Tampilkan postingan dengan label Kementerian Perhubungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kementerian Perhubungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2020

Tetap Produktif dan Aman di Fase Adaptasi Kebiasaaan Baru

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berlalu tanpa terasa tiga  bulan lebih berlalu. Sejak pertama kali kasus pasien positif COVID-19 pertama kalinya terkonfirmasi ada di Indonesia, hal yang awalnya sempat cukup mengejutkan banyak orang. Perlahan demi perlahan jumlah kasus positif terkonfirmasi bertahan, kemudian pemerintah mengambil berbagai kebijakan untuk melindungi masyarakat. Masyarakat diminta untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah.

Hingga akhirnya pada beberapa daerah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi berbagai kegiatan yang boleh dilakukan masyarakat.Salah satunya Kementerian Perhubungan mengatur perihal protokol penggunaan kendaraan umum dan pribadi yang diizinkan. Pemberlakuan aturan demi aturan dilakukan demi kebaikan bersama.

Masa pandemi ini berdampak besar perekonomian, mengingat masyarakat diharus untuk lebih banyak di rumah saja, demi memutus rantai penyebaran virus covid-19. Berbagai lapisan masyarakat yang bekerja di berbagai sektor merasa dampak, bahkan ada yang kehilangan pekerjaan.

Pemerintah tak tinggal diam dengan memberikan berbagai bantuan sosial kepada masyarakat yang kurang mampu. Berbagai tempat keramaian tidak diizinkan beroperasi, berbagai tempat makan hanya diizinkan untuk takeaway & delivery, dan berbagai pembatasan lainnya.


Memasuki awal bulan Juni secercah harapan pun datang, tingkat penyebaran virus COVID-19 pada berbagai daerah menurun. Sehingga adanya potensi untuk memasuki transisi menuju fase Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal). Fase di mana masyarakat sudah bisa kembali menjalankan sebagian aktivitas perekonomian dengan memperhatikan pelaksanaan protokol kesehatan.


Pandemi diprediksi oleh WHO akan masih berlangsung lama, setidaknya hingga obat atau vaksin nantinya ditemukan. Sambil kita bersama-sama menantikan saatnya akan tiba, kini yang bisa lakukan dengan berkegiatan secara produktif. Namun, tetap aman dengan melaksanakan berbagai protokol kesehatan yang diberlakukan.

Kegiatan perekonomian secara bertahap sudah dimulai kembali. Perkantoran sudah kembali berangsur normal dengan jumlah karyawan yang masuk 50%, gerai makanan mandiri sudah bisa kembali melayani dine-in (makan di tempat), pusat perbelanjaan & tempat rekreasi kembali dibuka, adanya perubahan aturan kapasitas angkut transportasi umum & pribadi, dan sebagainya.

Memasuki menuju fase Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal) membuat kita perlu beradaptasi akan kebiasaan baru, termasuk saya. Pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru saat menggunakan angkutan umum, kita harus disiplin dan mematuhi peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan. Misalnya, menjaga jarak saat duduk atau berdiri di dalam bus atau kereta dan tidak dipekenankan untuk berbicara selama ada di dalam bus atau kereta.


Memang awal tak mudah dan belum terbiasa, tetapi kita bersama-sama pasti bisa beradaptasi dengan protokol kesehatan yang diberlakukan di transportasi umum. Sehingga kita bisa kembali produktif bekerja di kantor dan perekonomian Indonesia bisa terus berkembang.

Tetap produktif dan aman. Namun, ada hal perlu diingat bersama bahwa pandemi masih berlangsung, belum sepenuhnua normal dan masih ada potensi penularan virus. Sehingga kebiasaan menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan tidak memegang wajah dengan tangan masih harus dilakukan demi kebaikan bersama.

Saya berharap pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru ini kita bisa bersama-sama disiplin mematuhi protokol kesehatan, sehingga kita bisa terus produktif bekerja. Namun, kita tetap aman dari penyebaran virus Covid-19. Saya juga berharap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan terus mensosialisaikan berbagai peraturan dan mengajak serta masyarakat untuk dapat turut serta memberikan masukan dan saran di masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Senin, 06 April 2020

Tunda Dulu Mudiknya untuk Kebaikan Bersama

Tidak terasa dalam waktu kurang dari satu bulan menjelang Ramadan. Biasanya saat-saat seperti ini, sudah mempersiapkan diri untuk mudik. Namun, tahun ini kondisinya sudah berbeda. Kondisi di mana pandemi terjadi, siapapun bisa terkena Covid-19. Bahkan saat kita sehat, ada potensi terpapar dan bahkan menjadi "carrier" bagi orang lain. Termasuk juga orang-orang terdekat kita.

Ada yang memesan tiket kereta api, tiket pesawat, dan transpotasi lainnya. Tak disangka, ada virus yang datang tanpa diundang membuat rencana perjalanan mudik perlu ditunda. Selain itu juga perjalanan kereta api, sudah ada rute--rute yang dibatalkan juga sejak awal bulan April.

Lama tak berjumpa dengan orang tua di kampung halaman, tentunya ada rasa rindu untuk bertemu. Namun, karena rasa sayang pada keluarga. Alangkah bijaknya, jika memutuskan untuk tidak mudik dulu.

Kita tidak ingin menjadi "carrier' jika mudik. Perlu peran serta kita bersama untuk mencegah merebaknya virus. Kita perlu kompak untuk menunda mudik demi kebaikan bersama.

Terlebih ketika sudah ada orang yang positif, sepulangnya dari Jakarta. Tentunya kita tak ingin semakin banyak orang yang terpapar virus kah? Terlebih jika orang itu keluarga kita.

Jika kita mudik pada tahun-tahun sebelumnya, pastinya bawa oleh-oleh khas tempat merantau.Dalam keadaan seperti saat ini, bisa jadi kita membawa oleh-oleh virus. Tentunya kita tak ingin membahayakan anggota keluarga di kampung halaman. Memang ada rasa kangen bertemu orang tua, tetapi sementara waktu ditahan dahulu ya.

Langkah bijak perlu kita ambil, sehingga tidak membawa "oleh-oleh" virus dari kota perantauan ke kampung halaman. Hal yang perlu kita pertimbangkan untuk menunda mudik dulu di tahun ini.

Terlebih jika orang tua dan saudara yang sudah lanjut usia, tentunya akan lebih rentan terpapar dan memiliki risiko dua kali lipat.

Sehingga keputusan untuk tidak demi kebaikan bersama. Bahkan bentuk rasa cinta kita pada orang tua dan saudara di kampung halaman.

Tidak mudik bukan berarti tidak rindu pada keluarga di kampung halaman, tetapi justru kita sayang dan peduli. Kesehatan keluarga menjadi yang lebih utama dalam kondisi saat ini.

Sejenak menahan rasa rindu pada keluarga di kampung halaman, tidak mudik untuk saat ini. Jika kondisi sudah kembali baik, barulah nanti mudiknya.

Kita perlu bersama-sama berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran. Melalui kesadaran diri untuk #TidakMudik sehingga tidak semakin menyebar luas.

Kita tak pernah tahu kondisi kesehatan kita, terlebih sebagian besar tak bergejala. Jika kita mudik ke kampung halaman, bisa jadi nanti menularkan ke anggota keluarga yang rentan.

Pada momen menjelang Idulfitri nanti, alangkah bijaknya jika kita tidak membawa oleh-oleh virus kepada keluarga dengan tidak mudik.

Lindungi keluarga dengan berkegiatan di rumah saja, karena bisa menyelematkan banyak orang. Termasuk juga anggota keluarga yang kita cintai.

Kalau masih kurang komunikasi via teks. Nanti lebarannya sambil makan ketupat dan opor ayam, sambil video call dengan keluarga yang ada di kampung halaman.

Ketika nanti wabah ini sudah berlalu, kita masih punya banyak waktu untuk pergi mudik. Melepas rindu dengan keluarga bisa lewat telepon atau video call dulu.

Pilih menjadi warga cerdas dengan berkegiatan di rumah, mudiknya ditunda dahulu. Tak lain tak bukan menunjukan rasa sayang kepada keluarga di kampung halaman.

Dibandingkan memilih mudik dan membawa virus, kita bisa berkegiatan di rumah saja. Salah satunya menonton aneka film dari layanan streaming. Perlu peran serta kita bersama untuk mengurungkan niat untuk mudik, bersama-sama cegah penyebaran virus ke berbagai daerah.

Kebijakan ini diambil untuk memutus rantai penyeberan. Kini saat kita turut serta dengan menunda mudik. Jika sudah di rumah saja, sudah jaga jarak, kini mudiknya ditunda dahulu. Sejenak menahan rasa rindu bertemu orang tua, pasti bisa kok.

Saat seperti inilah kita perlu bergotong royong, memang mudik sudah menjadi tradisi. Namun, jangan sampai mudik dengan membawa virus ke desa ya.
Kita tak perlu jadi kurir virus karena memilih mudik. Sayangi keluarga dan jangan sampai mereka.

Bersama-sama kita pasti bisa, menjaga diri kita, keluarga, dan orang di kampung halaman dengan menunda mudik. Langkah untuk menunda mudik sebagai langkah pencegahan, didukung berbagai pihak sehingga pandemi ini bisa teratasi dengan cepat.

Rabu, 04 Maret 2020

Lebih Dekat dengan KPLP, Sang Penjaga Keamanan Wilayah Perairan Indonesia

Laut dan pantai Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang besar, tak sekadar keindahannya. Namun, juga keanekaragaman hewan yang hidup dan sumber daya alam yang tersimpan merupakan hal yang begitu berharga.
Aktivitas perekonomian berjalan di laut dan pantai, banyak kapal yang hilir mudik dengan berbagai keperluan. Sehingga perlu adanya upaya penjagaan yang dilakukan terhadap aktivitas kapal yang berlayar, agar mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang berlaku.

Berlatarbelakang hal itulah, hadirnya Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) atau Indonesia Sea And Coast Guard. Lembaga yang menjalankan fungsi penjagaan dan penegakan peraturan perundang-undangan di laut dan pantai.
KPLP sempat mengalami pergantian nama,  hingga akhirnya pada 1973 kembali menjadi KPLP. Tanggal 30 Januari menjadi tanggal diperingatinya hari lahir KPLP, pada tahun 2020 KPLP sudah memasuki usia ke-47 tahun.

KPLP Sang Penjaga Keamanan Wilayah Perairan Indonesia
KPLP Sang Penjaga Keamanan Wilayah Perairan

Acara puncak peringatan KPLP ke-47 berlangsung pada 26 Februari 2020 di Jakarta. Saya berkesempatan untuk menghadiri acara tersebut dan mengenal KPLP lebih dekat dalam menjalankan tugasnya. Direktur Jendral Perhubungan Laut, pak Agus H. Purnomo  saat upacara menyampaikan  KPLP merupakan lembaga yang sudah ada sejak sebelum perang dunia ke-2 tahun 1942 dan lembaga tertua di Indonesia.

Dharma Jala Praja Tama menjadi semboyan KPLP yang bermakna insan bahari selalu berusaha menjalankan pengabdian yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Semboyan yang selalu dipegang teguh dan dijadikan pedoman bagi personil KPLP dalam menegakan fungsi penjagaan dan penegakan hukum untuk menjamin keselamatan dan keamanan di perairan Indonesia.

KPLP secara teknis operasional berada di Kementerian Perhubungan dan bertanggung jawab kepada presiden (sesuai Undang-Undang Pelayaran No 17 Tahun 2008). KPLP memiliki tugas antara lain:
1. Melakukan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran
2. Melakukan pengawasan, pencegahan, dan penanggulangan pencemaran di laut
3. Pengawasan dan penertiban kegiatan serta lalu lintas kapal
4. Pengawasan dan penertiban kegiatan salvage, pekerjaan bawah air, serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut
5. Pengamanan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran
6. Mendukung pelaksanaan kegiatan pencarian dan pertolongan jiwa di laut.

Untuk menjalankan semua tugas itulah, UU 17 Tahun 2008 juga memberikan kewenangan kepada KPLP untuk melaksanakan patroli laut, melakukan pengejaran seketika (hot pursuit),  memberhentikan kapal di laut, serta melakukan penyidikan sebagai Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Dalam melaksanakan tugasnya, KPLP didukung oleh prasarana berupa 5 Pangkalan Penjagaan
Laut dan Pantai (PLP), yaitu :
1. Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok
2. Pangkalan PLP Kelas II Tanjung Uban
3. Pangkalan PLP Kelas II Tanjung Tanjung Perak
4. Pangkalan PLP Kelas II Bitung
5. Pangkalan PLP Kelas II Tual

Selain itu, saat ini Ditjen Perhubungan Laut memiliki 373 unit kapal patroli yang tersebar di 5  Pangkalan PLP dan Kantor Syahbandar di seluruh Indonesia. Adapun kapal-kapal yang dimiliki  oleh 5 Pangkalan PLP ditugaskan khusus untuk berpatroli melaksanakan penegakan hukum di laut, baik itu menyangkut kapal berbendera Indonesia maupun kapal asing yang beroperasi masuk ke Indonesia.

Sedangkan kapal-kapal patroli yang ada di Kantor Syahbandar hanya beroperasi di Daerah  Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp). Sementara  untuk daerah di luar DLKr dan DLKp ini menjadi kewenangan dari 5 Pangkalan PLP.

Kapal-kapal patroli tersebut telah diinstruksikan untuk melakukan Patroli Keselamatan Maritim secara rutin untuk melakukan pengawasan, penjagaan dan penegakan hukum terkait keselamatan pelayaran di seluruh wilayah perairan Indonesia. Pada saat Operasi Natuna misalnya, KPLP turut berpartisipasi secara aktif dengan mengerahkan kapal patroli KN. Sarotama P.112 dan KN. Kalimasadha P.115 dari Pangkalan PLP Kelas II Tanjung Uban untuk melakukan penjagaan dan pengamanan.

Usai berlangsungunya upacara dan dilanjutkan dengan berbagai penampilan menarik: drum band, bela diri, dan tari-tarian dari pegawai KPLP. Tak berhenti di situ, saya berkesempatan naik kapal patroli KN Trisula P111 setelah dan melihat langsung tugas keseharian KPLP yang berpatroli menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran, setelah diizinkan oleh Direktur KPLP, pak Ahmad.

Sebelum kapal mulai mengarungi lautan untuk berpatroli di seputaran Kepulauan Seribu, kapten Eko sebagai nakkode kapal menjelaskan aspek keselamatan dan keamanan yang harus dipenuhi. Dalam setiap kapal KPLP sudah memenuhi aspek keselamatan dan keamanan dengan tersediannya:
1. Sekoci Penyelamat (Life Boat)
2. Pelampung Penolong bentuk cincin
3. Jaket Penolong (Lift Jackets)
4. Rakit Penolong (Inflatable Liferaft)
5. Pelempar Tali Penolong

Setelah kapal mulai berpatroli, saya dan beberapa teman diperbolehkan melihat keadaan di ruang kemudi kapal dan memberikan edukasi keselamatan dalam pelayaran.  Jika hendak keluar dari area kemudi kapal, diharuskan untuk menggunakan Jaket Penolong (Lift Jackets).

Penggunaan Lift Jacket atau Jaket Penolong.jpg
Penggunaan Lift Jacket atau Jaket Penolong

Saat keluar dari area kemudi kapal, saya melihat seperti ada kotak kontainer berwarna orange yang ternyata merupakan alat untuk memisahkan minyak dan laut. Beberapa waktu lalu sempat ada tumpahan minyak yang mencemari laut, KPLP menggunakan KN Trisula menanggulangi pencemaran minyak di laut yang terjadi.

Setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing, termasuk kapal patroli KPLP yang berlayar di wilayah perairan Indonesia wajib memasang dan mengaktifkan Sistem Identifikasi Otomatis atau Automatic Identification System (AIS).
AIS adalah sisten identifikasi otomatis yang menjadi dasar untuk dipergunakan di kapal, diatur secara internasional melalui konvensi keselamatan jiwa di laut.

AIS berfungsi mengirim dan menerima informasi data secara otomatis ke kapal lain, stasiun Vessel Traffic Service (VTS) atau Stasiun Radio Pantai (SROP). Dengan menerapkan sistem AIS akan dapat membantu pengaturan lalu lintas kapal dan mengurangi bahaya dalam bernavigasi.

Ada 9000 personil KPLP yang siap menjaga dan menegakan hukum laut Indonesia berdasarkan ketentuan nasional ataupun internasional. KPLP Indonesia juga banyak melakukan hubungan kerjasama dengan Sea and Coast Guard  berbagai Negara seperti UK Coast Guard dan US Coast Guard, baik untuk melakukan pemantauan dan patroli bersama, maupun untuk bekerjasama dalam hal peningkatan kapasitas  SDM.

KPLP juga telah secara aktif berperan dalam dunia internasional dalam hal penjagaan dan pengawasan keselamatan pelayaran, antara lain turut tergabung dalam Tokyo MoU dan secara rutin mengadakan kesepakatan dan kerjasama dengan negara-negara lain, baik secara bilateral, regional, maupun multilateral