Tampilkan postingan dengan label KPPPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KPPPA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Desember 2017

Kenali Cara Membuat Konten Kreatif Ramah Perempuan dan Anak

Duduk manis di teras rumah, sambil membaca berbagai berita. Tampak dengan ragam peristiwa, tetapi sejenak saja terdiam dan terperangah saat membaca berita kasus kekerasan pada anak. Terpampang jelas nama dan foto anak yang merupakan korban kekerasan, justru pelaku kekerasan namanya disebutkan inisial dan wajahnya disamarkan. Mengapa korban identitasnya ditampilkan, sedangkan pelaku identitasnya disamarkan? Bagaimana cara yang tepat membuat konten digital yang kreatif berbasis kesetaraan gender, pembedayaan perempuan, dan perlindungan anak?

Untuk mengetahui cara yang tepat dalam membuat konten kreatif, saya berkesempatan datang di acara "Netizen Gathering Menciptakan Konten Kreatif Berbasis Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak" yang oleh kolaborasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA), Serempak, dan IWITA (Indonesia Women Information Technology Awareness) di Jakarta. Dari narasumber-narasumber yang berkompeten berbagai cara agar kita bisa menciptakan konten yang kreatif.


Diawali pengenalan tentang Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PP dan PA) oleh Bu Ratna Susianawati, SH. MH selaku Asisten Deputi Bidang Infrastruktur dan Lingkungan. KPP dan PA merupakan salah satu kementerian yang berperan menyangkut pembangunan manusia, khususnya perempuan dan anak. KPPA dan PA hadir dengan adanya regulasi yang mendasari perlindungan perempuan dan perlindingan anak di berbagai tingkatan: daerah, negara, dan internasional. Tak hanya pemerintah perlu dukungan masyarakat, dan dunia usaha untuk berkontribusi agar Indonesia bisa mencapai Sustanaible Development Goals (SGD). Program Three Ends menjadi isu prioritas KPP dan PA dan masyarakat bisa mengadukan jika terjadi.

Isu kesetaraan gender menjadi penting agar ada pemahaman yang tepat. Jika gender bukan seorang perempuan, tetapi berbagi tugas atau peran dengan kelompok lain misalnya lansia, difabel, anak, laki-laki, dan perempuan lainnya. Perempuan berperan dalam 17 sektor pembangunan global pada tahun 2030 ya. Salah satu upaya pemerintah dengan adanya "Undang-undang (UU) No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Memberi hukuman kebiri bagi dengan tujuan melindungi anak dan perempuan dari kejahatan seksual, sehingga identitas pelaku kekerasan pada anak diberitahukan kepada publik.

Pada Di tahun 2016 ada 259150 kasus kekerasan pada perempuan dengan kekerasan terbanyak terjadi adalah KDRT, yang kedua saat pacaran, ketiga  kekerasan pada anak perempuan, dan keempat kekerasan oleh mantan suami dan pacar. Masyarakat diharapkan juga aktif melaporkan jika terjadi tindakan kekeraaan pada perempuan dan anak. Agar masyarakat bisa berinteraksi dengan pemerintah, maka lahirlah Serempak ID sehingga masyarakat bisa mengetahui program-program pemerintah lewat forum interaktif.


Bu Martha Simanjuntak, SE.MM selaku Founder IWIITA menjelaskan Serempak ID memiliki keunikan-keunikan: inisiatif KPP dan PA, gerakan komunitas, jangkauan yang komperensif, berbasis teknologi, mudah diakses & digunakan, multi platform, dan bagian tim kerja pemerintah. Serempak ID menjalin kerjasama dengan berbagai mitra: pemerintah, non pemerintah, komunitas, dan bisnis. Saat ini Serempak ID memiliki 396 anggota yang tersebar di 4 kota: Jakarta, Bandung, Denpasar, dan Yogyakarta dengan konten Health & Beauty, ICT, Travelling & Culinary, Law & Regulation, Public Services, dan Business.


Kang Maman dan Bu Ina Rachman mengajak peserta yang hadir untuk menyadari bahwa kerap kali kasus kekerasan pada perempuan dan anak dilakukan oleh orang yang terdekat. Jarang sekali dilakukan orang yang tidak dikenal oleh korban kekerasan. Orang tua masa kini perlu aktif berkomunikasi dengan anak dengan baik, sehingga keadaan anak bisa dipantau termasuk penggunaan internet oleh anak. Gunakan fitur-fitur yang ada untuk membatasi anak menggunakan aplikasi dan layanan tertentu.

Setelah mengikuti acara Netizen Gathering kini saya jadi memahami cara membuat konten yang kreatif berbasis kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak dari beberapa tips dan pandangan narasumber-narasumber. Masyarakat perlu berperan aktif dalam membantu pemerintah untuk menyampaikan konten positif dan edukasi tentang perempuan dan anak.


Sabtu, 29 Oktober 2016

Inilah Kontribusi Blogger untuk Mendukung KPPPA

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bersama Serempak, mengajak blogger berkontribusi. Namun apa yang blogger bisa lakukan untuk berkontribusi? Pada acara seminar "The Power of Content" yang diadakan di Binus University FX Sudirman.




Namun ada satu bagian mengelitik saya, pada sesi tentang personal branding, "Gajah mati meninggalkan gading", "Harimau mati meninggalkan belang", kalau blogger meninggalkan apa?

Tentu saja blogger meninggalkan tulisan yang bermanfaat, tulisan menjadi ciri khas blogger. Blogger tak hanya dimaknai sebagai pemilik blog namun turut memberikan manfaat yang positif.


Blogger pun bisa turut berkontribusi membantu KPPPA lewat tulisan para blogger. Baik tulisan di blog masing-masing ataupun menulis di website Serempak. Lewat tulisan blogger bisa ikut serta dalam 3Ends sesuai fokus kerja KPPPA.

3Ends adalah program untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan manusia dan mengakhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan. Sebagai blogger kita bisa berkontribusi lewat tulisan untuk memberikan informasi terkait keluarga, perempuan, dan anak hal yang bisa kita lakukan.

Turut hadir juga Bu Ratna dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) menyampaikan program kerja kementerian, yaitu 3Ends. Salah satunya yang dikenal masyarakat dengan disahkannya Perpu Kebiri. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari cara memberi efek jera pada pelaku pelecehan seksual.

Faktanya yang baru bagi saya ternyata pelaku UKM di Indonesia 60% adalah perempuan. Sehingga peranan perempuan dalam perekonomian Indonesia besar. Sehingga mengakhiri kesenjangan ekonomi perempuan menjadi fokus kerja KPPPA. KPPPA secara konsisten dan berkelanjutan mengadakan acara positif bersama Serempak. Setelah sebelymnya digelar roadshow di tiga kota.

Ada juga Kang Maman Suherman yang menyampaikan pesan singkat, namun bermakna dalam. Tentang pelecehan seksual yang terjadi bukan karena rok mini, namun otak pelaku yang mini. Perempuan adalah pilar suatu keluarga, dan persoalan perempuan bukanlah tentang perempuan, namun masalah kemanusiaan.

Dilanjutkan Bu Ina Muwarni dari Binus Business School, membagikan kiat membangun personal branding:
1. Know Your Audience, siapa pembaca tulisan kita. Sesuaikan cara penyampaian dan bahasa yang kita gunakan.
2. Select Your Theme, pilih suatu tema tulisan yang sesuai dengan keinginan sehingga mudah dikenal.
3. Choose Your Blog Name
4. Choose your color, fonts, logo and tagline
5. Always use image, choose your photograph wisely
6. Invest to build your brand

Kini sesi mba Ani berbagi agar blogger memiliki komitmen, konsisten menulis konten bermanfaat, perkaya konten dengan info yang aktual, dan belajar iklan untuk kegiatan kemanusiaan dan sosial. Konten yang membawa mba Ani bisa mendapatkan berbagai pencapaian. Menulis konten di Serempak dan dipercaya juga oleh Australia Aid.



Melakukan interview untuk mendapatkan informasi dari data yang terverifikasi. Lakukan verifikasi informasi, hindari informasi hoax. Perkaya konten dengan gambar, video, dan infografis.



Ditutup dengan sharing dari mas Irwin, membangun membuat konten dengan empat karakteristik: unsur edukasi, unsur informasi, unsur menghibur, dan unsur menginspirasi.