Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Mei 2021

Untuk Indonesia Sehat, Kenali Manfaat Vaksinasi di Masa Pandemi

Vaksin menjadi perbincangan, karena diharapkan menjadi "Game Changer" di masa pandemi. Vaksin covid-19 yang saat ini dinantikan jadwal pemberiannya kepada seluruh masyarakat di Indonesia. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang masih ragu dengan manfaat dan aspek keamanan vaksin. Pada sisi lain pemberian vaksin pada anak jumlahnya menurun pada masa pandemi. Lalu, apa upaya yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat?

Pada momen Pekan Imunisasi Dunia 2021 (PID 2021) minggu ke-4 setiap tahunnya. Tahun ini PID 2021 berlangsung pada 24-30 April 2021 dengan mengangkat tema "Ayo Imunisasi, Bersatu Sehatkan Negeri". Saya berkesempatan untuk mengikuti, acara Temu Netizen Kesehatan pada momen Pekan Imunisasi Dunia. Acara diawali dengan narasumber pertama, yaitu: Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI): Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari Sp.A(K)., MTropPaed. Ia mengawali dengan penjelasan perbedaan antara vaksin, vaksinasi, dan imunisasi.

Menurut sejarah, bahwa vaksin pertama kalinya diberikan pada 14 Mei 1796 kepada seorang anak laki-laki (berusia 8 tahun). Kemudian WHO pada tahun 1974, melaunching PPI (Program Pengembangan Imunisasi. Sehingga setiap anak berusia kurang dari satu tahun, mendapatkan vaksinasi untuk perlindungan enam penyakit: Tubercolosis, Pertusis, Polio, Tetanus, Difteri, dan Campak.

Dalam pemberian vaksin, kualitas, kemanan, dan efektiviras vaksin sudah dipastikan dahulu oleh BPOM dan KIPI. Melalui uji klinis dan diberikan kepada manusia, sebelumnya diberikan kepada hewan dahulu. Vaksin mekanisme kerja, memicu sistem kekebalan tubuh. Menyerupai infeksi alami dengan komplikasi yang kecil.

Jika muncul KIPI terhadap vaksinasi akan dicatat dan diklasifikasikan. Namun, ada beberapa reaksi KIPI yang timbul bukan karena vaksinnya. Misalnya, rasa cemas saat akan divaksin. Khususnya pada vaksin Covid-19, pmberian vaksin tidak menjamin, bahwa seseorang akam terhindar dari terkena penyakit. Namun, memperingan gejala yang dialami, tidak sampai berat. Sehingga setelah divaksin, tetap perlu menerapkan protokol kesehatan.

Narasumber selanjutnya Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A., M.Sc, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Memaparakan pentungnya untuk melindungi anak-anak di masa pandemi dengan Imunisasi Kejar.

Prof Cissy menjelaskan manfaat vaksin kepada individu dan komunitas. Pemberian vaksin akan mencegah suatu penyakit, karena terbentuk kekebalan komunitas (Herd Immunity). Setiap penyakit memiliki angka cakupan vaksin berbeda, hingga akhirnya Herd Immunity dapat terbentuk. Misalnya, campak minimal 90% cakupan vaksin, karena sangat mudah menular.

Selama masih masa pandemi, vaksinasi pada anak perlu terus dilanjutkan. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Imunisasi Kejar atau imunisasi susulan, menyusulkan imunisasi yang tertunda.  Untuk mengejarnya, vaksin diberikan secara ganda. Jadwal vaksin dipersingkat. Jika imunisasi pada anak tidak dilaksanakan, maka kita akan menghadapi masalah baru, seperti KLB.

Narasumber ketiga dari WHO Indonesia, yaitu: dr. Olivia Silalahi memaparkan mengenai Upaya Dunia Mengoptimalkan Imunisasi Rutin dan Vaksinasi COVID- 19 di Masa Pandemi. Sekalipun masih masa pandemi, proses imunisasi perlu terus dilakukan dengan Imunisasi Kejar. Imunisasi rutin perlu dilakukan dengan penerapana protokol kesehatan. 



Pemberian imunisasi sudah diberikan secara aman, menggunakan sistem drive thru. Selain itu gedung sekolah yang tidak digunakan, bisa menjadi tempat pemberian imunisasi. Pemberian vaksinasi rutin pada anak, harus terus dilakukan. Kita tidak boleh lengah, sehingga terhindar dari kejadian KLB.

Kamis, 12 November 2020

Tetap Sehat dan Bugar dengan Bersepeda di Masa Pandemi, Begini Caranya

Pada momen menjelang Hari Kesehatan Nasional 12 November, berlangsung acara Seminar Online bareng komunitas sepeda "Yuk, sepedaan sehat dan aman di era adaptasi kebiasaan baru." pada Sabtu, 7 November 2020.  Diawali dengan penyampaian materi dari dr. Riskiana S. Putra, M.Kes selaku Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan menyampaikan  . Menjaga diri, menjaga keluarga, dan masyarakat untuk menyelamatkan bangsa dari pandemi Covid-19 dengan tekad menuju Indonesia Sehat.



Adaptasi kebiasaan baru dalam berolahraga. Dalam konsisi covid-19 dan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang negatif, berdampak pada akses pada kesehatan dan pangan yang menurun. Pak Riski mengajak masyarakat untuk bisa menghindari gejala gelaja akibat adanya penularan.

Berdasarkan hasil perilaku masyarakat di masa pandemi covid-19 BPS 2020 tentang persepsi responden atas efektivitas protokol kesehatan terhadap pencegahan terinfeksi COVID-19. Sebanyak 91,8% responden sudah menggunakan masker. Sedangkan responden yang tidak menerapkan protokol kesehetan, sebanyak 55% karena tidak ada sanksi jika menerapkan protokol kesehatan. 

Saat ini protokol kesehatan merupakan perlindungan kesehatab individu, selain menerapkan 3M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, dan Menggunakan Masker) ditambah konsumsi makanan bergizi seimbang, dan menjaga daya tahan tubuh. Istilahnya 3 Baik, 5 Sempurna. Diharapkan melalui penerapan adaptasi kebiasaan baru, maka kegiatan termasuk olahraga bisa berjalan. Sementara pengendalian penyakit bisa dikendalikan.

Azwar Hadi Kusuma, Founder Indonesia Folding Bike Community menjelaskan bahwa Indonesia Folding Bike Community adalah komunitas penggemar/pengguna sepeda lipat yang terbentuk tahun 2007 dengan 50.000 anggota di Facebook. Kini menjadi rumah besar bagi pengguna sepeda lipat di Indonesia.



Saat ini menghindari acara besar yang mengumpulkan banyak orang. Sebelum pandemi biasanya diadakan jambore dengan 1.800 peserta. Namun, karena pandemi kini diadakan secara virtual dan acara gowes bersama sementara dihindari. Acara gower virtual menggunakan suatu aplikasi, bersepeda sejauh jarak tertentu dan waktu beberapa hari. Baru hasilnya dilaporakan kepada panitia yang dicatat sebagai virtual gowes. Bisa bersepeda sendiri dengan waktu yang bebas.

Tips bersepeda yang aman di era pandemi, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum bersepeda:

1. Pastikan kondisi tubuh sehat dan bugar

2. Rencanakan rute gowes yang aman dan tidak terlalu ramai

3. Atur waktu bersepeda

4. Gunakan pakaian yang lebih tertutup (misalnya topi, kaos lengan panjang, dan celana panjang)

5. Siapkan perlengkapan keamanan sepeda (rem sepeda bekerja dengan baik)

6. Siapkan masker cadangan, hand sanitizer, air minum botol berpenutup)

Tips penting sewaktu bersepeda:

1. Usahakan gowes mandiri atau kelompok kecil maksimal 5 orang (orang yang sudah dikenal atau keluarga sendiri)

2. Gunakan helm, kacamata, dan masker (disarankan masker kain tiga lapis dan siapkan masker cadangan)

3. Menjaga jaga jarak belakang maupun samping (atur jarak dengan posisi zig zag, jangan lurus!)

4. Lakukan olahraga intensitas ringan sampai sedang (jangan terlalu berat, bersepedalah dengab santai)

5. Patuhi rambu-rambu lalu lintas

6. Hindari sosialisasi atau istirahat makan minum bareng

Sesampainya di rumah setelah bersepeda

1. Hindari kontak fisik dengan orang rumah

2. Lepas masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, helm, topi di luar rumah

3. Semprot desinfektan helm, kacamat, sepatu, dan sepeda

4. Segera mandi dan ganti baju

Poetut Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia. menjelaskan Bike to Work Indonesia dideklarasikan 27 Agustus 2005. Makna "Work" tidak sekedar untuk pekerja, tetapi didesain dan dimaknai "Work" semua aktivitas dan semua orang. Gerakan Bike to Work adalah gerakan massal untuk mengajak menggunakan sepeda sebagai alat mobilitas sehari-hari, utamanya ke tempat kerja. Jadi kalau pergi ke pasar boleh, sejak 2006 terjadi perubahan konsep menjadi social movement dengan jenis sepeda apapun dan ke manapun.



Sejak pandemi hanya ada pilihan olahraga yang bisa dilakukan di sekitar rumah: jalan kaki, lari, dan bersepeda karena bisa dilakukan secara individual. Hal ini berkembang terus hingga bersepeda menjadi populer seperti saat ini. Tetap prima selama bersepeda, kita perlu tetap menjaga diri kita dalam keadaan saat ini untuk menjaga imunitas.

Tidak sekadar sehat, tetapi juga pastikan bugar. Karena bugar membuat kita dalam mengelola kegiatan kita sebanyak mungkin dan produk menjalani kegiatan sehingga lebih baik. Sehat saja tidak cukup, orang bugar pasti sehat. Orang sehat pasti bugar. Salah satu cara menjaga kebugaran dengan bersepeda.

Bersepeda bisa dilakukan dari jarak dekat, mulai dari mini market dan ke tempat ibadah untuk membiasakan diri bersepeda. Ada atau tidak ya fasilitas, kita harus mulai bersepeda. 

Bersepeda dengan aman dan nyaman dengan mengenali sepeda (rem, tekanan ban, dan rantai), kenali diri (kondisi kesehatan dan kemampuan fisik), dan kenali lingkungan (kenali rutenya) Bersepeda harusnya membuat kita sehat, bukan menjadikan kita sakit.

Hindari dehidrasi dengan setiap 10-20 menit minum satu teguk, jangan menunggu haus, konsumsi 1,5 kali lebih banyak dari cairan tubuh yang keluar menjadi keringat. Perkiraan kebutuhan air selama satu jam sekitar 500-700 ml, kembali kepada diri kita sesuai dengan berat tubuh kita dan kecepatan bersepeda.


Selasa, 09 Juni 2020

Selamatkan Anak Indonesia dari Bahaya Rokok

Suatu malam saya menyaksikan acara televisi, dalam keseruan tiba-tiba datanglah jeda iklam. Ada iklan yang bercerita tentang hal yang positif, pesan-pesan inspiratif, dan menampilkan sosok seseorang yang keren. Namun, pada bagian akhir iklan tersebut, barulah diketahui kalau itu merupakan iklan rokok. Ya, betapa kreatifnya iklan rokok di masa saat ini. Tanpa didasari setiap harinya kita terpapar iklan rokok dalam berbagai media.


Pada momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei, tahun ini mengangkat tema "Lindungi Kaum Muda dari Manipulasi Industri dan Cegah dari Konsumsi Rokok dan Nikotin". Tema yang sesuai dengan keadaan Indonesia saat ini, di mana industri rokok leluasa dalam melakukan kegiatan promosi. Tanpa disadari di alam bawah sadar anak muda memberikan dampak peningkatan jumlah perokok muda.

Sehingga diperlukan edukasi untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya upaya melindungi anak muda dari target pemasaran rokok. Saya berkesempatan untuk mengikuti Webinar Workshop Online yang diselenggarakan Lentera Anak, sehingga dapat mengetahui seperti apa praktek industri rokok dalam menargetkan anak muda sebagai calon konsumen masa depan.

Webinar Workshop Online mengangkat tema "Membedah Fakta Kebohongan Industri Rokok di era Post-Truth" dengan tiga narasumber:

1. Kiki Soewarso merupakan staf Pengajar pada STIKOM LSPR Jakarta, bersama Tim Peneliti Stikom-LSPR membuat riset tentang Situasi & Tantangan Pengendalian Tembakau, khususnya Paparan Iklan Rokok di Internet.

2. Hariyadi merupakan Data & Analyst Officer Lentera Anak. Terlibat dalam sejumlah campaign di Lentera Anak, antara lain Cukai Zei Campaign (2017), Bank Iklan Rokok (2017), Telur VS Rokok Campaign (2018), dan Pilih Bicara Campain (2019-2020).

3. Mouhamad Bigwanto merupakan Staf Pengajar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat UHAMKA, dan Ketua Pusat Kajian Kesehatan UHAMKA. Aktif berkiprah di Organisasi, dimana saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum pada Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Fakta di Balik Pesona Iklan Rokok di Indonesia

Narasumber pertama Kiki Soewarso menjelaskan jika pada zaman dahulu iklan rokok hadir dengan top model, kini iklan rokok tak lagi menggunakan model. Pesan-pesan inspiratif dan kreatif dalam iklan rokok ternyata sukses membuat terjadinya peningkatan jumlah perokok pada remaja meningkat. Tak hanya melalui iklan di TV, tetapi juga melalui sponsorship, iklan secara offline dan online.

Pada periode tahun 2013-2018 terdapat peningkatan 0,7% pada usia 10-14 tahun dan 1,4% pada usia 15-19. Iklan-iklan rokok yang "menginspirasi" disaksikan oleh para anak muda Indonesia. Pada anak-anak berusia <18 tahun terpapar iklan rokok sebanyak 45,7% dari internet dan melalui TV sebesar 85%.  Tak hanya itu saja bahkan anak dan remaja <18 tahun terpapar iklan rokok melalui plang toko yang menjual rokok sebesar 74,2%.




Iklan di TV, acara musik, dan pembagian sampel gratis menjadi kegiatan promosi yang paling berhubungan dengan status perokok pada anak dan remaja usia <18 tahun. Hal ini membuat risiko anak-anak yang terpapar kegiatan promosi dan sponsor rokok menjadi perokok. Anak dan remaja berusia <18 tahun berpeluang 2,8x lebih besar menjadi perokok ketika melihat pembagian sampel rokok gratis.




Begitu juga ketika melihat promosi dan sponsor rokok di berbagai acara memiliki peluang 1,5x-2,5x lebih besar untuk menjadi perokok. Pada saat ini konsumsi media online per hari meningkat, sehingga menjadi salah satu media promosi iklan rokok. Pada video di YouTube 80,3%, website 58,4%, Instagram 57,2%, dan Game Online 36,4%. Hal ini akan membuat potensi 1,5x lebih besar, anak dan remaja berusia <18 tahun menjadi perokok.



Kesimpulan: Adanya hubungan antara terpaan iklan rokok terhadap sikap merokok remaja. Media online yang sering diakses anak muda digunakan untuk menempatkan iklan rokok. Remaja yang tidak merokok ada kemungkinan merokok, setelah melihat iklan rokok.

Regulasi Sponsorship Iklan Rokok

Narasumber kedua Hariyadi, Data & Analyst Officer Lentera Anak menjelaskan tentang regulasi sponsorship iklan rokok yang diatur oleh PP 109 tahun 2012. Pada aturan pada pasal 36 ayat 1 tersebut adanya larangan menggunakan merk dagang, logo, dan brand image untuk mempromosikan produk tembakau. Pada ayat dua menjelaskan kegiatannya juga  dilarang untuk diliput oleh media.

Pada kenyataannya sering ditemui adanya brand image dalam sponsor yang sama dengan brand image dalam iklan rokok. Para pasal 37 PP 109 terdapat penjelasan tentang brand image yang dimaksud: semboyan yang digunakan oleh produk tembakau dan warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas produk yang disebutkan. Terjadi pelanggaran dalam penyelenggaraan sponsorship, karena menggunakan nama merk dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk termbakau, bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau.


Pengaturan sponsorship dan CSR terkait perlindungan khusus bagi anak dan perempuan hamil, tercamtim.Pada PP 109 tahun 2012. Pada pasal 47 menjelaskan setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori oleh produk tembakau dan/atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau, dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun.

Regulasi iklan rokok di televisi tercantum pada pada PP 109 no 2012 pada pasal 29: "Selain pengendalian iklan produk tembakau sebagaimana dimaksud pada pasal 27, iklan di media penyiaran hanya ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat. Namun, belakangan ini acara pada sekitar pukul 21.30 ditonton oleh anak-anak.

Tobacco Advertising, Promotion, and Sponsorship ( TAPS) di Era 4.0 

Narasumber ketiga Mouhamad Bigwanto menjelaskan tentang Era 4.0 & Industri Rokok. Salah satunya dengan merk rokok elektrik yang dimiliki oleh perusahaan rokok besar di dunia. Kemudian iklan di era 4.0 menunjukan tren peningkatan total belanja iklan di TV relatif meningkat dan diprediksi belanja iklan digital akan semakin meningkat.

Termasuk juga tobacco advertising, promotion, and sponsorship ( TAPS) di era 4.0 menggunakan iklan promosi dan sponsorship di media sosial, endorsment, user generated content, konten film, artikel atau berita yang secara tidak langsung mempromosikan rokok & brand image rokok, dan membangun komunitas & menggaet anak muda lewat games.
Bahkan kini pada kasus rokok elektronik menjual rasa aman dibandingkan rokok biasa dan dapat membantu untuk berhenti merokok. Pada kegiatannya melakukan pencatutan logo, pembajakan nama kegiatan, dan bajak istilah & image

Selasa, 26 November 2019

Pentingnya Sanitasi Aman untuk Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan Stunting

Seringkali urusan sanitasi, masih dianggap sebagai "urusan belakang". Asalkan rumah bagian terlihat baik cukup, padahal ternyata tidak. Dalam rangka Hari Toilet Sedunia Sanitasi Aman, diperingati setiap tanggal 19 November  berlangsung acara Kumpul Blogger dan Vlogger dengan tema  "Sanitasi Aman, Mulai Kapan?"

Diawali dengan sesi pembukaan oleh Ibu Alifah Sri Lestari, Deputy Chief of Party USAID IUWASH PLUS menjelaskan pentingnya sanitasi aman berdampak pada kesehatan. Coba kita ingat, apakah di rumah ada Septic Tank? Lalu, Kapankah terakhir kali dikuras? Ternyata menguras Septic Tank secara berkala, setidaknya 2-3 tahun sekali penting dilakukan untuk terciptanya sanitasi aman. Dimulai dari rumah dengan memiliki septic tank yang kedap air dan dikuras secara berkala.



Selanjurnya Ibu Lina Damayanti, Advisor Bidang Advokasi dan Komunikasi USAID IUWASH PLUS. Jadi, ke manakah hasil buangan dari sanitasi kita? Idealnya ke Septic Tank. Namun, masih ada yang berakhir di sungai. Bahkan ada hasil dari sanitasi, ada yang pembuangannya di kantong plastik.


Sanitasi aman adalah sistem sanitasi yang memutus sumber pencemaran limbah domestik ke sumber air. Idealnya jarak antara septic tank dengan sumber air setidaknya 10 meter. Namun, pada lingkungan padat penduduk terutama di daerah perkotaan, jarak antar rumah relatif berdekatan. Sehingga muncul masalah keterbatasan lahan untuk pembuatan septic tank.

Kesadaran pentingnya santisasi aman di Indonesia ternyata belum diketahui semua masyarakat. Bahkan masih banyak yg belum. punya septitank di rumahnya. Padahal ada dampak langsung dari sanitasi yang tidak aman, salah satunya pada kesehatan.

Terdapat bakteri E. Coli pada setiap hasil pembuangan sanitasi.  Bahkan bisa berdampak pada stunting, gizi yang harusnya digunakan untuk perkembangan anak. Malahan digunakan untuk melawan bakteri.

Bahkan air yang kita gunakan masih bisa tercemari oleh hasil buangan sanitasi. Terlebih cukup banyak masyarakat tidak menggunakan air PDAM, sehingga apa yang kita buang, masih ada di sekitar kita, dan berpotensi mencemari air yang kita gunakan.

DR. Subekti SE, MM Direktur Utama PD PAL JAYA menjelaskan bahwa di Indonesia masih ada 25 juta orang yang buang air sembarangan. Provinsi DKI Jakarta sebesar 4% terkecil nomor dua. Baru Provinsi Yogjakarta merupakan provinsi Pertama yang sudah bebas dari BABS.



Saat ini memang rumah-rumah memang tersedia toilet. Namun, tak semua punya septiktank. Lalu, ke mana pergi limbahnya? Instalasi pengolahan lumpur tinja, saat ini berada di Duri Kosambi dan Pulogebang.
Masalah sanitasi terkait juga dengan sumber baku mutu air bersih, sehingga penting. Namun, terkadang terlupakan. Septic tank yang ada perlu disedot secara berkala, sudah ada PD PALJAYA yang bersedia menangani.

Dalam proses penyedotan sanitasi ada prosedurnya, sehingga tidak terjadi ledakan. Ke depannya DKI Jakarta akan memberikan subsidi untuk ketersediaan septic tank bagi masyarakat. Septic tank itu mengandung gas metan. Berhati² dan pastikan operator yang membersihkan mengenai alur pekerjaannya. Untuk menguras septitank,  jangan sampai habis sisakan sedikit! Agar bakteri pengurai didalamnya tetap ada dan bisa langsung bekerja.

Bu Zaidah Umami, Sanitarian Puskesmas Kecamatan Tebet yang merupakan bagian dari Kesehatan Masyarakat. Pemerintah memiliki program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk memicu masyarakat akan kesadaran sanitasi. Dalam satu hari setidaknya 0,5 kg hasil buangan sanitasi, jika selama 50 tahun bisa dibayangkan betapa banyak nantinya.


Pendekatan STBM bertujuan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat. STBM merupakan program sanitasi yang menyasar langsung ke tingkat rumah tangga, dan berfokus pada perubahan perilaku, bukan pembangunan sarana.

Melihat Keadaan Sanitasi di Tebet Timur, Jakarta Selatan

Setelah sesi talkshow, saya berkesempatan mengunjungi RT 08 RW 10 di Tebet Timur. Disambut oleh Bapak Sitam (Ketua RW 08) yang menjelaskan bahwa hanya 20% masyarakat di RW 08 yang memiliki septic tank yang aman. Kebiasaan masyarakat yang tinggal di sekitaran sungai, tak mau membangun septic tank, langsung saja buang air ke sungai, sehingga airnya kotor dan berbau.



Setelah diberikan pemahaman, akhirnya masyarakat menyadari pentingnya septic tank. Kini masyakat RW 08 memiliki IPAL Komunal untuk 160 rumah warga dengan bantuan dari USAID IWAS PLUS dan perusahaan swasta (Sinarmas), bahkan sempat dikunjungi oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat juga.

Namun, sisi lain sudah ada masyarakat yang memiliki kesadaran sendiri untuk membuat septic tank, bernama Pak Wahyono. Pak Wahyono merupakan salah satu warga yang membangun sanitasi pribadi menggunakan uang sendiri. Ia menyadari bahwa BABS Lebih bahaya. Akhirnya beliau memutuskan untuk membuat septitank dgn biaya sendiri sebesar 5 juta untuk membuat septiktank. Setelah melihat septiktank pribadi milik pak Wahyono.



Ada 3 kolam: kolam 1 untuk penampungan. Kolam berikutnya untuk penyaringan dan pengeluaran.  Sekarang pak Wahyono merasa hidupnya lebih bersih, sehat dan tak merasa bersalah dengan lingkungannya. Pak Wahyono juga mengajak tetangga yang tinggal di pinggir kali untuk membuat septic tank.

Selanjutnya Pak Santo, ketua RT menjelaskan perbedaan keadaan air di sisi kiri dan kanan yang sudah dan belum memiliki sanitasi yang aman. Sudah ada 12 rumah yang membangun septic tank sendiri dengan biaya 5-7 juta. Sekarang ini warga RW 08 mencari pembiataan untuk pembuatan IPAL sendiri. Agar masyarakat merasa memiliki IPAL, ada iuran 5.000 per kepala Keluarga untuk mengelola IPAL.


Ia pun bercerita cara edukasi yang ia lakukan bagi warganya untuk semakin bersih dan sehat lingkungan yang ada. Jika masalah sanitasi ini tak aman, maka nanti akan bermaslah terhadap baku mutu air tanah pada 5-10 tahun mendatang.

Proses pengurasan septic tank bisa ditangani oleh PD PAL Jaya, seperti inilah prosesnya dengan biaya yang cukup terjangkau. Penyedotan limbah tinja sebaiknya membersihkan septictank  2-3 tahun bergantung penghuni rumah. Biaya penyedotan septictank untuk 2.000m kubik adalah 330rb . Biaya tersebut bukan sekedar biaya sedot, tapi sudah termasuk biaya angkut dan biaya pengolahan limbah.



Inilah mobil PD PAL Jaya yang sedang melakukan penyedotan. Pak Bekti menjelaskan bahwa mobil PD PAL Jaya juga sering keliling ke pemukiman masyarakat, sehingga masyarakat sadar untuk melakukan penyedotan dan bisa meminta bantuan pada PD PAL Jaya.

Sabtu, 02 November 2019

Kenali Gejala Stroke, Segera Atasi Sedini Mungkin, dan Obati dengan Tepat


Penyakit stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian tertinggi, serta bisa dicegah. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 pada angka 10,9 per mil. Bahkan menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada tahun 2018 penyakit stroke menghabiskan pembiayaan 2,56 Triliun Rupiah.


Hari peringatan stroke sedunia diperingati setiap tanggal 29 Oktober, tema yang diangkat pada tahun 2019: #DontBeTheOne agar masyarakat tidak menjadi salah satu orang yang terkena stroke. Untuk di Indonesia hari peringatan stroke sedunia mengangkat tema 'Otak Sehat, SDM Unggul" untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan gejala stroke, mengatasinya secara dini, dan mengobati stroke dengan tepat. Untuk itulah berlangsung acara Temu Kesehatan bersama blogger di momen peringatan hari stroke sedunia di Jakarta.


Narasumber pertama Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan: dr.Cut Putri Arieane, MH.Kes menjelaskan tingkat prevalensi stroke secara rata-rata di Indonesia pada angka 12,1 per mil. Provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi (14,7 per mil) ada di Kalimantan Timur, Provinsi dengan tingkat prevalensi terendah ada di Papua (4,1 per mil. Sedangkan di Provinsi DKI Jakarta terbilang cukup tinggi di angka 12,2 per mil.


Penyakit stroke sebenarnya bisa dicegah dengan memperhatikan faktor risiko stroke: hipertensi, diabetes, saking jantung lain, merokok, narkotik, konsumsi alkohol, pola makan, dan kurang aktivitas fisik.

Kebijakan Kemenkes dengan melakukan promosi kesehatan untuk memberikan  informasi dan edukasi kepada masyarakat luas. Sehingga dapat mencegah faktor risiko agar tidak terjadi stroke, mengenali tanda awal terjadinya stroke, sehingga bisa mendapatkan pengobatan, dan jika sudah terkena segera diobati. Tujuan dari promosi kesehatan yang dilakukan Kementeriam Kesehatan untuk meningkatkan awereness bahwa stroke bisa dicegah, mengenali faktor risikonya.

Kementerian Kesehatan mendorong lebih ke deteksi dini dilakukan masyatakat, terlebih pada orang dengan gaya hidup berisiko, perlu lakukam deteksi dini satu bulan sekali, minimal pemeriksaan tekanan darah. Bisa diukur sendiri, jika memiliki alatnya. Jika tidak punya alatnya, bisa datang ke faskes primer dengan membawa kartu BPJS Kesehatan. Selain itu juga di satu desa ada satu pos bindu, kader-kader kesehatan yang akan membantu deteksi diri stroke melalui pemeriksaan hiertensi, diabetes, dan obesitas yang bisa menjadi penyebab stroke baik stroke sumbatan ataupun stroke pendarahan.

Cara mengenali Stroke dengan SeGeRaKeRS:
Senyum tidak simetris, sulit menelan air minum
Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba
BicaRa Pelo, tiba-tiba bicara tidak nyambung
Kebas/baal, kesemutan
Rabun, pandangan kabura
Sempoyongan/sakit kepala



Jika ditemukan gejala, segera bawa UGD yang ada di RS untuk mencegah terjadinya kecacatan permanen. Terapkan GERMAS berdasarkan Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan perilaku Hidup CERDIK untuk mencegah penyakit tidak menular, termasuk penyakit stroke:

C=Cek kesehatan secara berkala, E=Enyahkan asap rokok,
R=Rajin aktifitas fisik,
D=Diet sehat dengan kalori seimbang, I=Istirahat cukup
K= Kelola stress

Narasumber kedua Sekretaris Pokdi Stroke dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dr Al Rasyid SpS(K),  menjelaskan yang harus menjadi fokus bersama saat ini adalah pencegaja stroke. Jika sudah pernah terjadi stroke, cegah agar tidak terjadi lagi. Kenali diri sendiri dan anggota keluarga terdekat, jika ada mengalami gejala-gejala stroke.


Selain itu tanpa disadari kita mengonsumsi garam dalam jumlah tinggi yang berakibat terjadinya hipertensi (yang menjadi faktor risiko terbesar terjadinya stroke). Kita perlu bijak dalam konsumsi ikan asin dengan sambal, bisa jadi mengandung tambahan garam dan gula yang tinggi tak disadari.

Definisi stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal dengan gejala-gejala yang berlangung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebakan kematian.

Stoke tipe iskemik, stroke disebabkan karena adanya penyumbatan pembuluh darah di otak dan hemaragik/pendarahan. stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di otak.erdasarkan data Indonesia Stroke 2012-2024 memperlihatkan kejadian stroke iskemik/sumbatan 67% dan stroke hemagragik/pendarah 33%.

Ada faktor risiko stroke adalah hal-hal yang bisa mempercepat terjadinya serangan stroke, yaitu faktor risiko yang tidak bisa diubah  (umur, jenis kelamin pada pria lebih banyak, ras tertentu, dan genetik/riwayat keluarga). Namun, ada faktor risiko. yang bisa diubah (hipertensi, diabetes, penyakit stroke, merokok, stres, migrain, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan lainnya).



Semakin bertambah usia, harus semakin rajin periksakan gejala stroke. Jika ada mati rasa, lemah, lumpuh pada wajah, lengan atau kaki pada sisi tubuh, gangguan visual, gangguan bicara, tersandung jika berjalan, pingsan, dan koma segera datang ke rimah sakit agar dilakukan pemeriksaan dengan CT Scan.

Kesimpulan: Pada momen peringatan hari stroke sedunia pada 29 Oktober, mengingatkan kita untuk mengenali gejala stroke, segera atasi sedini mungkin, dan obati stroke dengan tepat. Untuk pencegahan penyakit stroke, terapkan perilaku hidup CERDIK (C=Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress).

Jumat, 01 November 2019

Semangat Anak-Anak Muda Pecahkan Rekor MURI bersama Nutriboost di Momen Hari Sumpah Pemuda

Dalam momen Sumpah Pemuda tahun ini, saya berkesempatan turut serta dalam merayakan dengan seru dan cara yang berbeda. Saya berkesempatan menjadi bagian dari 52.729 anak-anak muda lainnya di 6 kota di 71 titik yang tersebar di Indonesia untuk memecahkan rekor MURI.



Pada Sabtu, 26 Oktober 2019 di Jakarta Selatan, berlangsung pemecahan rekor Gowes Sepeda Statis untuk memecahkan rekor MURI dengan bersepeda statis selama satu menit. Bu Monika Puspitasari, Senior IMC Manager Dairy & Juice PT Coca-Cola Indonesia menjelaskan sejak 7 Agustus 2019, Nutriboost mengajak anak-anak muda Indonesia untuk membakar kalori dengan sepeda statis.


Melalui kegiatan Siap Gowes Nyalakan Semangat yang diselenggarakan sebagai bagian dari peluncuran Nutriboost, minuman susu rasa coklat dan rasa kopi berlogo, serta dengan semangat sumpah pemuda mengajak anak-anak muda aktif bergerak dan bersemangat.

Kegiatan Siap Gowes Nyalakan Semangat merupakan bagian peluncuran Nutriboost minuman susu rasa coklat dan rasa kopi berlogo VITA GO. Adanya logo VITA GO menandakan bahwa Nutriboost memiliki kandungan berbagai vitamin B3, B6, dan Zink yang baik untuk metabolisme dan pembentukan energi.

Pemecahan rekor bersepeda statis sudah  dilakukan sejak Agustus berlangsung di 6 kota di Indonesia dengan 71 titik dengan total 52.669 peserta:

-Jakarta di 17 titik dengan 13.045 peserta
-Surabaya di 14 titik dengan 9.877 peserta
-Makassar di 14 titik dengan 10.074 peserta
-Medan di 13 titik dengan 9.734 peserta
-Palembang di 1 titik dengan 347 peserta
-Bali di 13 titik dengan 9592 peserta

Pada Sabtu malam 26 Oktober 2019 sebanyak 60 anak-anak muda (termasuk saya) akan turut serta dalam bersepeda statis selama satu menit, sehingga rekor MURI dengan jumlah peserta terbanyak 52.729 peserta untuk kegiatan bersepeda statis terpecahkan. Saya pun turut bersemangat, terlebih dengan adanya NutriBoost yang memberikan tambahan asupan nutrisi yang tepat. Ada dua pilihan rasa kopi dan coklat, rasa favorit saya adalah Nutriboost rasa coklat.


Saya dan 59 anak-anak muda lainnya menggowes sepeda statis selama satu menit. Saking semangatnya, waktu pun berlalu dan akhirnya terpecahkanlah rekor MURI pada kegiatan Siap Gowes Nyalakan Semangat yang diselenggarakan Nutriboost.



Hadir pak Triyono, Senior Manager MURI mengesahkan kegiatan bersepeda statis terbanyak dengan 52.729 peserta terbanyak di Indonesia dan menyerahkan plakat pengahargaaan dengan nomor 9253/R.MURI/X atas pemecahan rekor kegiatan bersepeda statis terbanyak di Indonesia kepada Nutriboost.


Selama berlangsungnya kegiatan Siap Gowes Nyalakan Semangat yang berlangsung di 6 kota, ada hadiah yang diberikan kepada peserta dengan jumlah kalori terbanyak yang dibakar saat bersepeda statis selama satu menit. Salah satu di antara 10 besar peserta dengan pembakaran kalori terbanyak menerima hadiah, usai momen pemecahan rekor MURI.


Kegiatan pemecahan rekor Siap Gowes Nyalakan Semangat ditutup dengan penampilan Kahitna. Saya senang bisa menjadi bagian dari kegiatan positif Nutroboost, mengajak anak-anak muda seperti saya untuk aktif bergerak dan bersemangat dengan konsumsi Nutriboost rasa kopi dan coklat.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Momen Hari Kesehatan Jiwa, Saatnya Peduli dan Mencegah Bunuh Diri

Keadaan sehat pada umunya identik anggapan kesehatan tubuh, mulai terlihat dari fisik seseorang misalnya. Namun, ternyata sehat tak sekadar urusan tubuh, masih ingat dengan CERDIK: Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola Stres. Mengelola stres cukup dekat dengan urusan kesehatan jiwa, hal yang terkadang luput dari perhatian pentingnya kepedulian akan kesehatan jiwa.

Di momen menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day, Kementerian Kesehatan mengadakan acara Temu Blogger dengan tema "Mental Health Promotion and Suicide Prevention" pada 9 Oktober 2019 di Jakarta.

Diawali penjelasan dr. Fidiansyah Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan RI tentang kesehatan jiwa, seseorang dikatakan sehat hiwa jika, sehat secara pikiran dan jauh dari gangguan kejiwaan. Ada tiga pengertian tentang kesehetan kejiwaan: 1. Sehat jiwa 2. ODMK (orang dgn masalah kejiwaaan) 3. ODGK (orang dgn gangguan kejiwaan).

dr. Fidiansyah Direktur P2MLJN Kementerian Kesehatan
dr. Fidiansyah Direktur P2MLJN Kementerian Kesehatan


Berdasarkan Riskerdas 2013 prevalensi orang dengan gangguan kejiwaan berat adalah 1.7% dan prevalensi orang dengan gangguan mental sebesar 6 %Ada banyak faktor penyebab/masalah kejiwaaan: modernisasi, globalisasi kekerasan pada perempuan dan anak, kenakalan remaja, dan lainnya.

"Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya", UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Sehingga kesehatan ada empat aspek: fisik, mental, spiritual, dan sosialnya. Ada keterkaitan antara kesehatan fisim dan jiwa, ketika jiwa sehat, maka gisik juga sehat dan begitu juga sebaliknya.

Narasumber selanjutnya Novy Yulianty, MotherHope Indonesia, ia merupakan penyintas PPD (Pospartum Depression) yang beberapa kali ingin bunuh diri. Selama 2013- 2015 mengalami hari-hari yang berat pasca melahirkan caesar. Dalam pemikirannya ia harus melahirkan normal, tetapi ia harus melahirkan secara caesar.

Novy Yulianty, Mother Hope Indonesia
Novy Yulianty, Mother Hope Indonesia

Berlanjut dengan ASI yang tidak keluar dan tak bisa menggendong anaknya, ia sampai ketakutan ketika ada yang ingin berkunjung dan menayakan perihal ASI keluar banyak atau tidak. Rasa depresi berat dialami seorang Novy Yulianty, bahkan tak mau mengurus anaknya.

Depresinya yang dialami semakin berat, terlebih banyak stigma yang negatif ditujukan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Hingga ia menceritakan masalahnya kepada dosen pembimbing, ia pun juga seorang psiokolog dan mengikuti terapi.

Setelah pulih, ia masuk dalam komunitas MotherHope Indonesia dan menjadi psikolog relawan. Pada usia anaknya berusia 2,5 tahun akhirnya Bu Novy bisa merasa bagaimana mencintai anaknya. Komunitas memiliki fungsi yang penting, bisa menemukan anggota lain yang memiliki masalah yang serupa.

Mother Hope sering mengadakan kuliah Whatsapp, seminar, psikoedukasi, home visit, dan support group. Dalam komunitas Mother Hope banyak yang memiliki masalah yang serupa, sehingga bisa saling mendukung dan memahami.

Dilanjutkan narasumber ketiga, yaitu: Bu Gamayanti Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia menjelaskan kondisi gangguan jiwa bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada profesional (kesehatan) sekalipun. Fakta ya satu orang mati karen bunuh diri setiap 40 detik, ada 20 percobaan bunuh diri yang tidak terdata.

Gamayanti, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia
Gamayanti, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia

Di kalangan mahasiswa, orang-orang terdidik juga banyak terjadi bunuh diri pun, bahkan menjadi menjadi penyebab kedua kematian, setelah kecelakaan di usia 15-29 tahun. Kita sebagai teman, kakaj, adik, keluarga, dan bagian dari lingkungan perlu bekerjasama dalam mencegah orang yang mengalamu masalah kejiwaan untuk bunuh diri.

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkannya: saat kecil mengalami bullying, kekerasan fisik, mental, seksual, hilangnya sosok seorang ibu, diskriminasi sosial, dan .inimnya dukungan sosial  terhadap orang dengan masalah kejiwaan.
Seseorang yang merasa kesepian, tidak berguna, tidak berharga, perasaan lelah yang panjang dengan kehidupan ini me jadi pendorong seseorang untuk bunuh diri. Hal ini diperberat risikonya dengan adanya diskriminatif dan penghakiman ada seseorang dengan gangguan jiwa.

Belum lagi adanya tulisan atau cerita tentang bunuh diri yang tidak tepat, contohnya harakiri, ditunjukan sebagai sifat yang berani dan kesatria. Bunuh diri bisa menular. Ada beberapa tanda-tanda seseorang mengalami masalah kejiwaan: bicara tentang bunuh diri,  bicara tentang alat-alat bunuh diri, sulit makan/tidur, mundur dari kegiatan sosial, dan lain-lainnya.

Terlebih di era media sosial, status bukanlah hal yang privasi dan bisa dilihat banyak orang. Jika ada pembicaraan terkait keinginn bunuh diri, perlu segera direspon dan dicegah. Namun, memang tak mudah meyakinkan orang-orang di sekitarnya. Hal sederhana yang dapat kita lakukan dengan menunjukan empati, ajak bicara, bantu selesaikan masalah, ajak mencari bantuan professional.

Memang ada faktor risiko dari keturunan, tetapi tidak akan muncul kalau tidak terkumpul faktor/triggernya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang kesehatan jiwa bisa mencoba aplikasi Sehat Jiwa dari Kementerian Kesehatan dan menghubungi Hotline 1500-567 Kementerian Kesehatan. Masyarakat bisa bertanta tentang semua hal terkait kesehatan, termasuk kesehatan jiwa.

Sabtu, 14 September 2019

Aplikasi BPOM Mobile Memudahkan Masyarakat untuk Cek KLIK Sebelum Belanja

Berbelanja menjadi kegiatan yang sudah menjadi bagian dalam keseharian, urusan keperluan belanja rumah tangga biasanya dilakukan perempuan sebagai seorang ibu. Namun, ada saja terkadang barang yang persediannya habis dan terlupa dibeli saat belanja bulanan.

Sehingga akhirnya seorang ibu meminta bantuan anaknya yang kebetulan pergi ke mal, sekalian diminta mampir ke supermarket. Tak terkecuali saya diminta membeli saus tomat dan minuman serbuk dalam kemasan sachet.

Aplikasi BPOM Mobile, Cukup Scan untuk Mudahkan Cek KLIK
Aplikasi BPOM Mobile, Cukup Scan untuk Mudahkan Cek KLIK

Datanglah saya di hari Sabtu pada malam hari ke Lippo Mall Kemang, mal yang terkenal sebagai tempat nongkrong anak Jaksel. Ternyata di sana ada sebuah gerai supermarket, berbagai barang lengkap tersedia di sana. Saya pun sempat kebingungan menjadi rak bagian bumbu dapur dan minuman, saking luasnya area Hypermart.

Usai berbelanja di supermarket ternyata di area Avenue of Stars berlangsung acara talkshow bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tema yang diangkat pun cukup menarik, "Ayo Cek KLIK, Pilih Obat dan Makan yang Aman" bersama berbagai narasumber yang kompeten:

1. DR. IR. Penny K. Lukito, MCP, Kepala Badan POM RI

2. Tulus Abadi, Ketua YLKI

3. Ojak S. Manurung, SE, M, Kementerian Perdagangan

4. Fathurrahman, ST, Aprindo

5. Ussy Sulistawaty, Womenpreneur dan selebriti

Apa aja sih yang mesti di Cek KLIK? Bu Penny menjelaskan CEK KLIK yang dimaksud adalah Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek kedaluwarsa. Konsumen harus cerdas sebelum berbelanja. Selanjutnya pak Ojak menjelaskan peran pemerintah dalam hal pengawasan obat dan makanan sebagai: regulator, fasilitator, dan eksekutor.

Lalu pak Tulus dari YLKI mengatakan bahwa masyarakat berhak dapat obat, kosmetik, makanan yg aman. Namun, sebelum mendapatkan haknya masyarakat atau konsumen juga punya kewajiban, salah satunya mengecek kemasannya.

Diharapkan konsumen juga harus berdaya:
-Pertama saat tahap pra transaksi, cek dulu harganya, bahannya, bisa lewat inet, dan bertanya kepada teman.

-Kedua tahap saat transaksi, yakni liat kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa

-Ketiga, Jangan lupa pada saat pasca transaksi, kalau ternyata produknya cacat ya harus bicara, meminta tanggung jawaban ke toko dan pihak produsennya

Bapak Fathurrahman berbicara sebagi perwakilan dari ritel, ia menyampaikan bahwa dari sebelum masuk toko dan masuk toko, dilakukan pemeriksaan dahulu di gudang.

Ibu Penny mengatakan/ mengingatkan utk selalu cek label, pada label makanan saat inI kemasan produk harus mencantumkan tentang nutrisi. Lalu, jangan sampai sampai label itu menyesatkan masyarakat. Coba kita lihat ada kemasan-kemasan produk sudaj pasti ada nilai gizi, padahal dahulu hanya informasi komposisi saja.

Selanjutnya ada mbak Ussy tokoh publik sebagai wakil dari konsumen, ia berbagi cerita sudah memeriksa tanggal kedaluarsi produk yang dibelinya selama ini. Mbak Ussy juga menceritakan bahwa syarat produk yang ia terima untuk dendorse antara lain: bukan barang palsu dan harus ada izin BPOM.

Tantangan BPOM dalam sosialisasi Cek KLIK saat ini, yaitu:

1) Masyarakat belum sadar #BelanjaAman dengan Cek KLIK  sebelum membeli barang.

2) Semakin banyak ecommerce yang jualan kosmetik, obat, dan produk lainnya. Sehingga  BPOM juga punya cyber patrol untuk mengawasinya.

Karena banyaknya pelaku usaha pindah dari offline ke online yang merasa tidak diawasi, padahal ternyata sebenarnta diawasi oleh  Kementerian Perdagangan. Saat ini iIndeks konsumen di Indonesia saat ini ada di tingkat menengah: Mampu. Memahami hak dan kewajiban konsumen.

YLKI mengharapkan masyarakat aktif mengawasi produk yang selama ini beredar di pasaran. Siapa yang pernah belanja online, tetapi mendapatkan barang yang tak sesuai? Masih ingat kejadian beli hp, dapatnya sabun? Salah satu jenus aduan yang cukup sering diterima oleh YLKI di era digital tentang ketidaksesuaian barang.

Ibu Penny juga mengatakan bahwa BPOM mengharapkan masyarakat untuk aktif, terlebih saat ini ada QR Code pada produk khusunya obat dan vaksin. Konsumen bisa scan langsung melalui aplikasi BPOM Mobile.



Tips dari BPOM untuk mencegah supaya tidak salah belanja harus dibaca, dan belilahdi jalur yang legal (resmi), sudah terdaftar, dan di tempat-tempat yang memang baik. Kedua gunakan mata, pikiran, rasa kita saat beli produk. Jika ada yang mencurigakan jangan ragu untuk periksa di website BPOM ataupun melalui telepon ke call center, dan bahkan sudah bisa dicek di aplikasi.

Menurut Ibu Penny ada aplikasi BPOM Mobile dan pelaku usaha juga wajib memasang QR Code pada kemasan, dimulai secara bertahap dari produk berisiko tinggi seperti obat dan vaksin. Melalui aplikasi BPOM Mobile kita memeriksa produk yang dibeli dengan mudah dan melakukab pengaduan, jika kita menemui produk yang ternyata cacat atau ada masalah.


Aprindo sendiri juga punya komitmen KIE yakni, Komunikasi, Informasi, dan  Edukasi. Kemudian bersama menandatangani MOU dengan BPOM untuk penyerahan dan pemasangan banner. Komitmennya akan dilaksanakan seluruh ritel, saat ini anggota Aprindo berjumlah 40.000. Acara talkshow ditutup dengan pesan Bu Penny konsumen harus cerdas, jangan beli produk yang ilegal, sehingga tak ada lagi produk berbahaya yang terbeli. #AyoCekKLIK sebelum berbelanja.

Selasa, 03 September 2019

Selamatkan Anak Indonesia dari Bahaya Pneumonia

Penyakit Pneumonia mungkin nama penyakit yang cukup asing terdengar, tetapi diam-diam Pneumonia menjadi penyebab kematian bayi di bawah lima tahun (batita)  di Indonesia. Tak hanya bagi masyarakat awam, bahkan salah satu kader kesehatan di Kabupaten Bandung tak mengetahui secara detail Pneumonia, ia hanya mengetahui bahwa itu penyakit paru-paru. Dikarenakan tidak adanya program sosialisasi, kader kesehatan pun tidak tahu perbedaan TBC dan Brochitis dengan Pneumonia.

Mata saya pun berkaca-kaca saat membaca Brief Paper, berjudul Merdeka dari Pneumonia yang dibuat Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Partner Save the Children. Betapa tidak, penyakit Pneumonia belum cukup familiar di kalangan masyarakat awam, bahkan kader kesehatan. Namun, bahaya Pneumonia sudah demikian besar menjadi penyebab kematian kedua balita di Indonesia (setelah diare). Bahkan satu dari lima anak meninggal karena Pneumonia.

Sehingga pada 18 Agustus 2019 di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat berlangsung acara peluncuran kampanye nasional Stop Pneumonia. Saat sampai di tempat berlangsungnya acara, sekumpul ibu-ibu sedang menggerakan tangan dan kakinya dengan luwes tarian Cokek dalam mendukung kampanye nasional Stop Pneumonia.


Cerita dari Mama AR dari Kabupaten Sumba Barat tentang anaknya yang meninggal karena Pneumonia, membuat saya sejenak terdiam. Awalnya Mama AR tak mengetahui penyebab meninggal anaknya, tiba-tiba sang anak nafasnya pendek, dadanya terenggah-enggah, dan mengeluarkan bunyi nafas yang berat.
Terbayang-bayang rasa kehilangan orang terkasih, tanpa mengetahui  penyakit yang diderita. Betapa saya terenyuh menaruh empati pada cerita Mama AR, andaikan saja sang anak bisa ditangani sejak dini.

Mari, bersama kita kenali apa sebenarnya penyakit Pneumonia itu? Perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Madeleine Ramdhanu Jasin, Sp.A menjelaskan bahwa masyarakat awam familiar dengan istilah "penyakit paru-paru" basah, padahal ada banyak penyakit pernafasan pada anak-anak. Seringkali pun Pneumonia tertukar dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), padahal keduanya berbeda.

Pneumonia ditandai dengan gejala batuk, nafas cepat, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.  Sederhananya Pneumonia adalah kondisi infeksi paru-paru anak yang menyebabkan peradanhan. Jika ISPA terbatas pada saluran pernafasan atas (hidung dan tenggorokan, sedangkan pada Pneumonia termasuk infeski saluran pernafasan bawah. Infeksi menyebar hingga jaringan tisu paru-paru.

Secara global, jumlah kematian bayi di bawah lima tahun karena pneumonia pada tahun 2015 mencapai 920.000 jiwa, atau 2 balita setiap menitnya. Indonesia ada di peringkat 7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017. Dimana terdapat 25.481 kematian balita karena infeksi pernapasan akut, atau 17% dari seluruh kematian balita.

Di Indonesia, pneumonia adalah penyebab kematian balita setelah persalinan preterm. Sebesar 15.5% dari kematian balita di Indonesia disebabkan oleh pneumonia, dengan prevalensi tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur atau sebesar 38.5%

Pneumonia sangat erat kaitannya dengan kemiskinan dan kesenjangan. Di negara-negara maju, pneumonia menyebabkan anak-anak masuk rumah sakit, tetapi kasus yang fatal jarang. Sebaliknya di negara-negara miskin, pneumonia meningkatkan resiko kematian pada usia anak-anak.

Dikarenakan anak-anak yang miskin lebih jarang mendapatkan vaksinasi, memiliki gizi yang lebih buruk, dan tinggal di lingkungan beresiko. Selain itu, penanganan pneumonia membutuhkan perbaikan sistem kesehatan yang menyeluruh, termasuk memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Secara anggaran, mengobati pneumonia membutuhkan biaya yang sangat besar. Dengan perhitungan rata-rata 1,26 juta kasus pneumonia balita setiap tahun dari 2011 hingga 2016, biaya yang keluar untuk pengobatan mencapai Rp 91 miliar setiap tahunnya. Jika pneumonia bisa dicegah, biaya sebesar ini tentunya bisa dialokasikan untuk kegiatan atau program lain yang lebih efektif untuk mendukung pembangunan Indonesia.

Pengendalian pneumonia seperti yang tertuang dalam Global Action Plan for Pneumonia and Diarrhea (GAPPD) terdiri dari: perlindungan, pencegahan dan pengobatan.

-Perlindungan: melindungi anak dengan menerapkan praktek kesehatan yang baik sejak lahir melalui pemberian: air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan; nutrisi yang mencukupi; dan suplemen vitamin A.

-Pencegahan: mencegah anak-anak menjadi sakit pneumonia dan diare dengan: pemberian imunisasi pneumococcal conjugate vaccines (PCVs) disertai imunisasi pertussis, campak, HiB dan rotavirus; memastikan ketersediaan air minum dan sanitasi yang baik. Dengan membiasakan mencuci tangan dengan sabun; mengurangi polusi udara rumah tangga dan luar rumah; mencegah infeksi dari HIV.

-Pengobatan: mengobati anak-anak yang menderita pneumonia dan diare dengan pengobatan yang tepat. Hal ini didukung dengan membantu kelancaran pencarian pengobatan dan sistem rujukan antar fasilitas kesehatan; memperbaiki pengelolaan kasus pada tingkat fasilitas kesehatan dan komunitas; memastikan ketersediaan oralit, zinc, antibiotik dan oksigen; melanjutkan pemberian makanan dan ASI; membuka akses kepada fasilitas kesehatan dan asuransi kesehatan yang memadai.


Dukungan ayah dalam pengasuhan anak merupakan hal penting, termasuk dalam pemberian ASI dan penanganan anak ketika sakit. Seperti salah satu artis yang hadir, Bayu Oktara yang mendukung istrinya. Jika anak mengalami gejala nafas sesak, bisa jadi menderita Pneumonia. Segera ya diperiksakan ke layanan kesehatan terdekat.


Save The Children International di usia ke-100 tahun mengampanyekan STOP Pneumonia. Hadir dr. Windra Waworuntu M.Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI yang menjelaskan STOP:

-aSi ekslusif 6 bulan, tambahkan dengan MPASI hingga 3 tahun

-Tuntaskan imunisasi

-Obati anak jika sakit ke fasilitas kesehatan terdekat

-Pastikam kecukupan gizi anak.

Mari, bersama-sama kita kenali dan selamatkan anak Indonesia dari Pneumonia! Dengan menyampanyekan STOP Pneumonia. Agar Indonesia bisa sepenuhnya merdeka, merdeka dari pneumonia. Baik masyarakat awam, kader kesehatan, orang tua, dan berbagai pihak mendukung kampanye nasional Stop Pneumonia.

Sabtu, 27 Juli 2019

Lagi, HokBen Hadirkan Menu Baru untuk Mendukung Gaya Hidup Sehat: Salmon Guriru

Setelah beberapa waktu lalu HokBen menghadirkan menu sehat, yaitu: Tokyo Salad Bowl dan Furi-Furi Salad (yang menjadi menu yang kini langganan saya pesan). HokBen terus berinovasi untuk mendukung gaya hidup sehat masyarakat.

Pada 24 Juli 2019 saya diundang untuk datang ke store HokBen Kota Harapan Indah, Kota Bekasi. Saya diperkenalkan dengan menu sehat dan oishii terbaru HokBen, berbahan dasar ikan dengan nama Salmon Guriru (dalam bahasa Jepang "Guriru" memiliki arti dipanggang). Sekalipun menu yang sehat, tak perlu ragu akan rasa dari makanan di HokBen.

Salmon Guriru HokBen dan Salad
Salmon Guriru HokBen dan Salad

Ikan salmon memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, sebagai sumber protein berkualitas yang kaya akan lemak sehat omega 3, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan kulit dan daya ingat. Sehingga HokBen menghadirkan menu berbahan dasarkan ikan salmon, bernama Salmon Guriru untuk  menjawab kebutuhan akan akan menu gaya hidup sehat masyarakat.

Salmon Guriru HokBen dengan Salad dan Dressing
Salmon Guriru HokBen dan Salad dengan Dressing

Ada unik dari Salmon Guriru HokBen dalam proses pembuatannya. Karena daging salmon fillet (100 gram) dipanggang bersama saus teriyaki. Kemudian disajikan lengkap dengan salad dan irisan lemon sebagai pelengkap. Saat menikmati salad, HokBen menyediakan tiga pilihan dressing: HokBen original mayonaisse, Japanese Dressing, dan Shiza Dressing (Japanese Dressing menjadi favorit saya, bagaimana denganmu?)

Tiga Pilihan Dressing Salad Salmon Guriru
Tiga Pilihan Dressing Salad Salmon Guriru

Untuk menambah kenikmatan Salmon Guriru, disarankan untuk disantap dengan nasi putih. Saya sudah mencoba nikmatnya Salmon Guriru, perasan air lemon memberikan citarasa yang segar saat disantap berpadu meresapnya saus teriyaki, dan dinikmati bersama nasi putih.

Salmon Guriru dengan Nasi Putih HokBen
Salmon Guriru dengan Nasi Putih HokBen

Menu Salmon Guriru sudah bisa dinikmati (dine in only) pada 23 store HokBen di Jabodetabek sebagai berikut:

PIM 1 Transyogi Cibubur Puri Indah Mall Bogor Padjajaran Artha Gading
Cibubur Junction Botani Square Summarecon Bekasi Summarecon Boulevard, Bekasi Pluit
Gajah Mada Plaza Mall Taman Anggrek Central Park Margonda Mall Kelapa Gading
Karawaci Alam Sutera BSD Square Summarecon Serpong Harapan Indah
Kartika Chandra WTC Setiabudi One


Namun, terbuka kesempatan dalam waktu dekat Salmon Guriru juga tersedia di lebih banyak store HokBen. Untuk menyantap menu sehat Salmon Guriru yang sehat dan oshii (nikmat) dengan harga Rp80.000 saja.

Nikmatnya Salmon Guriru HokBen
Nikmatnya Salmon Guriru HokBen

Salmon Guriru Menu Sehat HokBen
Salmon Guriru Menu Sehat Terbaru HokBen

Menu sehat Salmon Guriru terbaru dari HokBen, dipastikan berkualitas dan halal. Semua sajian HokBen sudah bersertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesian dan teruji sesuai dengan standar keamanan pangan. Jadi, tak perlu ragu lagi! Mari, datang ke gerai HokBen terdekat di Jabodetabek untuk mencoba Salmon Guriru!