Tampilkan postingan dengan label Sanitasi Aman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanitasi Aman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2019

Pentingnya Sanitasi Aman untuk Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan Stunting

Seringkali urusan sanitasi, masih dianggap sebagai "urusan belakang". Asalkan rumah bagian terlihat baik cukup, padahal ternyata tidak. Dalam rangka Hari Toilet Sedunia Sanitasi Aman, diperingati setiap tanggal 19 November  berlangsung acara Kumpul Blogger dan Vlogger dengan tema  "Sanitasi Aman, Mulai Kapan?"

Diawali dengan sesi pembukaan oleh Ibu Alifah Sri Lestari, Deputy Chief of Party USAID IUWASH PLUS menjelaskan pentingnya sanitasi aman berdampak pada kesehatan. Coba kita ingat, apakah di rumah ada Septic Tank? Lalu, Kapankah terakhir kali dikuras? Ternyata menguras Septic Tank secara berkala, setidaknya 2-3 tahun sekali penting dilakukan untuk terciptanya sanitasi aman. Dimulai dari rumah dengan memiliki septic tank yang kedap air dan dikuras secara berkala.



Selanjurnya Ibu Lina Damayanti, Advisor Bidang Advokasi dan Komunikasi USAID IUWASH PLUS. Jadi, ke manakah hasil buangan dari sanitasi kita? Idealnya ke Septic Tank. Namun, masih ada yang berakhir di sungai. Bahkan ada hasil dari sanitasi, ada yang pembuangannya di kantong plastik.


Sanitasi aman adalah sistem sanitasi yang memutus sumber pencemaran limbah domestik ke sumber air. Idealnya jarak antara septic tank dengan sumber air setidaknya 10 meter. Namun, pada lingkungan padat penduduk terutama di daerah perkotaan, jarak antar rumah relatif berdekatan. Sehingga muncul masalah keterbatasan lahan untuk pembuatan septic tank.

Kesadaran pentingnya santisasi aman di Indonesia ternyata belum diketahui semua masyarakat. Bahkan masih banyak yg belum. punya septitank di rumahnya. Padahal ada dampak langsung dari sanitasi yang tidak aman, salah satunya pada kesehatan.

Terdapat bakteri E. Coli pada setiap hasil pembuangan sanitasi.  Bahkan bisa berdampak pada stunting, gizi yang harusnya digunakan untuk perkembangan anak. Malahan digunakan untuk melawan bakteri.

Bahkan air yang kita gunakan masih bisa tercemari oleh hasil buangan sanitasi. Terlebih cukup banyak masyarakat tidak menggunakan air PDAM, sehingga apa yang kita buang, masih ada di sekitar kita, dan berpotensi mencemari air yang kita gunakan.

DR. Subekti SE, MM Direktur Utama PD PAL JAYA menjelaskan bahwa di Indonesia masih ada 25 juta orang yang buang air sembarangan. Provinsi DKI Jakarta sebesar 4% terkecil nomor dua. Baru Provinsi Yogjakarta merupakan provinsi Pertama yang sudah bebas dari BABS.



Saat ini memang rumah-rumah memang tersedia toilet. Namun, tak semua punya septiktank. Lalu, ke mana pergi limbahnya? Instalasi pengolahan lumpur tinja, saat ini berada di Duri Kosambi dan Pulogebang.
Masalah sanitasi terkait juga dengan sumber baku mutu air bersih, sehingga penting. Namun, terkadang terlupakan. Septic tank yang ada perlu disedot secara berkala, sudah ada PD PALJAYA yang bersedia menangani.

Dalam proses penyedotan sanitasi ada prosedurnya, sehingga tidak terjadi ledakan. Ke depannya DKI Jakarta akan memberikan subsidi untuk ketersediaan septic tank bagi masyarakat. Septic tank itu mengandung gas metan. Berhati² dan pastikan operator yang membersihkan mengenai alur pekerjaannya. Untuk menguras septitank,  jangan sampai habis sisakan sedikit! Agar bakteri pengurai didalamnya tetap ada dan bisa langsung bekerja.

Bu Zaidah Umami, Sanitarian Puskesmas Kecamatan Tebet yang merupakan bagian dari Kesehatan Masyarakat. Pemerintah memiliki program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk memicu masyarakat akan kesadaran sanitasi. Dalam satu hari setidaknya 0,5 kg hasil buangan sanitasi, jika selama 50 tahun bisa dibayangkan betapa banyak nantinya.


Pendekatan STBM bertujuan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat. STBM merupakan program sanitasi yang menyasar langsung ke tingkat rumah tangga, dan berfokus pada perubahan perilaku, bukan pembangunan sarana.

Melihat Keadaan Sanitasi di Tebet Timur, Jakarta Selatan

Setelah sesi talkshow, saya berkesempatan mengunjungi RT 08 RW 10 di Tebet Timur. Disambut oleh Bapak Sitam (Ketua RW 08) yang menjelaskan bahwa hanya 20% masyarakat di RW 08 yang memiliki septic tank yang aman. Kebiasaan masyarakat yang tinggal di sekitaran sungai, tak mau membangun septic tank, langsung saja buang air ke sungai, sehingga airnya kotor dan berbau.



Setelah diberikan pemahaman, akhirnya masyarakat menyadari pentingnya septic tank. Kini masyakat RW 08 memiliki IPAL Komunal untuk 160 rumah warga dengan bantuan dari USAID IWAS PLUS dan perusahaan swasta (Sinarmas), bahkan sempat dikunjungi oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat juga.

Namun, sisi lain sudah ada masyarakat yang memiliki kesadaran sendiri untuk membuat septic tank, bernama Pak Wahyono. Pak Wahyono merupakan salah satu warga yang membangun sanitasi pribadi menggunakan uang sendiri. Ia menyadari bahwa BABS Lebih bahaya. Akhirnya beliau memutuskan untuk membuat septitank dgn biaya sendiri sebesar 5 juta untuk membuat septiktank. Setelah melihat septiktank pribadi milik pak Wahyono.



Ada 3 kolam: kolam 1 untuk penampungan. Kolam berikutnya untuk penyaringan dan pengeluaran.  Sekarang pak Wahyono merasa hidupnya lebih bersih, sehat dan tak merasa bersalah dengan lingkungannya. Pak Wahyono juga mengajak tetangga yang tinggal di pinggir kali untuk membuat septic tank.

Selanjutnya Pak Santo, ketua RT menjelaskan perbedaan keadaan air di sisi kiri dan kanan yang sudah dan belum memiliki sanitasi yang aman. Sudah ada 12 rumah yang membangun septic tank sendiri dengan biaya 5-7 juta. Sekarang ini warga RW 08 mencari pembiataan untuk pembuatan IPAL sendiri. Agar masyarakat merasa memiliki IPAL, ada iuran 5.000 per kepala Keluarga untuk mengelola IPAL.


Ia pun bercerita cara edukasi yang ia lakukan bagi warganya untuk semakin bersih dan sehat lingkungan yang ada. Jika masalah sanitasi ini tak aman, maka nanti akan bermaslah terhadap baku mutu air tanah pada 5-10 tahun mendatang.

Proses pengurasan septic tank bisa ditangani oleh PD PAL Jaya, seperti inilah prosesnya dengan biaya yang cukup terjangkau. Penyedotan limbah tinja sebaiknya membersihkan septictank  2-3 tahun bergantung penghuni rumah. Biaya penyedotan septictank untuk 2.000m kubik adalah 330rb . Biaya tersebut bukan sekedar biaya sedot, tapi sudah termasuk biaya angkut dan biaya pengolahan limbah.



Inilah mobil PD PAL Jaya yang sedang melakukan penyedotan. Pak Bekti menjelaskan bahwa mobil PD PAL Jaya juga sering keliling ke pemukiman masyarakat, sehingga masyarakat sadar untuk melakukan penyedotan dan bisa meminta bantuan pada PD PAL Jaya.