Tampilkan postingan dengan label Kuliner Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2019

Mencicipi Nasi Gandul Bu Endang, Makanan Khas Pati Jawa Tengah

Pada suatu siang saya melewati suatu jalanan di Jakarta, terlihat ada warung Nasi Gandul. Namun, masih ragu untuk mencoba dan tak lama kemudian saya baru mengetahui Nasi Gandul adalah kuliner khas Pati Dari  postingan Facebook dari salah satu teman yang kebetulan, sedang ada di kota Pati. Sampai akhirnya ada yang merekomendasikan agar saya mencoba Nasi Gandul Bu Endang di Pesanggrahan, Jakarta Barat.

Nasi Gandul Bu Endang Makanan Khas Pati
Nasi Gandul Bu Endang Khas Pati

Berangkat dari Tangerang dengan KRL hingga Stasiun Pesing. Kemudian berjalan kaki menuju Halte Indosiar, sehingga bisa menggunakan bus Transjakrta. Pilihlah pintu untuk jurusan Harmoni-Lebak Bulus, lalu turun di Halte Kebon Jeruk.
Dari Halte Kebon Jeruk perjalanan saya, dilanjutkan dengan ojek online menuju Pesanggarahan. Driver ojek online cukup tahu letak tak Nasi Gandul Bu Endang, lalu mengonfirmasi kepada saya letaknya ada di dekat Restoran Layar.

Tampilan Depan Nasi Gandul Bu Endang
Tampilan Depan Nasi Gandul Bu Endang

Perjalanan ditempuh dalam waktu 10 menit, sampailah saya di Nasi Gandul Bu Endang. Terlihat spanduk di depan bertuliskan "Nasi Gandul Masakan Khas Pati Jawa Tengah Ibu Endang". Saya datang pukul 11.30 ke sana, terlihat belum banyak orang yang makan. Saya diberikan daftar menu, tak hanya Nasi Gandul saja. Namun, berbagai makanan khas Jawa Tengah lainnya juga tersedia.




Saya memesan Nasi Gandul, diberikan pilihan jika nasi ingin dipisah saja. Melihat ke bagian menu minuman, saya menemukan minuman yang unik bernama Sirup Kawista. Diberikan penjelasan oleh pelayan rasa Sirup Kawista mirip dengan Sarsaparilla, jadi tertarik untuk mencobanya.

Tak lama usai dipesan, Sirup Kawista sudah diantarkan ke meja, disusul dengan Nasi Gandul. Namun, tiba-tiba pelayan mengantarkan sebuag piring lagi, berisikan tempe goreng sebagai makanan pendamping (side dish). Terdapat empat tempe goreng kriuk yang bisa dinikmati, jika tidak berminat tak perlu diambil. Harga tempe gorengnya, belum termasuk dalam harga Nasi Gandul ya. Terdapat aneka pilihan makanan pendamping lain, seperti tahu bacem dan tempe bacem yang disediakan di meja.

Saat dinikmati bumbunya yang manis meresap daging sapi. Saat dikunyah pun terasa daging sapi yang empuk dan mudah digigit. Memang tak salah jika Nasi Gandul Bu Endang, dikenal paling enak di Jakarta. Dalam waktu cukup singkat seporsi Nasi Gandul sudah saya habiskan, ditemani dengan dua tempe goreng kriuk yang gurih.

Makanan Pendamping (Side Dish) Nasi Gandul Bu Endang
Makanan Pendamping (Side Dish)
 Nasi Gandul Bu Endang

Untuk menikmati seporsi Nasi Gandul dengan nasi dipisah dua tempe goreng kriuk, dan Sirup Kawista saya merogoh kocek sebesar Rp.42.000 saja. Untuk pembayaran hanya menerima uang tunai (belum menerima kartu debit, GoPay, OVO, dan sebagainya.)

Dari sisi harga mungkin bagi sebagian orang akan terasa agak mahal, pada sisi rasa bagi sebagian orang akan terasa kemanisan. Kembali pada selera setiap orang, bagi saya kadar manis bumbunya pada tingkat cukup. Mau coba Nasi Gandul makanan khas Pati? Silakan mampir ke Nasi Gandul Bu Endang di Jalan Pesanggrahan No 13, Kembangan, Jakarta Barat.


Jumat, 12 Oktober 2018

Nikmatnya Kuliner Rumahan khas Indonesia di Madame Lily

Kuliner Indonesia merupakan kekayaan budaya Indonesia, patut disyukuri dan dijaga. Bahkan beberapa hidangan Indonesia, hanya dimasak sebagai makanan rumahan. Sebuah ciri khas yang unik dan menarik, hal mengingatkan kita "kembali ke rumah". Sejenak mengingat dan menikmati makanan, saat dinikmati bersama anggota keluarga tercinta.

Seiring berjalannya waktu, rutinitas dan kesibukan dari kegiatan harian, membuat kita tak punya waktu menikmati masakan rumahan. Namun, tak perlu cemas karena sudah ada restoran yang menyajikan masakan rumahan khas Indonesia, salah satunya adalah Madame Lily. Berlokasi pada lantai 4 di Plaza Indonesia, restoran Madame Lily menawarkan pengalaman berbeda.



Menikmati kuliner Indonesia khas Rumahan (Homemade) menjadi pengalaman yang unik. Mulai hidangan pembuka Cireng Udang (Deep-Fried Tapioca & Shrimp Dough Balls Served with Sweet and Sour Chili Sauce) yang gurih, ditemani saus asam manis. Rasanya saat dinikmari, pedas manis cukup meresap pada cireng.


Tidak hanya itu saja, Tahu Gejrot bisa menjadi pilihan. Hidangan yang cukup dikenal di Cirebon, Jawa Barat ini menggunakan Tahu Sumedang Krispi. Saat dinikmati terasa merata aneka campuran bumbu, sehingga rasa asam, pedas, dan manis tercampur merata.



Pada hidangan utama, ada dua hidangan yang perlu dicoba Sapi Panggang Karo khas Medan, Sumatera Utara. Penggunaan daging sapi yang empuk pada bagian perut, diolah dengan proses marinasi dan dipanghang, serta disajikan dengan gulai daun singkong, dan Sambal Andaliman. Kemudian hidangan Bakmi Karo Cheese, Bakmi dengan daging Sapi Karo yang diberikan Keju Leleh (Melted Cheese).



Tidak hanya tersedia kuliner Indonesia, tetapi juga hidangan Western diberikan sentuhan citarasa Sambal Indonesia. Namun, sambal yang digunakan adalah sambal khas Bali, tetapi bukan Sambal Matah. Melainkan Sambal Mbe Bali yang merupakam jenis sambal rumahan penduduk di Bali, sehingga tidak mudah ditemui dengan mudah di restoran.



Saya mencicipi Spaghetti Tuna Sambal Mbe Bali, saat dinikmati terasa rasa sambal bawang yang manis dan pedas khas rumahan, berpadu dengan Spaghetti Tuna. Sambal Mbe sendiri berarti Sambal Bawang, tetapi pengolahan khas Bali menjadikan rasanya berbeda.

Tak lupa mencoba makanan khas Indonesia yang dinobatkan paling enak di dunia, Nasi Goreng Indonesia dengan penyajian ala "Street Food". Ada pilihan penggunaan Nasi Putih ataupun Nasi Merah, disertai dengan topping sosis, bakso, ayam, dan sayur-sayuran.


Usai menyantap hidangan utama, ditutup dengan nikmatnya hidangan Pisang Goreng Kremes: Pisang yang digoreng krispi diberikan taburan keju cheddar, meises, dan susu kental manis. Juga Martabak Red Velvet dengan perpaduan antara Cake Red Velvet dan Martabak, berisikan keju dan kacang.



Pengalaman yang mengesankan, saat menyantap hidangan kuliner rumahan khas Indonesia di Madam Lily. Sejenak meluangkan waktu dari rutinitas kegiatan harian, merasakan suasana masakan rumahan yang memberikan suasana serasa di rumah sendiri.

Rabu, 18 April 2018

Festival Jajanan Bango 2018, Persembahan 90 Tahun Kecap Bango Melestarikan Warisan Kuliner Indonesia

Tidak terasa Kecap Bango sudah hadir sejak tahun 1928 di Indonesia. Bertepatan dengan momen 90 tahun Bango, kembali digelar Festival Jajanan Bango. Festival Jajanan Bango tahun 2018 berlangsung ke-12 kalinya bertempat Jakarta dan Makassar. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2005, Festival Jajanan Bango berlangsung secara secara konsisten sebagai wujud komitmen Kecap Bango melestarikan warisan kuliner Indonesia. Tersedia 83 hidangan kuliner dari berbagi daerah Indonesia yang memanjakan para pecinta kuliner.

Festival Jajanan Bango 2018
Persembahan 90 Tahun Bango,
Festival Jajanan Bango 2018

Saya selalu menantikan terselenggaranya Festival Jajanan Bango. Bukan sekedar festival kuliner biasa, tetapi para pecinta kuliner juga bisa mendapatkan pengetahuan tentang perjalanan kecap Bango, kuliner khas Indonesia, dan berbagai rempah-rempah yang menjadi bahan dari berbagai hidangan nusantara. Pada Festival Jajanan Bango 2018 Jakarta di Ride and Park Thamrin 10, terdapat beberapa area: Kampung Soto, Pojok Kuah, Pojok Bakar, Pojok Kudapan, Pojok Kudapan, dan Pojok Cuci Mulut yang memudahkan pengunjung untuk mencari kuliner yang diinginkan.

Dekorasi Botol Kecap Bango
 Berukuran Besar

Pada area Kampung Soto menyediakan berbagai hidangan soto dari berbagai daerah, bahkan menurut Prof. Murdjiati Gardjito terdapat 75 jenis soto di Indonesia dan setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Dari beberapa hidangan soto yang tersedia, saya tertarik pada dua stand karena namanya agak berbeda:

1. Sroto Sokaraja khas Purwokerto, Jawa Tengah memiliki keunikan pada penggunaan ketupat dan sambal kacang. Jika saya terbiasa makan soto menggunakan nasi, kali ini sroto dinikmati bersama ketupat ditemani sambal kacang yang rasanya tidak terlalu pedas, tetapi gurih. Sroto Sokaraja tersedia dalam berbagai pilihan daging, babat, ayam, dan campur.

Sroto Sukaraja khas Purwokerto
Sroto Sukaraja
khas Purwokerto


2. Coto Makassar khas Makassar, Sulawesi Selatan memiliki keunikan pada bumbu yang "berasa" saat dinikmati, konon katanya terdiri dari 40 macam rempah-rempah yang memberikan rasa nikmat. Tersedia dalam pilihan daging sapi saja atau lengkap dengan babat dan jeroan.

Coto Makassar khas Sulawesi Selatan
Coto Makassar
khas Sulawesi Selatan

Setelah menikmati Coto Makassar yang nikmat, saya jadi ingin mengikuti Festival Jajanan Bango 2018 di Makassar  pada 5-6 Mei di Lapangan Karebosi. Baru mencicipi Coto Makassar dengan bumbu yang berasa di lidah, apalagi aneka kuliner khas Makassar lainnya pasti juga nikmat.

Setelah berkeliling Kampung Soto, saat saya berkeliling saya menemukan Pempek Ny. Kamto dari Yogyakarta. Pempek memang hidang khas dari Palembang, tetapi ada keunikan Pempek Ny.Kamto dari Yogyakarta. Pada kuah pempek (cuko) yang tersedia pilihan manis dan pedas. Bagi sebagian orang yang tidak menyukai rasa pedas, Pempek Ny. Kamto menjadi pempek favorit. Bahkan setelah saya mengabari teman di Festival Jajanan Bango ada Pempek Ny. Kamto, teman saya bergegas datang dari Pasar Minggu ke Thamrin.

Pempek Ny Kamto dengan Kuah Pempek Manis
Pempek Ny Kamto

Setelah menikmati aneka kuliner di Festival Jajanan Bango 2018, saya merasa belum kenyang jika belum makan nasi. Setelah berkeliling kemudian memutuskan menikmati Nasi Gudeg Jogja Laminten, sejenak serasa ada di Yogyakarta. Nasi Gudeg Jogja dengan rasa manis dan gurih memang lezat dan sukses membuat saya kenyang.



Sejenak beristirahat dan melihat stand-stand lainnya, pada area Pojok Bakar saya mencicipi Sate Maranggi "Tukang Masak" khas Purwakarta. Sate Maranggi memiliki keunikan pada bumbu hasil campuran tomat dan cabe yang diulek, berbeda dengan bumbu sate pada umumnya. Sayapun kembali melahap Sate Maranggi dengan rasa pedas, manis, dan asam yang menyatu pada bumbu. Ditemani dengan segarnya Es Oyen khas Bandung yang memberikan rasa segara dan manis, usai menikmati rasa pedas.

Sate Maranggi
khas Purwakarta


Es Oyen khas Bandung
Es Oyen khas Bandung

Sebelum pulang saya membeli Bacang Ny.Lena untuk dibawa pulang. Bacang yang cukup spesial dengan isiannya: kuning telor asin, jamur, dan ayam yang nikmat dan puas dimakan. Tersedia dalam pilihan bacang dengan beras dan beras ketan, karena bingung pilih yang akhirnya saya membeli Bacang Ny. Lena beras dan beras ketan.

Stand Bacang Nyonya Lena
Stand Bacang Nyonya Lena

Saya cukup puas menikmati aneka kuliner dengan berbagai keunikan dan ciri khas Indonesia. Selamat untuk Kecap Bango yang sudah hadir 90 tahun, turut melestarikan warisan kuliner Indonesia melalui Festival Jajanan Bango 2018!



Senin, 05 Maret 2018

Perpaduan Sempurna Citarasa Tiga Sambal Khas Indonesia dengan Menu Hokben

Citarasa sambal Indonesia tentu saja tak perlu lagi diragukan, bahkan bagi sebagian orang terasa "ada yang kurang" jika saat makan tanpa sambal. Bahkan sampai-sampai saat bepergian ke luar negeri, ada saja orang Indonesia yang membawa sambal. Sambal seakan-akan tak bisa lepas dari makanan Indonesia, aneka ragam sambal yang ada di Indonesia dari berbagai daerah. Saya sendiri saya menyukai Sambal Matah dari Bali, bahkan saat teman dari Bali datang ke Jakarta saya sering minta dibawakan Sambah Matah.


Betapa bahagianya saya ketika mengetahui, aneka sambal khas Indonesia sudah bisa dinikmati di Hokben. Saya pun penasaran dengan sambal yang tersedia di Hokben. Kebahagian saya semakin bertambah ketika berkesempatan menghadiri acara gathering yang diadakan oleh Hokben di gerai Hokben Tangerang Kota. Saya jadi tak sabar mencicipi aneka sambal khas Indonesia yang dipadukan dengan menu-menu dari Hokben.

Sesampainya di gerai Hokben Tangerang Kota, saya pun terkejut mengetahui bahwa ternyata gerai ini selama 24 jam. Saat memasuki gerai terlihat konsep Hokben Tangerang Kota yang modern dan kekinian dengan adanya pilihan tempat duduk dengan bangku tinggi dan bangku pendek. Acara gathering berlangsung di lantai 2 yang areanya cukup luas dan biasanya digunakan untuk acara ulang tahun anak-anak. Tepat pukul 11.00 acara pun dimulai dengan penjelasan dari Bu Kartini Mangisi, Communications Division Head Hokben menjelaskan profil singkat Hokben.

Hokben sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1985 dengan nama Hoka Hoka Bento, sejak tahun 2013 dilakukan peremajaan logo dari Hoka Hoka Bento menjadi Hokben dengan tetap mempertahankan karakter "Taro" dan "Hanako" pada logo.


Hokben sudah memperoleh sertifikat halal sejak tahun 2008, bahkan pada tahun 2017 Hokben meraih Sertifikat Sistem Jaminan Halal dari MUI, setelah tiga tahun berturut-turut mendapatkan nilai A. Hal ini pun yang memastikan produk berkualitas yang disajikan kepada masyarakat.

Pada kesempatan kali ini dengan inovasi produk berkualitas, Hokben memahami bahwa masyarakat Indonesia menyukai rasa pedas dan untuk menjawab hal tersebut maka Hokben memadukan makanan Jepang dan makanan khas Indonesia. Pak Jasata, Brand Activation Division Head Hokben memperkenalkan tiga varian sambal khas nusantara: Sambal Hijau, Sambal Bawang, dan Sambal Matah.


Untuk menikmati citarasa sambal Indonesia, Hokben memberikan pilihan dengan tiga pilihan paket Hoka Suka. Hoka Suka memberikan pilihan Yakitori Grilled, Ebi Furai, dan Chicken Katsu yang bisa dipilih ditemani kentang goreng kering, acar kuning, nasi, dan satu pilihan sambal khas Indonesia. Jika masih belum puas dengan satu jenis sambal, bisa mencoba dan menambah sambal juga. 






Saya pun secara langsung mencoba bebeberapa varian sambal khas Indonesia dengan menu Hokben. Rasanya nikmat tingkat kepedasan yang sedang, selain dalam pembelian paket Hoka Suka ternyata sambalnya bisa didapatkan dengan memesan menu lainnya juga. Seperti Shrimp Dumping ditemani dengan Sambal Bawang atau Sambal Matah.