengan cepat.