Selasa, 03 September 2019

Selamatkan Anak Indonesia dari Bahaya Pneumonia

Penyakit Pneumonia mungkin nama penyakit yang cukup asing terdengar, tetapi diam-diam Pneumonia menjadi penyebab kematian bayi di bawah lima tahun (batita)  di Indonesia. Tak hanya bagi masyarakat awam, bahkan salah satu kader kesehatan di Kabupaten Bandung tak mengetahui secara detail Pneumonia, ia hanya mengetahui bahwa itu penyakit paru-paru. Dikarenakan tidak adanya program sosialisasi, kader kesehatan pun tidak tahu perbedaan TBC dan Brochitis dengan Pneumonia.

Mata saya pun berkaca-kaca saat membaca Brief Paper, berjudul Merdeka dari Pneumonia yang dibuat Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Partner Save the Children. Betapa tidak, penyakit Pneumonia belum cukup familiar di kalangan masyarakat awam, bahkan kader kesehatan. Namun, bahaya Pneumonia sudah demikian besar menjadi penyebab kematian kedua balita di Indonesia (setelah diare). Bahkan satu dari lima anak meninggal karena Pneumonia.

Sehingga pada 18 Agustus 2019 di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat berlangsung acara peluncuran kampanye nasional Stop Pneumonia. Saat sampai di tempat berlangsungnya acara, sekumpul ibu-ibu sedang menggerakan tangan dan kakinya dengan luwes tarian Cokek dalam mendukung kampanye nasional Stop Pneumonia.


Cerita dari Mama AR dari Kabupaten Sumba Barat tentang anaknya yang meninggal karena Pneumonia, membuat saya sejenak terdiam. Awalnya Mama AR tak mengetahui penyebab meninggal anaknya, tiba-tiba sang anak nafasnya pendek, dadanya terenggah-enggah, dan mengeluarkan bunyi nafas yang berat.
Terbayang-bayang rasa kehilangan orang terkasih, tanpa mengetahui  penyakit yang diderita. Betapa saya terenyuh menaruh empati pada cerita Mama AR, andaikan saja sang anak bisa ditangani sejak dini.

Mari, bersama kita kenali apa sebenarnya penyakit Pneumonia itu? Perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Madeleine Ramdhanu Jasin, Sp.A menjelaskan bahwa masyarakat awam familiar dengan istilah "penyakit paru-paru" basah, padahal ada banyak penyakit pernafasan pada anak-anak. Seringkali pun Pneumonia tertukar dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), padahal keduanya berbeda.

Pneumonia ditandai dengan gejala batuk, nafas cepat, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.  Sederhananya Pneumonia adalah kondisi infeksi paru-paru anak yang menyebabkan peradanhan. Jika ISPA terbatas pada saluran pernafasan atas (hidung dan tenggorokan, sedangkan pada Pneumonia termasuk infeski saluran pernafasan bawah. Infeksi menyebar hingga jaringan tisu paru-paru.

Secara global, jumlah kematian bayi di bawah lima tahun karena pneumonia pada tahun 2015 mencapai 920.000 jiwa, atau 2 balita setiap menitnya. Indonesia ada di peringkat 7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017. Dimana terdapat 25.481 kematian balita karena infeksi pernapasan akut, atau 17% dari seluruh kematian balita.

Di Indonesia, pneumonia adalah penyebab kematian balita setelah persalinan preterm. Sebesar 15.5% dari kematian balita di Indonesia disebabkan oleh pneumonia, dengan prevalensi tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur atau sebesar 38.5%

Pneumonia sangat erat kaitannya dengan kemiskinan dan kesenjangan. Di negara-negara maju, pneumonia menyebabkan anak-anak masuk rumah sakit, tetapi kasus yang fatal jarang. Sebaliknya di negara-negara miskin, pneumonia meningkatkan resiko kematian pada usia anak-anak.

Dikarenakan anak-anak yang miskin lebih jarang mendapatkan vaksinasi, memiliki gizi yang lebih buruk, dan tinggal di lingkungan beresiko. Selain itu, penanganan pneumonia membutuhkan perbaikan sistem kesehatan yang menyeluruh, termasuk memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Secara anggaran, mengobati pneumonia membutuhkan biaya yang sangat besar. Dengan perhitungan rata-rata 1,26 juta kasus pneumonia balita setiap tahun dari 2011 hingga 2016, biaya yang keluar untuk pengobatan mencapai Rp 91 miliar setiap tahunnya. Jika pneumonia bisa dicegah, biaya sebesar ini tentunya bisa dialokasikan untuk kegiatan atau program lain yang lebih efektif untuk mendukung pembangunan Indonesia.

Pengendalian pneumonia seperti yang tertuang dalam Global Action Plan for Pneumonia and Diarrhea (GAPPD) terdiri dari: perlindungan, pencegahan dan pengobatan.

-Perlindungan: melindungi anak dengan menerapkan praktek kesehatan yang baik sejak lahir melalui pemberian: air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan; nutrisi yang mencukupi; dan suplemen vitamin A.

-Pencegahan: mencegah anak-anak menjadi sakit pneumonia dan diare dengan: pemberian imunisasi pneumococcal conjugate vaccines (PCVs) disertai imunisasi pertussis, campak, HiB dan rotavirus; memastikan ketersediaan air minum dan sanitasi yang baik. Dengan membiasakan mencuci tangan dengan sabun; mengurangi polusi udara rumah tangga dan luar rumah; mencegah infeksi dari HIV.

-Pengobatan: mengobati anak-anak yang menderita pneumonia dan diare dengan pengobatan yang tepat. Hal ini didukung dengan membantu kelancaran pencarian pengobatan dan sistem rujukan antar fasilitas kesehatan; memperbaiki pengelolaan kasus pada tingkat fasilitas kesehatan dan komunitas; memastikan ketersediaan oralit, zinc, antibiotik dan oksigen; melanjutkan pemberian makanan dan ASI; membuka akses kepada fasilitas kesehatan dan asuransi kesehatan yang memadai.


Dukungan ayah dalam pengasuhan anak merupakan hal penting, termasuk dalam pemberian ASI dan penanganan anak ketika sakit. Seperti salah satu artis yang hadir, Bayu Oktara yang mendukung istrinya. Jika anak mengalami gejala nafas sesak, bisa jadi menderita Pneumonia. Segera ya diperiksakan ke layanan kesehatan terdekat.


Save The Children International di usia ke-100 tahun mengampanyekan STOP Pneumonia. Hadir dr. Windra Waworuntu M.Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI yang menjelaskan STOP:

-aSi ekslusif 6 bulan, tambahkan dengan MPASI hingga 3 tahun

-Tuntaskan imunisasi

-Obati anak jika sakit ke fasilitas kesehatan terdekat

-Pastikam kecukupan gizi anak.

Mari, bersama-sama kita kenali dan selamatkan anak Indonesia dari Pneumonia! Dengan menyampanyekan STOP Pneumonia. Agar Indonesia bisa sepenuhnya merdeka, merdeka dari pneumonia. Baik masyarakat awam, kader kesehatan, orang tua, dan berbagai pihak mendukung kampanye nasional Stop Pneumonia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar