Sabtu, 14 September 2019

Aplikasi BPOM Mobile Memudahkan Masyarakat untuk Cek KLIK Sebelum Belanja

Berbelanja menjadi kegiatan yang sudah menjadi bagian dalam keseharian, urusan keperluan belanja rumah tangga biasanya dilakukan perempuan sebagai seorang ibu. Namun, ada saja terkadang barang yang persediannya habis dan terlupa dibeli saat belanja bulanan.

Sehingga akhirnya seorang ibu meminta bantuan anaknya yang kebetulan pergi ke mal, sekalian diminta mampir ke supermarket. Tak terkecuali saya diminta membeli saus tomat dan minuman serbuk dalam kemasan sachet.

Aplikasi BPOM Mobile, Cukup Scan untuk Mudahkan Cek KLIK
Aplikasi BPOM Mobile, Cukup Scan untuk Mudahkan Cek KLIK

Datanglah saya di hari Sabtu pada malam hari ke Lippo Mall Kemang, mal yang terkenal sebagai tempat nongkrong anak Jaksel. Ternyata di sana ada sebuah gerai supermarket, berbagai barang lengkap tersedia di sana. Saya pun sempat kebingungan menjadi rak bagian bumbu dapur dan minuman, saking luasnya area Hypermart.

Usai berbelanja di supermarket ternyata di area Avenue of Stars berlangsung acara talkshow bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tema yang diangkat pun cukup menarik, "Ayo Cek KLIK, Pilih Obat dan Makan yang Aman" bersama berbagai narasumber yang kompeten:

1. DR. IR. Penny K. Lukito, MCP, Kepala Badan POM RI

2. Tulus Abadi, Ketua YLKI

3. Ojak S. Manurung, SE, M, Kementerian Perdagangan

4. Fathurrahman, ST, Aprindo

5. Ussy Sulistawaty, Womenpreneur dan selebriti

Apa aja sih yang mesti di Cek KLIK? Bu Penny menjelaskan CEK KLIK yang dimaksud adalah Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek kedaluwarsa. Konsumen harus cerdas sebelum berbelanja. Selanjutnya pak Ojak menjelaskan peran pemerintah dalam hal pengawasan obat dan makanan sebagai: regulator, fasilitator, dan eksekutor.

Lalu pak Tulus dari YLKI mengatakan bahwa masyarakat berhak dapat obat, kosmetik, makanan yg aman. Namun, sebelum mendapatkan haknya masyarakat atau konsumen juga punya kewajiban, salah satunya mengecek kemasannya.

Diharapkan konsumen juga harus berdaya:
-Pertama saat tahap pra transaksi, cek dulu harganya, bahannya, bisa lewat inet, dan bertanya kepada teman.

-Kedua tahap saat transaksi, yakni liat kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa

-Ketiga, Jangan lupa pada saat pasca transaksi, kalau ternyata produknya cacat ya harus bicara, meminta tanggung jawaban ke toko dan pihak produsennya

Bapak Fathurrahman berbicara sebagi perwakilan dari ritel, ia menyampaikan bahwa dari sebelum masuk toko dan masuk toko, dilakukan pemeriksaan dahulu di gudang.

Ibu Penny mengatakan/ mengingatkan utk selalu cek label, pada label makanan saat inI kemasan produk harus mencantumkan tentang nutrisi. Lalu, jangan sampai sampai label itu menyesatkan masyarakat. Coba kita lihat ada kemasan-kemasan produk sudaj pasti ada nilai gizi, padahal dahulu hanya informasi komposisi saja.

Selanjutnya ada mbak Ussy tokoh publik sebagai wakil dari konsumen, ia berbagi cerita sudah memeriksa tanggal kedaluarsi produk yang dibelinya selama ini. Mbak Ussy juga menceritakan bahwa syarat produk yang ia terima untuk dendorse antara lain: bukan barang palsu dan harus ada izin BPOM.

Tantangan BPOM dalam sosialisasi Cek KLIK saat ini, yaitu:

1) Masyarakat belum sadar #BelanjaAman dengan Cek KLIK  sebelum membeli barang.

2) Semakin banyak ecommerce yang jualan kosmetik, obat, dan produk lainnya. Sehingga  BPOM juga punya cyber patrol untuk mengawasinya.

Karena banyaknya pelaku usaha pindah dari offline ke online yang merasa tidak diawasi, padahal ternyata sebenarnta diawasi oleh  Kementerian Perdagangan. Saat ini iIndeks konsumen di Indonesia saat ini ada di tingkat menengah: Mampu. Memahami hak dan kewajiban konsumen.

YLKI mengharapkan masyarakat aktif mengawasi produk yang selama ini beredar di pasaran. Siapa yang pernah belanja online, tetapi mendapatkan barang yang tak sesuai? Masih ingat kejadian beli hp, dapatnya sabun? Salah satu jenus aduan yang cukup sering diterima oleh YLKI di era digital tentang ketidaksesuaian barang.

Ibu Penny juga mengatakan bahwa BPOM mengharapkan masyarakat untuk aktif, terlebih saat ini ada QR Code pada produk khusunya obat dan vaksin. Konsumen bisa scan langsung melalui aplikasi BPOM Mobile.



Tips dari BPOM untuk mencegah supaya tidak salah belanja harus dibaca, dan belilahdi jalur yang legal (resmi), sudah terdaftar, dan di tempat-tempat yang memang baik. Kedua gunakan mata, pikiran, rasa kita saat beli produk. Jika ada yang mencurigakan jangan ragu untuk periksa di website BPOM ataupun melalui telepon ke call center, dan bahkan sudah bisa dicek di aplikasi.

Menurut Ibu Penny ada aplikasi BPOM Mobile dan pelaku usaha juga wajib memasang QR Code pada kemasan, dimulai secara bertahap dari produk berisiko tinggi seperti obat dan vaksin. Melalui aplikasi BPOM Mobile kita memeriksa produk yang dibeli dengan mudah dan melakukab pengaduan, jika kita menemui produk yang ternyata cacat atau ada masalah.


Aprindo sendiri juga punya komitmen KIE yakni, Komunikasi, Informasi, dan  Edukasi. Kemudian bersama menandatangani MOU dengan BPOM untuk penyerahan dan pemasangan banner. Komitmennya akan dilaksanakan seluruh ritel, saat ini anggota Aprindo berjumlah 40.000. Acara talkshow ditutup dengan pesan Bu Penny konsumen harus cerdas, jangan beli produk yang ilegal, sehingga tak ada lagi produk berbahaya yang terbeli. #AyoCekKLIK sebelum berbelanja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar