Tampilkan postingan dengan label Kementerian Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kementerian Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Mei 2021

Untuk Indonesia Sehat, Kenali Manfaat Vaksinasi di Masa Pandemi

Vaksin menjadi perbincangan, karena diharapkan menjadi "Game Changer" di masa pandemi. Vaksin covid-19 yang saat ini dinantikan jadwal pemberiannya kepada seluruh masyarakat di Indonesia. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang masih ragu dengan manfaat dan aspek keamanan vaksin. Pada sisi lain pemberian vaksin pada anak jumlahnya menurun pada masa pandemi. Lalu, apa upaya yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat?

Pada momen Pekan Imunisasi Dunia 2021 (PID 2021) minggu ke-4 setiap tahunnya. Tahun ini PID 2021 berlangsung pada 24-30 April 2021 dengan mengangkat tema "Ayo Imunisasi, Bersatu Sehatkan Negeri". Saya berkesempatan untuk mengikuti, acara Temu Netizen Kesehatan pada momen Pekan Imunisasi Dunia. Acara diawali dengan narasumber pertama, yaitu: Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI): Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari Sp.A(K)., MTropPaed. Ia mengawali dengan penjelasan perbedaan antara vaksin, vaksinasi, dan imunisasi.

Menurut sejarah, bahwa vaksin pertama kalinya diberikan pada 14 Mei 1796 kepada seorang anak laki-laki (berusia 8 tahun). Kemudian WHO pada tahun 1974, melaunching PPI (Program Pengembangan Imunisasi. Sehingga setiap anak berusia kurang dari satu tahun, mendapatkan vaksinasi untuk perlindungan enam penyakit: Tubercolosis, Pertusis, Polio, Tetanus, Difteri, dan Campak.

Dalam pemberian vaksin, kualitas, kemanan, dan efektiviras vaksin sudah dipastikan dahulu oleh BPOM dan KIPI. Melalui uji klinis dan diberikan kepada manusia, sebelumnya diberikan kepada hewan dahulu. Vaksin mekanisme kerja, memicu sistem kekebalan tubuh. Menyerupai infeksi alami dengan komplikasi yang kecil.

Jika muncul KIPI terhadap vaksinasi akan dicatat dan diklasifikasikan. Namun, ada beberapa reaksi KIPI yang timbul bukan karena vaksinnya. Misalnya, rasa cemas saat akan divaksin. Khususnya pada vaksin Covid-19, pmberian vaksin tidak menjamin, bahwa seseorang akam terhindar dari terkena penyakit. Namun, memperingan gejala yang dialami, tidak sampai berat. Sehingga setelah divaksin, tetap perlu menerapkan protokol kesehatan.

Narasumber selanjutnya Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A., M.Sc, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Memaparakan pentungnya untuk melindungi anak-anak di masa pandemi dengan Imunisasi Kejar.

Prof Cissy menjelaskan manfaat vaksin kepada individu dan komunitas. Pemberian vaksin akan mencegah suatu penyakit, karena terbentuk kekebalan komunitas (Herd Immunity). Setiap penyakit memiliki angka cakupan vaksin berbeda, hingga akhirnya Herd Immunity dapat terbentuk. Misalnya, campak minimal 90% cakupan vaksin, karena sangat mudah menular.

Selama masih masa pandemi, vaksinasi pada anak perlu terus dilanjutkan. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Imunisasi Kejar atau imunisasi susulan, menyusulkan imunisasi yang tertunda.  Untuk mengejarnya, vaksin diberikan secara ganda. Jadwal vaksin dipersingkat. Jika imunisasi pada anak tidak dilaksanakan, maka kita akan menghadapi masalah baru, seperti KLB.

Narasumber ketiga dari WHO Indonesia, yaitu: dr. Olivia Silalahi memaparkan mengenai Upaya Dunia Mengoptimalkan Imunisasi Rutin dan Vaksinasi COVID- 19 di Masa Pandemi. Sekalipun masih masa pandemi, proses imunisasi perlu terus dilakukan dengan Imunisasi Kejar. Imunisasi rutin perlu dilakukan dengan penerapana protokol kesehatan. 



Pemberian imunisasi sudah diberikan secara aman, menggunakan sistem drive thru. Selain itu gedung sekolah yang tidak digunakan, bisa menjadi tempat pemberian imunisasi. Pemberian vaksinasi rutin pada anak, harus terus dilakukan. Kita tidak boleh lengah, sehingga terhindar dari kejadian KLB.

Kamis, 12 November 2020

Tetap Sehat dan Bugar dengan Bersepeda di Masa Pandemi, Begini Caranya

Pada momen menjelang Hari Kesehatan Nasional 12 November, berlangsung acara Seminar Online bareng komunitas sepeda "Yuk, sepedaan sehat dan aman di era adaptasi kebiasaan baru." pada Sabtu, 7 November 2020.  Diawali dengan penyampaian materi dari dr. Riskiana S. Putra, M.Kes selaku Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan menyampaikan  . Menjaga diri, menjaga keluarga, dan masyarakat untuk menyelamatkan bangsa dari pandemi Covid-19 dengan tekad menuju Indonesia Sehat.



Adaptasi kebiasaan baru dalam berolahraga. Dalam konsisi covid-19 dan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang negatif, berdampak pada akses pada kesehatan dan pangan yang menurun. Pak Riski mengajak masyarakat untuk bisa menghindari gejala gelaja akibat adanya penularan.

Berdasarkan hasil perilaku masyarakat di masa pandemi covid-19 BPS 2020 tentang persepsi responden atas efektivitas protokol kesehatan terhadap pencegahan terinfeksi COVID-19. Sebanyak 91,8% responden sudah menggunakan masker. Sedangkan responden yang tidak menerapkan protokol kesehetan, sebanyak 55% karena tidak ada sanksi jika menerapkan protokol kesehatan. 

Saat ini protokol kesehatan merupakan perlindungan kesehatab individu, selain menerapkan 3M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, dan Menggunakan Masker) ditambah konsumsi makanan bergizi seimbang, dan menjaga daya tahan tubuh. Istilahnya 3 Baik, 5 Sempurna. Diharapkan melalui penerapan adaptasi kebiasaan baru, maka kegiatan termasuk olahraga bisa berjalan. Sementara pengendalian penyakit bisa dikendalikan.

Azwar Hadi Kusuma, Founder Indonesia Folding Bike Community menjelaskan bahwa Indonesia Folding Bike Community adalah komunitas penggemar/pengguna sepeda lipat yang terbentuk tahun 2007 dengan 50.000 anggota di Facebook. Kini menjadi rumah besar bagi pengguna sepeda lipat di Indonesia.



Saat ini menghindari acara besar yang mengumpulkan banyak orang. Sebelum pandemi biasanya diadakan jambore dengan 1.800 peserta. Namun, karena pandemi kini diadakan secara virtual dan acara gowes bersama sementara dihindari. Acara gower virtual menggunakan suatu aplikasi, bersepeda sejauh jarak tertentu dan waktu beberapa hari. Baru hasilnya dilaporakan kepada panitia yang dicatat sebagai virtual gowes. Bisa bersepeda sendiri dengan waktu yang bebas.

Tips bersepeda yang aman di era pandemi, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum bersepeda:

1. Pastikan kondisi tubuh sehat dan bugar

2. Rencanakan rute gowes yang aman dan tidak terlalu ramai

3. Atur waktu bersepeda

4. Gunakan pakaian yang lebih tertutup (misalnya topi, kaos lengan panjang, dan celana panjang)

5. Siapkan perlengkapan keamanan sepeda (rem sepeda bekerja dengan baik)

6. Siapkan masker cadangan, hand sanitizer, air minum botol berpenutup)

Tips penting sewaktu bersepeda:

1. Usahakan gowes mandiri atau kelompok kecil maksimal 5 orang (orang yang sudah dikenal atau keluarga sendiri)

2. Gunakan helm, kacamata, dan masker (disarankan masker kain tiga lapis dan siapkan masker cadangan)

3. Menjaga jaga jarak belakang maupun samping (atur jarak dengan posisi zig zag, jangan lurus!)

4. Lakukan olahraga intensitas ringan sampai sedang (jangan terlalu berat, bersepedalah dengab santai)

5. Patuhi rambu-rambu lalu lintas

6. Hindari sosialisasi atau istirahat makan minum bareng

Sesampainya di rumah setelah bersepeda

1. Hindari kontak fisik dengan orang rumah

2. Lepas masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, helm, topi di luar rumah

3. Semprot desinfektan helm, kacamat, sepatu, dan sepeda

4. Segera mandi dan ganti baju

Poetut Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia. menjelaskan Bike to Work Indonesia dideklarasikan 27 Agustus 2005. Makna "Work" tidak sekedar untuk pekerja, tetapi didesain dan dimaknai "Work" semua aktivitas dan semua orang. Gerakan Bike to Work adalah gerakan massal untuk mengajak menggunakan sepeda sebagai alat mobilitas sehari-hari, utamanya ke tempat kerja. Jadi kalau pergi ke pasar boleh, sejak 2006 terjadi perubahan konsep menjadi social movement dengan jenis sepeda apapun dan ke manapun.



Sejak pandemi hanya ada pilihan olahraga yang bisa dilakukan di sekitar rumah: jalan kaki, lari, dan bersepeda karena bisa dilakukan secara individual. Hal ini berkembang terus hingga bersepeda menjadi populer seperti saat ini. Tetap prima selama bersepeda, kita perlu tetap menjaga diri kita dalam keadaan saat ini untuk menjaga imunitas.

Tidak sekadar sehat, tetapi juga pastikan bugar. Karena bugar membuat kita dalam mengelola kegiatan kita sebanyak mungkin dan produk menjalani kegiatan sehingga lebih baik. Sehat saja tidak cukup, orang bugar pasti sehat. Orang sehat pasti bugar. Salah satu cara menjaga kebugaran dengan bersepeda.

Bersepeda bisa dilakukan dari jarak dekat, mulai dari mini market dan ke tempat ibadah untuk membiasakan diri bersepeda. Ada atau tidak ya fasilitas, kita harus mulai bersepeda. 

Bersepeda dengan aman dan nyaman dengan mengenali sepeda (rem, tekanan ban, dan rantai), kenali diri (kondisi kesehatan dan kemampuan fisik), dan kenali lingkungan (kenali rutenya) Bersepeda harusnya membuat kita sehat, bukan menjadikan kita sakit.

Hindari dehidrasi dengan setiap 10-20 menit minum satu teguk, jangan menunggu haus, konsumsi 1,5 kali lebih banyak dari cairan tubuh yang keluar menjadi keringat. Perkiraan kebutuhan air selama satu jam sekitar 500-700 ml, kembali kepada diri kita sesuai dengan berat tubuh kita dan kecepatan bersepeda.


Sabtu, 12 Oktober 2019

Momen Hari Kesehatan Jiwa, Saatnya Peduli dan Mencegah Bunuh Diri

Keadaan sehat pada umunya identik anggapan kesehatan tubuh, mulai terlihat dari fisik seseorang misalnya. Namun, ternyata sehat tak sekadar urusan tubuh, masih ingat dengan CERDIK: Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola Stres. Mengelola stres cukup dekat dengan urusan kesehatan jiwa, hal yang terkadang luput dari perhatian pentingnya kepedulian akan kesehatan jiwa.

Di momen menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day, Kementerian Kesehatan mengadakan acara Temu Blogger dengan tema "Mental Health Promotion and Suicide Prevention" pada 9 Oktober 2019 di Jakarta.

Diawali penjelasan dr. Fidiansyah Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan RI tentang kesehatan jiwa, seseorang dikatakan sehat hiwa jika, sehat secara pikiran dan jauh dari gangguan kejiwaan. Ada tiga pengertian tentang kesehetan kejiwaan: 1. Sehat jiwa 2. ODMK (orang dgn masalah kejiwaaan) 3. ODGK (orang dgn gangguan kejiwaan).

dr. Fidiansyah Direktur P2MLJN Kementerian Kesehatan
dr. Fidiansyah Direktur P2MLJN Kementerian Kesehatan


Berdasarkan Riskerdas 2013 prevalensi orang dengan gangguan kejiwaan berat adalah 1.7% dan prevalensi orang dengan gangguan mental sebesar 6 %Ada banyak faktor penyebab/masalah kejiwaaan: modernisasi, globalisasi kekerasan pada perempuan dan anak, kenakalan remaja, dan lainnya.

"Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya", UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Sehingga kesehatan ada empat aspek: fisik, mental, spiritual, dan sosialnya. Ada keterkaitan antara kesehatan fisim dan jiwa, ketika jiwa sehat, maka gisik juga sehat dan begitu juga sebaliknya.

Narasumber selanjutnya Novy Yulianty, MotherHope Indonesia, ia merupakan penyintas PPD (Pospartum Depression) yang beberapa kali ingin bunuh diri. Selama 2013- 2015 mengalami hari-hari yang berat pasca melahirkan caesar. Dalam pemikirannya ia harus melahirkan normal, tetapi ia harus melahirkan secara caesar.

Novy Yulianty, Mother Hope Indonesia
Novy Yulianty, Mother Hope Indonesia

Berlanjut dengan ASI yang tidak keluar dan tak bisa menggendong anaknya, ia sampai ketakutan ketika ada yang ingin berkunjung dan menayakan perihal ASI keluar banyak atau tidak. Rasa depresi berat dialami seorang Novy Yulianty, bahkan tak mau mengurus anaknya.

Depresinya yang dialami semakin berat, terlebih banyak stigma yang negatif ditujukan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Hingga ia menceritakan masalahnya kepada dosen pembimbing, ia pun juga seorang psiokolog dan mengikuti terapi.

Setelah pulih, ia masuk dalam komunitas MotherHope Indonesia dan menjadi psikolog relawan. Pada usia anaknya berusia 2,5 tahun akhirnya Bu Novy bisa merasa bagaimana mencintai anaknya. Komunitas memiliki fungsi yang penting, bisa menemukan anggota lain yang memiliki masalah yang serupa.

Mother Hope sering mengadakan kuliah Whatsapp, seminar, psikoedukasi, home visit, dan support group. Dalam komunitas Mother Hope banyak yang memiliki masalah yang serupa, sehingga bisa saling mendukung dan memahami.

Dilanjutkan narasumber ketiga, yaitu: Bu Gamayanti Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia menjelaskan kondisi gangguan jiwa bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada profesional (kesehatan) sekalipun. Fakta ya satu orang mati karen bunuh diri setiap 40 detik, ada 20 percobaan bunuh diri yang tidak terdata.

Gamayanti, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia
Gamayanti, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia

Di kalangan mahasiswa, orang-orang terdidik juga banyak terjadi bunuh diri pun, bahkan menjadi menjadi penyebab kedua kematian, setelah kecelakaan di usia 15-29 tahun. Kita sebagai teman, kakaj, adik, keluarga, dan bagian dari lingkungan perlu bekerjasama dalam mencegah orang yang mengalamu masalah kejiwaan untuk bunuh diri.

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkannya: saat kecil mengalami bullying, kekerasan fisik, mental, seksual, hilangnya sosok seorang ibu, diskriminasi sosial, dan .inimnya dukungan sosial  terhadap orang dengan masalah kejiwaan.
Seseorang yang merasa kesepian, tidak berguna, tidak berharga, perasaan lelah yang panjang dengan kehidupan ini me jadi pendorong seseorang untuk bunuh diri. Hal ini diperberat risikonya dengan adanya diskriminatif dan penghakiman ada seseorang dengan gangguan jiwa.

Belum lagi adanya tulisan atau cerita tentang bunuh diri yang tidak tepat, contohnya harakiri, ditunjukan sebagai sifat yang berani dan kesatria. Bunuh diri bisa menular. Ada beberapa tanda-tanda seseorang mengalami masalah kejiwaan: bicara tentang bunuh diri,  bicara tentang alat-alat bunuh diri, sulit makan/tidur, mundur dari kegiatan sosial, dan lain-lainnya.

Terlebih di era media sosial, status bukanlah hal yang privasi dan bisa dilihat banyak orang. Jika ada pembicaraan terkait keinginn bunuh diri, perlu segera direspon dan dicegah. Namun, memang tak mudah meyakinkan orang-orang di sekitarnya. Hal sederhana yang dapat kita lakukan dengan menunjukan empati, ajak bicara, bantu selesaikan masalah, ajak mencari bantuan professional.

Memang ada faktor risiko dari keturunan, tetapi tidak akan muncul kalau tidak terkumpul faktor/triggernya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang kesehatan jiwa bisa mencoba aplikasi Sehat Jiwa dari Kementerian Kesehatan dan menghubungi Hotline 1500-567 Kementerian Kesehatan. Masyarakat bisa bertanta tentang semua hal terkait kesehatan, termasuk kesehatan jiwa.

Sabtu, 29 Juni 2019

Perilaku CERDIK untuk Mencegah Penyakit Tidak Menular

Teknologi mempermudah kehidupan manusia, bahkan untuk urusan membeli makanan cukup dari smartphone saja. Kehidupan yang serba mudah membuat masyarakat jadi mager, alias males gerak yang memiliki potensi bahaya bagi kesehatan.

Penyakit tidak menular disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang berubah, kurangnya aktivitas fisik karena kemudahan yang diberikan dengan hadirnya teknologi. Penyakit tidak menular sebenarnya bisa dicegah. Diperlukan perubahan perilaku hidup masyarakat, perilaku CERDIK.


Pada 18-19 Juli 2019 di Jakarta para blogger mengikuti workshop blogger bersama Direktorat Pencegahan dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan. Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia para blogger mendapatkan edukasi tentang pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan perilaku CERDIK. Tema yang diangkat pada workshop adalah Cegah dan Kendalikan PTM.

Hari Pertama Workshop Blogger Kesehatan

CERDIK merupakan singkatan dari Cek Kesehatan, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stress. Saya sebagai blogger yang berkesempatan datang pada acara workshop blogger.

Pada hari pertama kami mendapatkan penjelasan dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA mengenai Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Tidak Menular. Acara pun dibuka secara resmi oleh Cut Putri Arianie, MH.Kes selaku Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular.

Karena saat ini Penyakit Tidak Menular (PTM) sudah menjadi masalah kesehatan utama, hal ini dikarenakan banyak penderitanya pada usai muda. Hal ini disebabkan gaya hidup, tujuh dari sepuluh penyebab kematian adalah penyakit tidak menular. Hanya 30% penderita PTM yang terdeteksi dan berobat, sisanya terdiagnosa setelah terjadi serangan penyakit.

Biaya pelayanan yang ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) trendnya meningkat pada penyakit katastrofik. Padahal sebenarnya penyakit katastrofik bisa dicegah sejak dini, termasuk yang dilakukan dokter dan tenaga kesehatan. Faktanya 80% penyakit tidak menular disebabkan oleh perilaku yang tidak sehat: kurangnya aktivitas fisik, konsumsi rokok, konsumsi alkohol, dan asuran GGL (Gula Garam dan Lemak), serta obesitas.


Terlebih di Indonesia adanya bonus demografi, tetapi Pravelensi perokok pada anak umur 10-18 gram pada 2013-2018 meningkat sehingga perlu kebijakan dan strategi pengedalian tembakau dengan perilaku CERDIK.
-Kebijakan pengedalian tembakau dilakukan dengan strategi MPOWER:
-Monitor konsumsi produk tembakau & pencegahan
-Perlindungan dari paparan asap orang lain
-Optimalkan dukungan layanan berhenti merokok
-Waspadakan masyarakat akan bahaya konsumsi tembakau
-Eliminasi iklan, promosi, dan sponsor produk tembakau
-Raih Kenaikan Harga Rokok melalui peningkatan cukai dan pajak rokok

Beberapa daerah di Indonesia sudah diterapkan Kawasan Tanpa Rokok. Perlu kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarkat. Melalui sosilisasi pada anak usia sekolah, pencantuman peringatan kesehatan kepada masyarakat, dan penguatan kepribadian anak-anak mampu menolak rokok.

Diharapkan ada pembatasan akses terhadap produk tembakau pada anak usia <18 tahun dan ibu hamil. Bagi perokok yang ingin berhenti perlu konseling baik di fasilitas kesehatan. Tersedia juga layanan konseling melalui telepon pada nomor 08001776565.

Untuk itulah diperlukan perubahan perilaku menjadi perilaku hidup CERDIK. Narasumber selanjutnya Dr. Rita Ramayulis DCN, M.Kes seorang dokter ahli gizi dan Ketua Indonesia Sport Nutrition Association menjelaskan tentang sesi Diet Seimbang dan Aktivitas Fisik untuk Pencegahan Penyakit Tidak Menular.


Dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2013 dan 2018 terdapat peningkatan risiko penyakit tidak menular. Masyarakat dengan berat badan berlebih, obesitas, kurang aktivitas konsumsi buah/sayur, dan Gula Garam Lemak meningkat.

Coba cek lingkar perut masing-masing, akibat dari obesitas akan menyebabkan seseorang menderita diabetes. Sel-sel lemak yang membesar menghasilkan mediator inflamasi (sitokin), maka terjadilah resistensi insulin. Tubuh manusia memerlukan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak, dan air) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) yang sama pentingnya. Tidak ada yang "lebih penting" di antara yang lainnya, sehingga perlu dikonsumsi sesuai kebutuhan.

Bu dr. Rita menjelaskan pemahaman tentang olahraga, harus ada gerakan terstuktur dan terencana. Bertujuan meningkatkan pengeluaran energi, status kebugaran, dan prestasi/kompetisi. Sehingga kegiatan harian tidak bisa disebut olahraga, melainkan aktivitas fisik. Kecuali, ada tahapan pre-cuci, cuci, dan pasca cuci.

Masyarakat umumnya hanya melangkahkan kaki kurang dari 5.000 langkah per hari, hal ini termasuk dalam perilaku hidup sedentr/kurang bergerak. Padahal ada manfaat positif dari aktivitas fisik terhadap tubuh dan kesehatan kita.

Biasanya kita makan dengan sebagian besar menu karbohidrat, lemak, dan sedikit sayur. Kebutuhan konsumsi sayur yang benar adalah semangkuk sedang (150 gram), harus lebih dominan daripada buah. Konsumsi makanan pokol harus lebih dominan dibandingkan lauk pauk, pada separuh bagian piring.

Konsumsi gula yang disarakan maksimal 50gram. Jika lebih dari itu maka akan membuat mudah mengantuk, kelelahan, adiksi terhadap gula, perut buncit, penyakit diabetes, dan penuaan dini. Padahal tubuh kita sebenarnya tak membutuhkan gula, banyak gula tersembunyi yang ada pada makanan dan minuman dikonsumsi. Misalnya, pada minuman kemasan dan roti yang biasanya kita nikmati.

Juga ketika konsumsi garam berlebih (maksimal 5 gram atau 2.000 mg Natrium) menyebabkan: pembuluh darah tak elastis, peningkatan jumlah cairan dalam tubuh, dan menggangu penyerapan mineral.

Yang tak kalah mengejutkan adalah konsumsi lemak kita maksimal 72 gram per hari. Namun, dari makanan yang kita konsumsi seringkali berlebihan. Bu dr.Rita mencontohkan konsumsi ayam goreng tepung: ada 7 gram lemak pada kulit ayam dan 3 gram lemak pada ayamnya. Kita terbiasa juga makan hanya dengan nasi dan ayam saja di restoran.

Proses pencernaan manusia hanya berlangsung selama maksimal empat jam, sehingga konsumsi sayuran tidak bisa disusul. Lewat dari durasi waktu pencernaan, maka sudah selesai. Bagi orang dengan obesitas konsumsu buah tidak bersama makanan utama, tetapi jadi makanan pendamping.

Dengan diet seimbang dan konsumsi yang sesuai kebutuhan tubuh kita, tidak ada konsumsi yang berlebihan. Kita bisa terhindarkan dari penyakit tidak menular. Para blogger mendapatkan pengarahan dari mas Badja Hidayat, jurnalis majalah Tempo. Perihal strategi dalam edukasi pengedalian konsumsi tembakau dengan konsep story telling kepada masyarakat melalui tulisan.

Hari Kedua Workshop Blogger Kesehatan

Pada hari kedua workshop bersama Direktorat Pencegahan dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan. Para blogger diajak mengujungi beberapa rumah sakit, dibagi ke dalam lima tim. Saya berkesempatan untuk datang ke Rumah Sakit Kanker Dharmais, bersama beberapa blogger kami disambut oleh pak Abdul Kadir, Direktur Utama RS Kanker Dharmais menjelaskan perlunya kesadaran masyarakat akan risiko kanker.


Pasien yang datang ke RS Kanker Dharmais biasanya sudah dalam keadaan stadium lanjut, padahal jika terdeteksi sejak dini. Tingkat kesembuhan pasien kanker lebih besar, biaya yang dikeluarkan tidak sebesar jika pada stadium lanjut.  Misalnya saja untuk pasien kanker darah, membutuhan biaya pengobatan sebesar 450 juta. Bagi pasien kanker dan keluarga, pak Abdul Kadir berpesan untuk tidak percaya pada kabar hoax tentang pengobatan kanker dengan alat tertentu.

Dilanjutkan penjelasan tentang Breast Cancer Awareness oleh Dr.dr Denni Joko, SpB(K)Onk, MM yang menjelaskan kanker payudara dominan dialami oleh perempuan, sedangkan pada laki-laki lebih dominan mengalami kanker paru-paru. Satu dari delapan perempuan menderita kanker payudara, ditandai dengan benjolan dan penebalan pada payudara.


Semakin awal terdeteksi maka semakin besar kemungkin sembuh. Kanker payudara menempati posisi kedua angka kejadian kanker terbanyak di dunia pada tahun 2018, pada tahun 2014 menjadi penyebab pertama kematian akibat kanker pada wanita di Indonesia.

Hingga saat ini belum diketahui pasti penyeban kanker, tetapi ada faktor risiko kanker payudara yang disebakan oleh gaya hidup dengan konsumi lemak berlebih dan alkohol. Faktor risiko lainnya: Usia, haid awal & menopause terlambat, tidak pernah melahirkan anak, melahirkan anak pertama usia >30 tahun, KB hormonal, dan riwayat pada keluarga dekat.

Dr.dr Denni menjelaskan kanker merupakan penyakit epigenetik, sekalipun ada gen pembawa kanker tetapi belum pasti seseorang terkena kanker, jika ada orang terdekat yang menderita kanker.

Pentingnya deteksi dini kanker payudara dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pada sejak 20 tahun setiap bulan lakukan, dan haid pertama & haid terakhir lakukan SADARI. Kemudian lakukan SADANIS (Pemeriksaan payudara klinis) ke dokter secara rutin, sekurang-kurangnya tiga tahun sekali.

Pada wanita berusia <35 tahun, wanita hamil, dan menyusui lakukan pemeriksaan USG payudara untuk membedakan benjolan padat atau kista. Pada usia lebih dari 35 tahun dan wanita dengan faktor risiko tinggi lakukan skrining dengan mammografi yang diulang 2-3 tahun, setelah usia 50 tahun dilakukan setiap tahun.

Hadir juga survivor kanker payudara: Bu Ati diketahui menderita kanker payudara stadium 1B dan Bu Aida diketahui menderita kanker payudara pada stadium 2A. Para survivor kanker payudara terus bersemangat, menjalani perawatan hingga selesai dan dinyatakan sembuh berkat dukungan keluarga dan orang terdekat.


Para blogger berkesempatan mengunjugi ruangan deteksi kanker dan layanan mobil mammografi yang dimiliki Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Setiap hari Minggu mobil mamografi berkeliling puskesmas, memberikan layanan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara secara gratis.



Dilanjutkan kunjungan ke ruang perawatan radioterapi, bagian dari perawatan yang dilakukan dalam proses penyembuhan kanker. Proses radiasi yang dilakukan berlangsung lokal dan aman, sehingga masyarakat tak perlu cemas dengan kabar-kabar yang beredat tentang bahaya radiasi pada pengobatan kanker.


Setelah selesai berkeliling rumah sakit Kanker Dharmais, saya dan rekan-rekan blogger lainnya menuju kantor Kementerian Kesehatan. Kami dibekali dengan pengetahuan oleh Dr.Rulli Nasrulla yang akrab disapa Kang Arul, strategi SEO dan media sosial sehingga informasi yang disampaikan menarik dan mudah ditemukan oleh masyarakat.

Selama dua hari blogger mendapatkan pemahaman tentang perilaku CERDIK. Dalam upaya pencegahan terhadap penyakit tidak menular, jika ingin tahu lebih lanjut. Follow juga akun media sosial
di Twitter @p2ptmkemenkesRI dan Instagram @p2ptmkemenkesri untuk mengetahui lebih lanjut tentang CERDIK dan penyakit tidak menular.

Sabtu, 20 April 2019

Wujudkan Indonesia Sehat dengan Memberikan Sang Buah Hati Imunisasi

Betapa bahagia perasaan seorang suami dan istri, ketika mengetahui bayi adalah sang buah hati lahir dengan selamat ke dunia ini. Bayi yang sehat dan lahir tanpa kekurangan sesuatu apapun, tentu orang tua manapun akan mencintai anak dan memberikan hal yang terbaik. Asalkan anak bisa tumbuh kembang dengan sehat, termasuk juga dalam hal memberikan imunisasi yang merupakan hak anak.

Pekan Imunisasi Dunia 2019

Setiap tahunnya berlangsung Pekan Imunisasi Dunia (PID) pada tahun ini mengangkat tema global "Protected Together: Vaccines Work" dan tema nasional "Imunisasi Lengkap, Indonesia Sehat". PID nasional 2019 berlangsung pada 23-30 April 2019 dengan berbagai rangkaian kegiatannya, salah satunya acara Temu Blogger pada 15 April 2019 di Jakarta.


Perlunya partisipasi masyarakat dalam PID 2019, khususnya bagi para orangtua dalam memberikan hak anak untuk mendapatkan imunisasi rutin lengkap. Mari, kita kenali manfaat pentingnya imunisasi lengkap bersama Prof. Dr. Cissy Kartasasmita,Sp. A sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi. Imunisasi memang memiluki banyak manfaat, tetapi juga mendapatkan hambatan.

Perjalanan Imunisasi di Indonesia dan Manfaatnya

WHO organisasi kesehatan dunia sejak 1974 sudah membuat Program Penguatan Imunisasi guna menjamin agar semua anak bisa memperolehkan akses yang diperlukan. Vaksin utama yang didorong saat itu adalah BCG,DPT, Campak, dan Polio.

Di Indonesia  sejak 1956 di Indonesia sudah mulai imunisasi, diawali dengan vaksin cacar, hingga pada tahun 1977 dimulai program pemberian imunisasi secara gratis. Vaknisasi merupakan hak anak yang harus dipenuhi orang tua, banyaknya vaksin yang diberikan karena memang banyak juga penyakit yang akan menyerang. Vaksinasi yang diberikan berdasarkan Natural History Disease (perjalanan alamiah penyakit, ada sembilan vaksin yang sudah diberikan secara gratis.

Beberapa penyakit Dapat Dicegah dengan Imunisasi seperti Hepatitis, BCG, dan Polio. Untuk Hepatitis diberikan segera setelah bayi lahir, ada risiko penularan dari ibu dan BCG ada risiko penularan penyakit dari orang sekitar yang membantu persalinan.

Sedangkan vaksinasi DPT diberikan setelah bayi memasuku usia 6 minggu ke atas, diberikan sebanyak tiga kali untuk proteksi jangka panjang, dan dilanjutkan pada bulan ke-18 usia anak. Diharapkan imunisasi diberikan secara terus menerus, saat sekolah ada  Bulan Imunisasi Anak Sekolah bahkan sampai dewasa.

Ada kutipan yang mengatakan bahwa Proteksi yang paling cost efektif adalah vaknisasi, selain pengadaan air bersih. Hal ini dikarenakan seorang anak yang diimunisasi dan divaksin hingga dewasa, tercegah dari penyakit. Jika terkena penyakit pun sakitnya ringan, tak sampai menyebabkan kecacatan atau meninggal dunia.

Vaksin yang diberikan membuat tubuh kita membentuk kekebalan spesifik, adanya zat antibodi pada beberapa orang memang akan membuat kemungkinan timbul gejala ringan seperti penyakit. Anak yang tidak diimunisasi tidak memiliki kekebalan terhadap patogen (kuman) yang dapat menyebabkan penyakit, misalnya polio.

Ada anak-anak yang terkena penyakit, padahal bisa dicegah vaksin dikarenakan orang tua tidak memberikan hak anak. Sebanyak 85% orang yang divaksinasi tidak sakit dan tidak menularkan, upaya untuk memutuskan rantai penularan penyakit dengan kekebalan komunitas minimal 80% anggota di suatu lingkungan sudah divaksinasi.

Efek samping kejang pada orang yang memiliki bakat demam kejang, sakit, dan merah di tempat suntikan bisa dipantau dan ditanggulangi. Jangan sampai orang tua takut efek samping vaksin daripada penyakit yang dicegah dengan vaksin.

Dengan adanya imunisasi lebih sedikit terjadi penularan penyakir dari anak ke orang tua, anak vaksinasi dan orang tua akan ikut terproteksi. Imunitas bisa timbul tanpa perlu sakit terlebih dahulu yang diberikan memberikan perlindungan dalam waktu 4-12 tahun, 6 tahun, dan 10 tahun. Vaksninasi diberikan secara berulang bergantung pada berapa lama vaksin ada di dalam tubuh seseorang.

Perlindungan Spesifik Tubuh dengan Imunisasi 

Narasumber kedua adalah drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid selaku Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI yang menjelaskan bahwa tubuh kita punya mekanisme pertahanan tubuh yang tidak spesifik: ASI, perbaikan gizi, ketersediaan air  yang cukup. Namun, pertahanan yang tidak spesifik belum bisa melindungi dari penyakit, sehingga diperlukan perlindungan spesifik seperti vaksin.

Negara maju dengan anak-anak bergizi baik tetap melakukan imunisasi, tak perli cemas dengan keamanan vaksin. Vaksin sudah melalui berbagai pengujian dan sertifikasi sehingga aman untuk menurunkan kesakitan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunusasi.


Dahulu kita mengenal imunisasi dasar lengkap, kini sudah menjadi munisasi rutin lengkap, lalu kemudian imunisasi tambahan dan khusus. Imunisasi dasar yang diberikan untuk anak di bawah satu tahun, perlu diteruskan dengan imunisasi lanjutan untuk anak usia di bawah dua tahun. Jika terlambat imunisasi, tetap perlu terus dilakukan vaksinasi.

Pentingnya juga pemberian vaksi di waktu yang tepat, saat kadar vaksin dalam tubuh turun turun, perlu divaksinasi lagi agar kemampuan tubuh menahan penyakit tetap terjaga. Seperti penyakit Cacar, Polio, Tetanus, dan Campak sudah ada vaksinasi secara merata gratis di layanan kesehatan milik pemerintah dan Bulan Imunusasi Anak Sekolah.

Masih ada 19 juta anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap 180 negara. Sehingga pentingnya peranan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan orangtua untuk membawa anak ke pos pelayanan kesehatan. Hal ini sesuai partisipasi masyarakat dalam PID 2019.

Iminunisasi dalam Keadaan Darurat dan Terpaksa

Narasumber ketiga adalah Dr.H.M. Asrorun Ni'am Soleh,M.A Sekretaris Komisi Fatwa MUI menjelaskan imunisasi agar tidak terkena penyakit termasuk dalam ikhtiar. Pada dasarnya ketentuan dalam berobatnya orang yang sakit dan orang sehat agar tidak sakit dengan vaksin pada dasarnya sama. Peranan penting BPOM memastikan vaksin yang halal dan aman, dalam perspektif hukum Islam diharus memilih yang halal. Diperbolehkan mengomsunsi yang haram jika menyangkut hajat hidup orang, sedangkan tidak ada alternatif yang halal.


Benda najis dan benda terkena najis untuk melindungi jiwa, diizinkan untuk dihunakan sebagai upadaya penyelamatan jiwa. Namun, dalam kondisi normal tidak diperbolehkan, kecuali: keterpaksaan, mengurangi kesempurnaan sebagai makhluk, belum ada yang halal berdasarkan pendapat orang yang kompeten dan kredibel.

Imunisasi bisa berubah status dari mubah menjadi wajib atau haram bergantung pada kondisi khusus, tidak mengacu pada kondisi umum. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian vaksin yang menjadikannya halal: komposisi, proses, bahan baku, bahan penolong, dan hasil akhir.