Kamis, 27 April 2017

Serunya Bincang Transportasi Obsat di Stasiun MRT Bundaran HI

Transportasi umum menjadi pilihan "sebagian kecil" masyarakat di Indonesia, khusus di kota Jakarta. Lebih banyak masyarakat yang menggunaian kendaraan pribadi. Bukan tanpa sebab hal itu terjadi, akibat fasilitas transportasi umum yang kurang baik.

Seiring berjalannya waktu perusahaan jasa membenahi diri, mulai dari KRL Commuter Line dan Bus Transjakarta. Perlahan tapi pasti, seiring peningkatan layanan transportasi, masyarakat mulai tertarik menggunakan transportasi umum.

Saat ini sedang berlangsung proyek pembangunan infrastruktur transportasi umum di Jakarta, dikenal dengan nama MRT Jakarta. Rencananya MRT Jakarta akan mulai beroperasi pada Maret 2019.

Setelah sebelumnya bulan lalu, saya berkesempatan mengunjungi Stasiun MRT Jakarta di Setiabudi. Saya berkesempatan melihat proses pengeboran terowongan MRT, kini saya berkesempatan mengunjungi Stasiun MRT Jakarta di Bundaran HI.


Dalam rangka acara diskusi Obsat yang diselenggarakan Beritagar, berkolaborasi dengan MRT Jakarta. Tak sekedar hanya mengunjungi area proyek, ada penjelasan dan tanya jawab peserta kepada narasumber.


Stasiun MRT Bundaran HI sudah melewati proses pengeboran, sehingga bisa mengunjungi hingga ke dalam terowongan MRT. Sekitar dua puluh menit berkeliling area terowongan MRT, kami melanjutkan ke acara diskusi Obsat.

Obsat ke-192 "Laju Tranportasi Baru" dengan narasumber William Sabandar (Direktur Utama MRT Jakarta), Rini Ekotomo (Pemerhati Transportasi Publik), Nukman Lutfie, dan Keenan Pearce (Co-Founder Makna Creative).


William Sabandar, Direktur Utama MRT Jakarta, memaparkan: perlu adanya MRT Jakarta, mandat MRT Jakarta, progres pengerjaan proyek MRT fase 1, standar pelayanan MRT Jakarta, dan proses pembangunan Ntrans (pedestrian menuju Stasiun MRT Jakarta). Rini Ekotomo, selaku pemerhati transportasi publik, menyoroti dampak yang positif bagi masyarakat. Salah satunyai integrasi antarmoda transportasi umum.

Nukman Luthfie, penggiat media sosial dan pengguna transportasi publik, berbagi cerita enam tahun terakhir menggunakan KRL Commuter Line. KRL yang dahulu kurang nyaman, kini sangat nyaman. Selain itu juga lebih sampai ke tujuan daripada kendaraan pribadi.

Aspek penting di transportasi umun: yang pertama adalah kecepatan, baru kedua kenyamanan. Keenaan Pearce, Co-Founder Makna Creative sependapat dengan pendapat tersebut. Saat ini terjadi pergeseran perilaku anak muda, tak sekedar mengejar gengsi dengan menggunakan mobil. Namun, memilih transportasi umum agar lebih cepat sampai dan produktivitas bisa lebih meningkat.

MRT Jakarta dibangun tak hanya sebagai infrastruktur semata. Tujuan terpentung adalah mengubah budaya masyarakat untuk merawat dan menjafa fasilitas MRT Jakarta. Fasilitas untuk penyandang disabilitas akan tersedia, berupa lift dan khusus disabilitas. Dalam hal keamanan dari banjir, Stasiun MRT Jakarta dilengkapi dengan sistem drainase.


Dalam hal integrasi antamoda transportasi, MRT Jakarta bekerjasama dengan Transjakarta dan Commuter Line. Sehingga terbentuk sistem integrasi yang baik bagi masyarakat. Tak hanya integrasi secara fisik, tapi juga sistem integrasi e-ticketing dan tingkat pelayanan. Demikianlah diskusi Obsat ke-193 tentang "Laju Transportasi Baru".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar