Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2018

Mengenal Keseharian ODHA, Memahami HIV/AIDS

Pandangan masyarakat terhadap penyakit HIV/AIDS yang konon kabarnya belum ada obatnya, sampai saat ini masih negatif. Padahal ketika seseorang menjadi Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) masa depannya belum berakhir, masih ada harapan untuk terus menjalani kehidupan dan tetap produktif.

Bertepatan dengan momen peringatan Hari AIDS sedunia pada 1 Desember, Kementerian Kesehatan mengadakan acara Temu Blogger pada 5 Desember 2018 di Jakarta. Turut hadir hadir Bu Neneng Yuliani sebagai seseorang yang menyandang status ODHA sejak 13 tahun yang lalu, ia tertular dari suaminya yang telah meninggal dunia setahun kemudian.


Sebuah kenyataan harus dihadapi sebagai sebagai ODHA, tentu tidak mudah baginya saat itu. Namun, kehidupan harus terus berjalan dan munculnya secercah harapan saat akhirnya bu Neneng mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) sebagai obat HIV/AIDS. Hal yang cukup mengejutkan bagi saya, ketika mengetahui bahwa ada obat yang menjadi harapan untuk terus hidup bagi ODHA.


Dr. Wiendra Waworuntu, M,Kes, Direktur P2PL (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung) Kementerian Kesehatan RI pada acara Temu Blogger memaparkan perbedaan HIV dan AIDS. HIV atau Human Immunodeficiency Virus menyebabkan turunnya kekebalan manusia, sehingga tubuh gagal melawan infeksi. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala dan tanda fisik dikarenakan penurunan kekebalan tubuh, akibat tertular virus HIV dari orang lain.


Kita tidak perlu takut terhadap HIV/AIDS karena cara penularan virus HIV sangat terbatas: hubungan seksual, jarum suntik, produk darah & organ tubuh, dan ibu hamil positif HIV ke bayinya. Tak perlu cemas jika bersentuhan, berpelukan, menggunakan alat makan bersama, terkena gigitan nyamuk, dan tinggal serumah dengan ODHA.

Namun, kita perlu mencegah agar tidak terkena HIV: tidak melakukan hubungan seksual berisiko (berganti-ganti pasangan), mengikuti program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, skiring donor darah & organ tubuh, dan tidak menggunakan narkoba.

Seseorang yang terkena virus HIV hanya bisa dipastikan dengan pemeriksaan antibodi HIV di dalam darah, dikarenakan sekalipun belum menunjukan gejala virus HIV sudah dalam menularkan dari ODHA kepada orang lain.

Bu Wiendra Wawaruntu menyampaikan kini HIV/AIDS sebagai penyakit kronis bisa dikelola seperti diabetes dan hipertensi, begitu terdeteksi HIV maka seorang ODHA bisa segera memulai terapi ARV (Antiretroviral,) kemudian dilakukan seumur hidup. Setelah enam bulan menjalani terapi ARV, jika seorang ODHA menjalani tes HIV akan terlihat hasil negatif.


Total kasus HIV di Indonesia mencapai 301.959 dan kasus AIDS mencapai 108.829 yang dilaporkan oleh masyarakat. Menyikapi adanya HIV dan AIDS, Kementerian Kesehatan memiliki program STOP (Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan) sehingga bisa mencapai target 3 Zero: Zero HIV Infection, Zero HIV Related Death, dan Zero Discrimination.


Kementerian Kesehatan sudah meningkatkan jumlah layanan HIV, sejak akhir 2013 hingga Juni 2018 terdapat kenaikan 450% pada layann tes HIV dan 215% pada layanan PDP. Masyarakat perlu turut terlibat dalam pengedalian HIV/AIDS melalyi berbagai cara: pencegahan, penemuan kasus, dan saat masa pengobatan ODHA.


Kesimpulan:
HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikelola, seperti hipertensi dan diabetes. HIV sudah ada obatnya, yaitu: ARV, sehingga ODHA tetap bisa produktif dan mencegah infeksi HIV baru, dan HIV tidak mudah menular, serta jauhi penyakitnya bukan orangnya. Saya berani, saya sehat.