Tampilkan postingan dengan label Kemenkes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemenkes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Mei 2021

Untuk Indonesia Sehat, Kenali Manfaat Vaksinasi di Masa Pandemi

Vaksin menjadi perbincangan, karena diharapkan menjadi "Game Changer" di masa pandemi. Vaksin covid-19 yang saat ini dinantikan jadwal pemberiannya kepada seluruh masyarakat di Indonesia. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang masih ragu dengan manfaat dan aspek keamanan vaksin. Pada sisi lain pemberian vaksin pada anak jumlahnya menurun pada masa pandemi. Lalu, apa upaya yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat?

Pada momen Pekan Imunisasi Dunia 2021 (PID 2021) minggu ke-4 setiap tahunnya. Tahun ini PID 2021 berlangsung pada 24-30 April 2021 dengan mengangkat tema "Ayo Imunisasi, Bersatu Sehatkan Negeri". Saya berkesempatan untuk mengikuti, acara Temu Netizen Kesehatan pada momen Pekan Imunisasi Dunia. Acara diawali dengan narasumber pertama, yaitu: Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI): Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari Sp.A(K)., MTropPaed. Ia mengawali dengan penjelasan perbedaan antara vaksin, vaksinasi, dan imunisasi.

Menurut sejarah, bahwa vaksin pertama kalinya diberikan pada 14 Mei 1796 kepada seorang anak laki-laki (berusia 8 tahun). Kemudian WHO pada tahun 1974, melaunching PPI (Program Pengembangan Imunisasi. Sehingga setiap anak berusia kurang dari satu tahun, mendapatkan vaksinasi untuk perlindungan enam penyakit: Tubercolosis, Pertusis, Polio, Tetanus, Difteri, dan Campak.

Dalam pemberian vaksin, kualitas, kemanan, dan efektiviras vaksin sudah dipastikan dahulu oleh BPOM dan KIPI. Melalui uji klinis dan diberikan kepada manusia, sebelumnya diberikan kepada hewan dahulu. Vaksin mekanisme kerja, memicu sistem kekebalan tubuh. Menyerupai infeksi alami dengan komplikasi yang kecil.

Jika muncul KIPI terhadap vaksinasi akan dicatat dan diklasifikasikan. Namun, ada beberapa reaksi KIPI yang timbul bukan karena vaksinnya. Misalnya, rasa cemas saat akan divaksin. Khususnya pada vaksin Covid-19, pmberian vaksin tidak menjamin, bahwa seseorang akam terhindar dari terkena penyakit. Namun, memperingan gejala yang dialami, tidak sampai berat. Sehingga setelah divaksin, tetap perlu menerapkan protokol kesehatan.

Narasumber selanjutnya Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A., M.Sc, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Memaparakan pentungnya untuk melindungi anak-anak di masa pandemi dengan Imunisasi Kejar.

Prof Cissy menjelaskan manfaat vaksin kepada individu dan komunitas. Pemberian vaksin akan mencegah suatu penyakit, karena terbentuk kekebalan komunitas (Herd Immunity). Setiap penyakit memiliki angka cakupan vaksin berbeda, hingga akhirnya Herd Immunity dapat terbentuk. Misalnya, campak minimal 90% cakupan vaksin, karena sangat mudah menular.

Selama masih masa pandemi, vaksinasi pada anak perlu terus dilanjutkan. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Imunisasi Kejar atau imunisasi susulan, menyusulkan imunisasi yang tertunda.  Untuk mengejarnya, vaksin diberikan secara ganda. Jadwal vaksin dipersingkat. Jika imunisasi pada anak tidak dilaksanakan, maka kita akan menghadapi masalah baru, seperti KLB.

Narasumber ketiga dari WHO Indonesia, yaitu: dr. Olivia Silalahi memaparkan mengenai Upaya Dunia Mengoptimalkan Imunisasi Rutin dan Vaksinasi COVID- 19 di Masa Pandemi. Sekalipun masih masa pandemi, proses imunisasi perlu terus dilakukan dengan Imunisasi Kejar. Imunisasi rutin perlu dilakukan dengan penerapana protokol kesehatan. 



Pemberian imunisasi sudah diberikan secara aman, menggunakan sistem drive thru. Selain itu gedung sekolah yang tidak digunakan, bisa menjadi tempat pemberian imunisasi. Pemberian vaksinasi rutin pada anak, harus terus dilakukan. Kita tidak boleh lengah, sehingga terhindar dari kejadian KLB.

Selasa, 11 Desember 2018

Mengenal Keseharian ODHA, Memahami HIV/AIDS

Pandangan masyarakat terhadap penyakit HIV/AIDS yang konon kabarnya belum ada obatnya, sampai saat ini masih negatif. Padahal ketika seseorang menjadi Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) masa depannya belum berakhir, masih ada harapan untuk terus menjalani kehidupan dan tetap produktif.

Bertepatan dengan momen peringatan Hari AIDS sedunia pada 1 Desember, Kementerian Kesehatan mengadakan acara Temu Blogger pada 5 Desember 2018 di Jakarta. Turut hadir hadir Bu Neneng Yuliani sebagai seseorang yang menyandang status ODHA sejak 13 tahun yang lalu, ia tertular dari suaminya yang telah meninggal dunia setahun kemudian.


Sebuah kenyataan harus dihadapi sebagai sebagai ODHA, tentu tidak mudah baginya saat itu. Namun, kehidupan harus terus berjalan dan munculnya secercah harapan saat akhirnya bu Neneng mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) sebagai obat HIV/AIDS. Hal yang cukup mengejutkan bagi saya, ketika mengetahui bahwa ada obat yang menjadi harapan untuk terus hidup bagi ODHA.


Dr. Wiendra Waworuntu, M,Kes, Direktur P2PL (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung) Kementerian Kesehatan RI pada acara Temu Blogger memaparkan perbedaan HIV dan AIDS. HIV atau Human Immunodeficiency Virus menyebabkan turunnya kekebalan manusia, sehingga tubuh gagal melawan infeksi. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala dan tanda fisik dikarenakan penurunan kekebalan tubuh, akibat tertular virus HIV dari orang lain.


Kita tidak perlu takut terhadap HIV/AIDS karena cara penularan virus HIV sangat terbatas: hubungan seksual, jarum suntik, produk darah & organ tubuh, dan ibu hamil positif HIV ke bayinya. Tak perlu cemas jika bersentuhan, berpelukan, menggunakan alat makan bersama, terkena gigitan nyamuk, dan tinggal serumah dengan ODHA.

Namun, kita perlu mencegah agar tidak terkena HIV: tidak melakukan hubungan seksual berisiko (berganti-ganti pasangan), mengikuti program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, skiring donor darah & organ tubuh, dan tidak menggunakan narkoba.

Seseorang yang terkena virus HIV hanya bisa dipastikan dengan pemeriksaan antibodi HIV di dalam darah, dikarenakan sekalipun belum menunjukan gejala virus HIV sudah dalam menularkan dari ODHA kepada orang lain.

Bu Wiendra Wawaruntu menyampaikan kini HIV/AIDS sebagai penyakit kronis bisa dikelola seperti diabetes dan hipertensi, begitu terdeteksi HIV maka seorang ODHA bisa segera memulai terapi ARV (Antiretroviral,) kemudian dilakukan seumur hidup. Setelah enam bulan menjalani terapi ARV, jika seorang ODHA menjalani tes HIV akan terlihat hasil negatif.


Total kasus HIV di Indonesia mencapai 301.959 dan kasus AIDS mencapai 108.829 yang dilaporkan oleh masyarakat. Menyikapi adanya HIV dan AIDS, Kementerian Kesehatan memiliki program STOP (Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan) sehingga bisa mencapai target 3 Zero: Zero HIV Infection, Zero HIV Related Death, dan Zero Discrimination.


Kementerian Kesehatan sudah meningkatkan jumlah layanan HIV, sejak akhir 2013 hingga Juni 2018 terdapat kenaikan 450% pada layann tes HIV dan 215% pada layanan PDP. Masyarakat perlu turut terlibat dalam pengedalian HIV/AIDS melalyi berbagai cara: pencegahan, penemuan kasus, dan saat masa pengobatan ODHA.


Kesimpulan:
HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikelola, seperti hipertensi dan diabetes. HIV sudah ada obatnya, yaitu: ARV, sehingga ODHA tetap bisa produktif dan mencegah infeksi HIV baru, dan HIV tidak mudah menular, serta jauhi penyakitnya bukan orangnya. Saya berani, saya sehat.

Senin, 30 Juli 2018

Kenali dan Deteksi Dini Hepatitis, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa

Pada momen Hari Hepatitis Sedunia tahun 2018, Kementerian Kesehatan mengangkat tema "Deteksi Dini Hepatitis Selamatkan Generasi Penerus Bangsa". Hari Hepatitis Sedunia setiap tahunnya diperingati setiap tanggal 28 Juli, menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan perhatian, kepedulian, dan pengetahuan akan penyakit hepatitis.

Pandangan pada umumya penderita hepatitis memiliki kult warna kuning, kemudian jenis hepatitis mulai dari A sampai dengan dianggap sebagai tingkat keparahan penyakit, benarkah anggapan tersebut?

Pada tanggal 27 Juli 2018 di Kementerian Kesehatan pada momen peringatan Hari Hepatitis Sedunia. Rekan-rekan blogger berkesempatan mengenal penyakit hepatitis dari ahlinya. Diawali dengan sapaan dari mas Anjari kepada para blogger, sudah cukup lama juga saya tidak bertemu dengannya.


Narasumber pertama adalah dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes sebagai Drektur Pencegahan dan Pengendalian Menular Langsung, Kementerian Kesehatan memberikan penjelasan tentang sejarah hari hepatitis sedunia. Pada 28 Juli diperingati sebagai hari hepatitis sedunia karena merupakan tanggal lahir penemu virus Hepatitis B, bernama Baruch Samuel Bloomberg.


Dengan diadakannya peringatan Hari Hepatitis Sedunia, agar terjadi peningkatan perhatian, kepedulian, dan pengetahuan tentang besarnya masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh virus hepatitis. Hepatitis berasal dari dua kata: hepar yang artinya hati dan itis yang artinya radang, sehingga hepatitis berarti peradangan hati. Penyebab hepatitis terbanyak adalah virus hepatitis, selain dari penyebab lainnya: perlemakan, parasit, obat-obatan, alkohol, dan jenis virus lainnya.

Penyakit Hepatitis terdiri dari hepatitis A-E berdasarkan jenis virus dan cara penularannya: Hepatitis A dan Hepatitis E melalui kotoran - mulut, sedangkan Hepatitis B, Hepatis C, dan Hepatitis D dikarenakan kontak cairan tubuh. Masyarakat biasanya tidak menyadari jika terkena hepatitis, sehingga penyakit hepatitis disebut penyakit silent killer. Bahkan satu dari empat penderita hepatitis akan meninggal karena kanker atau gagal hati.


Pada penularan hepatitis A dan E bisa disebabkan karena  kontak dengan makanan atau benda yang terkontaminasi dengan virus hepatitis. Lain halnya pada hepatitis B dan C ditulatkan melalui ibu ke anak, anak ke anak agai dari dewasa ke anak, transfusi darah dan organ yang tidak discreening, penggunaan jarum suntik yang tidak aman, hubungan seksual yang tidak aman, dan kontak dengan darah. Fakta yang cukup mengejutkan bahwa 1 dari 10 penduduk Indonesia mengindap Hepatitis B.

Pada penularan hepatitis B secara vertikal berpotensu terjadi dari ibu pengidap virus hepatitis B ke bayi yang dikandung atau dilahirkan, sehingga dilakukan prioritas deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil. Pasca melahirkan bayi lahir kurang 24 jam harus segera divaksinasi HBO dam pada bayi lahir dari ibu penderita Hepatitis B diberikan vaksin HBIG. Proses vaksinasi pada bayi diberikan secara konsisten pada jangka waktu tertentu.

Banyak orang yang tidak memuliki gejala dan tidak tahu jika, terinfeksi virus Hepatitis C. Biasnya baru akan terasa jika sudah mencapai hepatitis kronik dan mengalami tingkat kronik. Pada hepatitis C hari akan mulai meradang (fibrosis liver), kemudian mengalami sirosis hati, dan pada akhirnya menjadi kanker hati. Sedangkan pada hepatitis B tidak melaluo fase mengalami sirosis hati karena bis masuk ke dalam inti sel.

Kerugian negara akibat Hepatitis B cukup besar jika diabaikan. Pada satu kasus seseorang yang mengalami sirosis hati, diperlukan biaya 1 Milyar dan kanker hati diperlukan biaya 5 Milyar. Dalam hal ini biaya perawatan penderita ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), ada potensu 120.000 bayi yang menderita hepatitis B dan 95% berpotensi mengalami hepatitis kronis.


Pemerintah sudah melakukan upaya pengendalian hepatitis di Indonesia, sehingga bisa tercapai target eliminasi penyakit hepatitis B dan C pada tahun 2030 dengan deteksi dini:

1) Sosialisasi faktor risiko penyakit hepatitis di 34 provinsi.

2) Melakukan imunisasi rutin Hepatitis B pada bayindi 34 provinsi dengan capain 93,5%.

3) Deteksi dini Hepatitis B sudah dilakukan di 34 provinsi dan 244 kabupaten/kota.

4) Deteksi dini hepatitis B sebanyak 742.767 ibu hami dan berhasil melindunhi 7.268 bayi dari ancaman penularan vertikal dari ibunya.

Narasumber kedua adalah Dr.dr Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KEGH sebagai Sekretaris Jendral PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) yang menyampaika faktanya bahwa hanya 10% penderita hepatitis yang menunjukan perubahan warna kulit menjadi kuning. Tidak ada juga kaitannya jenis Hepatitis A hingga E dengan tahapan seseoramg terkena hepatitis. Selain itu juga hepatitis bukanlah penyakit keturunan, melainoan terjadi penularan dari ibu mengandung kepada bayi.


Hepatitis B bisa dicegah dengan memberikan vaksinasi, tetapi tidak bisa diobati. Sedangkan pada hepatitis C tidak dapat dicegah, tetapi ada kemungkinan sembuh mencapai 20%. Kita perlu menjaga makanan yang dikonsumsi, agar tidak terkontaminasi virus bisa menyebabkan Hepatitis A.