Tampilkan postingan dengan label Germas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Germas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2019

Pencegahan Diabetes dan Diabetes pada Anak-Anak

Pada 14 Nov 2019 berlangsung peringatan Hari Diabetes Sedunia.Kepedulian Kementerian Kesehatan Indonesua tentang Diabetes di Indonesi, di mana pada tanggal 2013 prevalensi 6,9% dan pada tahun 2018 menjadi 8,5%, ada kenaikan 22,9 juta pendududk di Indonesia menderita diabetes.

Untuk menanggulanginya tak hanya pemerintah saka, tetapi perlu kerjasama dengan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan kepedilian dalam menjaga status kesehatan, tak hanya untuk sendiri, tetapi untuk keluarga. Sehingga penting sekali perann keluarga dalam penangggulangan kasus diabetes di Indonesia.

Implentasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diabetes Miletus

dr. Cut menjelaskan Diabetes adalah ibu dari segala penyakit, dikelompikam ke dalam penyakit tidak menular. Pada tahun 1990 lebih banyak penyakit tidak menupar TBC, DBD, dan Malarian dan di 2017 PTMnya sudah besar. Beban penyakit meningkat lebih besar dua kali. Ada di masa transisi  penyakit menularnya belum selesai, tetapi penyakit tidak menularnya meningkat.



Tiga penyakit PTM menjadi penyebab kematian tertinggi yang diderita: Stroke, jantung dan pembuluh darah, dan Diabetes Miletus. Dari sisi pembiayaan JKN dan hasil Riskedas penderita penyakit tidak menular meningkat meningkat, seiring perkembangan teknologi dengan kemudahan dan membuat masyarakat malas bergerak.



Provinsi DKI Jakarta menempati posisi keempat, tingkat prevalensi penyakit tidak menular.Dalam pencegahan dan penanganan PTM perlu dilakukan secara kongruen. Baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan diri sendiri.

Terjadinya peningkatan penyakit tidak menular pada usia 10-14 tahun, kini bukanlah penyakit orang tua. Bonus demografi akan menjadi tidak produktif, jika terpapar oleh PTM. 71,48 tahun selama 8,83%. Faktanya hanya tiga dari sepuluh penderita PTM yang terdeteksi, selebihnya tidak mengetahui jika terkena PTM. Dari tiga penderita PTM hanya satu orang yang berobat.

Ada beberapa kebijakan pencegahan PTM: Integrasi & Pendekatan Komprenshif, Inklusif, dan Dukungan keluarga & Partisipasi Masyarakat. Kemudian strategi pencegahan PTM: Promosi Kesehatan, Deteksi Dini, Perlindungan Khusus, dan Pengobatan.

Masyarakat perlu mengetahui faktor risiko PTM yang bisa dan tidak dimodifikasi: usia, jenis kelamin, genetik, dan ras tertentu. Yang bisa dimodifikasi: merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, obesitas, tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.

Dalam pencegahan PTM dilakukan dengan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) sesuai Inpres No 1 tahun 2017 dengan beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari penerapan kawasan tanpa rokok, pola makan sehat, pengendalian asupan gula, garam, dan lemak, lingkungan yang bersih, dan deteksi dini (tekanan darah, gula darah, dan Indeks Masa Tubuh) secara berkala.

Ada aturan yang mengatur kawasan tanpa rokok (UU No 36 2009 tentang Kesehatan pasal 115 dan PP 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan pasal 50a.

Selain itu juga perlu diperhatikan  jika memiliki gula darah  sewaktu 126-200mg/dL berarti sudah ada di fase Prediabetes dan berpotensi jatuh ke diabetes, serta diperlukan kontrol secara berkala.

Diabetes Miletus Tipe 1 pada Anak

Prof dr. Jose RL Batubara menjelaskan bahwa anak-anak bisa terkena diabetes juga. Anak yang terkena diabetes memerlukan insulin seumur hidup, ada beberapa penyebabnnya: proses autoimun dan kerusakan pankreas. Pada anak-anak diabetes tipe 1, sedangka pada orang dewasa diabetes tipe 2. Diabetes pada anak, jika tidak disadari akan membuat keadaan gawat darurat dan mengancam nyawa.



Jika anak--anak sering mengompol, padahal sebelumnya sudah tidak. Hal itu bisa jadi pertanda diabetes pada anak. Pada anak-anak pengobatannya perlu diberikan insulin dan diatur makanan yang dikonsumsi Konsumsi makanan harus sesuai dengan diet seimbang, diberikan sesuai kebutuhan anak. Hanya karbohidratnya yang disesuaikan pemberiannya.

Anak-anak dengan diabetes tetap boleh berolahraga, tetapi dengan ketentuan tertentu. Anak-anak dengan diabetes akan menderita komplikasi pada usia 5 tahun. Berikan makanan pada anak, baru berikan insulin pada anak dengan diabetes.Sebagian besar anak dengan diabetes, tidak memiliki keluarga dengan riwayat diabetes Pembiayaan pengobatan diabetes tipe 1 ada anak, sebagian besar dengan pengeluaran pribadi.


Peranan Upaya Promotif dan Preventif di Tingkat Individu dan Keluarga dalam Upaya Mencegah Diabetes

dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD, KEMD menjelaskan upaya preventif diabetes yang diperlukan saat ini. Karena tak banyak disadari oleh banyak orang. Seringkali komplikasi diabetes tipe 2 dirasakan, baru kemudian diketahui adanya diabetes. Dikarena tidak rajin memeriksakan kesehatan.


Ada beberapa upaya yang dilakuan dalam penanganan diabetes: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.  Semakin tinggi pendidikan keluarga, Makin baik pemahamannya mengenai diabetes
Edukasi tentang diabetes penting dilakukan terus menerus. Kebutaan disebabkan nomor satu oleh diabetes.

Edukasi kontrol gula perlu dilakukan, selain itu peranan keluarga penting sebagai pendamping. Dukungan penuh dari keluarga pada penderita diabetes penting dilakukan, termasuk dalam hal pembiayaan.

Gaya Hidup Sehat dengan Gizi Seimbang

Suharyati, SKM, MKM, RD dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengajakan untuk Coba check status gizi dengan cara timbang Berat Badan dan ukur Tinggi Badan. Berat badan normal (kg) = tinggi badan (cm) - 100, berat badan ideal (kg) = (tinggi badan (cm) - 100) × 90%



Dalam konsumsi ada pedoman gizi seimbang dalam bentuk visual tumpeng pedoman gizi seimbang. Inilah tujuan dari konsumsi makanan sehat yang bergizi seimbang. Makanan dengan gizi seimbang mengandung:
- sumber zat tenaga (karbohidrat & lemak)
- sumber zat pembangun (protein)
- sumber zat pengatur (vitamin & mineral)

Kiat dan Teknik Peningkatan Aktivitas Fisik di Tingkat Individu dan Keluarga

dr. Michael  Triangto , Sp. KO menjelaskan dampak olahraga yang tepat untuk diabetes ada dua,yaitu: jangka pendek dan jangka panjang Dalam jangkannpendek otor bekerja akan menggunakan glikogen di dalam otot. 2) Cadangam Glikogen yang berkurang akan dikembalikan lagi dengan menggunakan glukosa di dalam darah, sehingga kadar glukosa darah dapat lebih terkontol.


Sedangkan dalam Jangka Panjang akan meningkatkan metabolisme otot, otot akan menggunakan glukosa darah lebih banyak, meningkatkan kontrol terhadap glukosa darah, otot lebih terlatih akan memiliki pembuluh kapiler lebih banyak, sehingga akan meningkatkan aliran darah dan metabolisme glukosa.

Bagi penderita diabetes yang masih awal bisa kontrol dengan olahraga sebelum menggunakan obat. Ada perbedaan antara olahraga dengan aktivitas fisik? Karena olahraga memiliki tujuan untuk melatih otot-otot tertentu secara detail. Sehingga ada tujuan yang jelas dan harus memiliki program.

Dianjurkan beraktivotas aerobik dengan intensitas sedang 150 menit per minggu dan 75 menit per minggu dengan intensitas berat, lakukan setidaknya 10 menit per satu kali. Lakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan individu, kesehatan individu, dan tingkat keterbatasan individu.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, integrasikan program latihan dengan pola berpikir, perubahan gaya hidup,  diet yang tepat, dan di bawah pengawasan dokter, serta lakukan juga evaluasi.



Sabtu, 02 November 2019

Kenali Gejala Stroke, Segera Atasi Sedini Mungkin, dan Obati dengan Tepat


Penyakit stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian tertinggi, serta bisa dicegah. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 pada angka 10,9 per mil. Bahkan menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada tahun 2018 penyakit stroke menghabiskan pembiayaan 2,56 Triliun Rupiah.


Hari peringatan stroke sedunia diperingati setiap tanggal 29 Oktober, tema yang diangkat pada tahun 2019: #DontBeTheOne agar masyarakat tidak menjadi salah satu orang yang terkena stroke. Untuk di Indonesia hari peringatan stroke sedunia mengangkat tema 'Otak Sehat, SDM Unggul" untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan gejala stroke, mengatasinya secara dini, dan mengobati stroke dengan tepat. Untuk itulah berlangsung acara Temu Kesehatan bersama blogger di momen peringatan hari stroke sedunia di Jakarta.


Narasumber pertama Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan: dr.Cut Putri Arieane, MH.Kes menjelaskan tingkat prevalensi stroke secara rata-rata di Indonesia pada angka 12,1 per mil. Provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi (14,7 per mil) ada di Kalimantan Timur, Provinsi dengan tingkat prevalensi terendah ada di Papua (4,1 per mil. Sedangkan di Provinsi DKI Jakarta terbilang cukup tinggi di angka 12,2 per mil.


Penyakit stroke sebenarnya bisa dicegah dengan memperhatikan faktor risiko stroke: hipertensi, diabetes, saking jantung lain, merokok, narkotik, konsumsi alkohol, pola makan, dan kurang aktivitas fisik.

Kebijakan Kemenkes dengan melakukan promosi kesehatan untuk memberikan  informasi dan edukasi kepada masyarakat luas. Sehingga dapat mencegah faktor risiko agar tidak terjadi stroke, mengenali tanda awal terjadinya stroke, sehingga bisa mendapatkan pengobatan, dan jika sudah terkena segera diobati. Tujuan dari promosi kesehatan yang dilakukan Kementeriam Kesehatan untuk meningkatkan awereness bahwa stroke bisa dicegah, mengenali faktor risikonya.

Kementerian Kesehatan mendorong lebih ke deteksi dini dilakukan masyatakat, terlebih pada orang dengan gaya hidup berisiko, perlu lakukam deteksi dini satu bulan sekali, minimal pemeriksaan tekanan darah. Bisa diukur sendiri, jika memiliki alatnya. Jika tidak punya alatnya, bisa datang ke faskes primer dengan membawa kartu BPJS Kesehatan. Selain itu juga di satu desa ada satu pos bindu, kader-kader kesehatan yang akan membantu deteksi diri stroke melalui pemeriksaan hiertensi, diabetes, dan obesitas yang bisa menjadi penyebab stroke baik stroke sumbatan ataupun stroke pendarahan.

Cara mengenali Stroke dengan SeGeRaKeRS:
Senyum tidak simetris, sulit menelan air minum
Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba
BicaRa Pelo, tiba-tiba bicara tidak nyambung
Kebas/baal, kesemutan
Rabun, pandangan kabura
Sempoyongan/sakit kepala



Jika ditemukan gejala, segera bawa UGD yang ada di RS untuk mencegah terjadinya kecacatan permanen. Terapkan GERMAS berdasarkan Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan perilaku Hidup CERDIK untuk mencegah penyakit tidak menular, termasuk penyakit stroke:

C=Cek kesehatan secara berkala, E=Enyahkan asap rokok,
R=Rajin aktifitas fisik,
D=Diet sehat dengan kalori seimbang, I=Istirahat cukup
K= Kelola stress

Narasumber kedua Sekretaris Pokdi Stroke dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dr Al Rasyid SpS(K),  menjelaskan yang harus menjadi fokus bersama saat ini adalah pencegaja stroke. Jika sudah pernah terjadi stroke, cegah agar tidak terjadi lagi. Kenali diri sendiri dan anggota keluarga terdekat, jika ada mengalami gejala-gejala stroke.


Selain itu tanpa disadari kita mengonsumsi garam dalam jumlah tinggi yang berakibat terjadinya hipertensi (yang menjadi faktor risiko terbesar terjadinya stroke). Kita perlu bijak dalam konsumsi ikan asin dengan sambal, bisa jadi mengandung tambahan garam dan gula yang tinggi tak disadari.

Definisi stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal dengan gejala-gejala yang berlangung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebakan kematian.

Stoke tipe iskemik, stroke disebabkan karena adanya penyumbatan pembuluh darah di otak dan hemaragik/pendarahan. stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di otak.erdasarkan data Indonesia Stroke 2012-2024 memperlihatkan kejadian stroke iskemik/sumbatan 67% dan stroke hemagragik/pendarah 33%.

Ada faktor risiko stroke adalah hal-hal yang bisa mempercepat terjadinya serangan stroke, yaitu faktor risiko yang tidak bisa diubah  (umur, jenis kelamin pada pria lebih banyak, ras tertentu, dan genetik/riwayat keluarga). Namun, ada faktor risiko. yang bisa diubah (hipertensi, diabetes, penyakit stroke, merokok, stres, migrain, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan lainnya).



Semakin bertambah usia, harus semakin rajin periksakan gejala stroke. Jika ada mati rasa, lemah, lumpuh pada wajah, lengan atau kaki pada sisi tubuh, gangguan visual, gangguan bicara, tersandung jika berjalan, pingsan, dan koma segera datang ke rimah sakit agar dilakukan pemeriksaan dengan CT Scan.

Kesimpulan: Pada momen peringatan hari stroke sedunia pada 29 Oktober, mengingatkan kita untuk mengenali gejala stroke, segera atasi sedini mungkin, dan obati stroke dengan tepat. Untuk pencegahan penyakit stroke, terapkan perilaku hidup CERDIK (C=Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress).

Senin, 31 Juli 2017

Kenali Penyakit Gagal Jantung dan Cara Mencegahnya

Saat ini gaya hidup masyarakat yang kurang sehat menjadi perhatian yang serius, semakin meningkatnya penyakit tidak menular sebagai penyebab kematian di Indonesia. Tentu saja kita tidak ingin terkena penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian, salah satunya adalah gagal jantung. Gagal jantung merupakan kondisi kesehatan serius ketika jantung tidak dapat memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh melemahnya otot-otot jantung dari waktu ke waktu.

Untuk mengenal penyakit gagal jantung pada Sabtu, 29 Juli 2017 di Jakarta Pusat, diselenggarakan acara "Set Your Life Back In Motion" oleh Novatis salah satu perusahaan farmasi terkemuka. Diawali dengan pemjelasan Prof. DR. dr. Bambang Budi Siswanti, SpJP(K) dari Rumah Sakit Harapan Kita, menjelaskan fenomena yang sebenarnya terjadi pada penyakit gagal jantung adalah fenomena gunung es. Gagal jantung adalah puncak dari serangkaian keadaan.

Di Indonesia sendiri penyaki gagak jantung berkontribusi sebesar 6,7% pada penyeban kematian. Gagal jantung memiliki pola kejadian, sehingha perlu ketekunan untuk mengontrolnya. Gagal jantung memang tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.  Penyakit gagal jantung juga membuat biaya yang ditanggung pemerintah lewat Jaminan Kesehatab Nasional (JKN) cukup besar sebesar 31, 83 Milyar.

Narasumber kedua adalah Dr.David Sim dari National Heart Center Singapore menjelaskan bahwa di seluruh dunia ada 26 juta penderita penyakit gagal ginjal. Bahkan di Eropa dan Amerika Serikat menghabiskan biaya 1-2% pengeluaran kesehatan secara keseluruhan. Di Indonesia sendiri penderita gagal jantung ada di usai atas 60 tahun.


Narasumber ketiga adalah Milan Paleja, President Director Novartis Group Indonesia menjelaskan profil perusahana Novatis. Batam dan Pasar Rebo adalah dua daerah di Indonesia yang menjadi tempat produkai Novartis Group Indonesia. Dalam bentuk obat paten, produk perawatan mata, dan obat generik dengan kualitas terbaik, kali ini menghadirkan LCZ696 untuk penderita gagal jantung. Novartis hadir sejak 1968 di Indonesia dengan nama Ciba dan Sandoz pada 1987 dan bergabung menjadi Novartis pada 1996.


Narasumber keempat adalah Dr.Lily Sriwahyuni Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menyampaikan bahwa masyarakat tidak menyukai makan buah dan sayur, padahal untuk sehat kita perlu mengonsumsinya. Gaya hidup sehat sesuai Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dengan prinsip CERDIK. Gagal jantung merupakan penyakit tidak menular yang masuk peringkat 10 besar penyebab kematian. Penyakit tidak menular 80% disebabkan oleh gaya hidup.

Sehingga penting bagi kita untuk menjaga kesehatan dengan gaya hidup yang sehat dengan CERDIK: Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Melakukan Aktivitas Fisik, Diet Sehat, Istirahat Cukup, dan Kelola Stres. Tak ada cara lain untuk mengurangi resiko terkena penyakit tidak menular, selain mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat termasuk terhindar dari penyakit gagak jantung.