Tampilkan postingan dengan label Ayo Bela Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayo Bela Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2019

Semangat Bela Negara Generasi Muda Masa Kini

Membela Indonesia merupakan kewajiban dan hak warga negera Indonesia (WNI), tanpa terkecuali termasuk generasi anak-anak muda. Dalam upaya membela negara kita tercinta Indonesia tak semata-mata secara fisik dengan cara mengangkat senjata, apabila ada serangan dari negera asing. Namun, banyak hal lain yang bisa dilakukan generasi muda dalam membela negara.

Direktorat Bela Negara di bawah nauangan Direktorat Jendral Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan RI menginisiasi Kampanye Ayo Bela Indonesiaku. Untuk mengajak masyarakat, terutama anak-anak muda generasi X dan generasi Z untuk menjaga semangat bela negara.


Untuk itulah pada 6 Maret 2019 berlangsung acara Konferensi Pers Kampanye Sosialisasi Nilai Nilai Bela Negara di Jakarta. Dihadiri oleh para jurnalis dan blogger yang sebagian besar merupakan milenial (pada zamannya masing-masing).

Mengenal Kampanye Ayo Bela Indonesiaku

Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan sebagai Dirjen Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan RI menyampaikan Ayo Bela Indonesia merupakan kampanye dari Kememhan RI untuk mengajak semua warga negara untuk membela negara. Supaya masyarakat mengetahui bahwa bela negara, tak hanya dilakukan oleh TNI saja, tetapi juga oleh semua sebagai warganegara.


Pada tahun ini Indonesia sudah merdeka 74 tahun, Indonesia demikian luas dan beragam dengan agama, suku, budaya, dan bahasa merupakan sebuah kekayaan Indonesia. Namun, pada sisi lain juga menjadi potensi untuk terpecah sehingga para pendiri negara, menjaga keberagaman karena Indonesia perlu dijaga keberagamannya dan keluasan wilayahnya agar tidak terpecah.

Kemenham sebagai leading sector pertahann negara dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.  Ancaman tak hanya fisik, tetapi juga non fisik yang mengadu domba kota sehingga terpecah-pecah.

Sehingga Kemenhan sejak dahulu menggubakan sistem pertahanan rakyat semesta  (sistem pertahanan rakyat semesta), dimana TNI bersama seluruh rakyat mempertahankan negara. Secara resmi regulasi sudah ada sejak 1988 melalui surat edaran dephan melalui pendidikan pendahuluan bela negara, yang sejak dahilu sudah digariskan. 

Diikuti oleh seluruh kementerian dan lembaga kemendagri adanya Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) saat itu. Bahkan di Kemenpora, sudah ada UU kepemudaan tentang bela negara. Memang bela negara tidak selesai-selesai karena merupakan sebuah "never ending process", ancaman datang terus menerus dan tak ada negara yang aman dari ancaman.

Setiap negara akan bersaing, setelah 31 tahun adanya regulasi dan kemudian terus dilakukan. Untuk mengingatkan generasi milenial supaya jangan lupa, mulai dari hal kecil seperti menyanyukan lagu Indonesia Raya yang menggambarkan keindonesiaan kita.

Ayo Bela Indonesia dilaunching dan kegiatannya akan berlangsung sepanjang tahun lewat berbagai kegiatan. Khusus gen x dan y diperlakukan pendekatan bela negara yang berbeda, bela negara bukan hanya tugas TNI dan angkat senjata.  Ketika menyampaikan berita- berita baik lewat blog itu bela negara yang dilakykan blogger, wartawan yang membuat headline yang tidak mengadu domba merupakan bela negara. 

Pemahaman Nilai Bela Negara bagi Generasi Muda

Brigjen TNI. Tandyo Budi Revita, S.Sos menambahkan ancaman ke depan pasti selalu bertambah, tetapi kelangsungan hidup bernegara harus berlangsung. Anak-anak muda harus paham dan tidak meninggalkan nilai-nilai keindonesia, yaitu: Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman Indonesia dengan 17.000 ribu pulau, 300 bahasa, dan 1.000 suku.


Generasi muda sebagai generasi penerus perlu terus memperjuangkan nilai bela negara dengan pemahaman anak sekarang.   Acara "Ayo Bela Indonesiaku" menyasar segmen anak muda untuk menanamkan nilai-nilai keindonesiaan, bekerjasama dengan program tv.

Sehingga nilai-nilai gotong royong, sopan santun, saling menghargai, menghargai yang lebih tua tetap tertanam di generasi muda: Nilai pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bentuk negara kita.

Ayo Bela Indonesiaku versi Karina Nadila

Karina Nadila sebagai Putri Pariwisata Indonesia 2017 menyampaikan wujud bela negara, mulai dari profesi kita sendiri itu adalah bela negara. Awalnya ia dulu berpikir itu hanya tugas TNI, padahal bagian dari pekerjaan dan keseharian kiya ada nilai-nilai bela negara.


Sejak usia 8 tahun ia keinginan jadi Putri Indonesia agar bisa mempengaruhi hal baik bagi banyak orang dan berkontribusi bagi masyarakat luas melalui kegiatan sosial. Ia membawa nama Indonesia dengan selempang dari Indonesia, mewakiliki 263 juta masyarakat sehingga ada tanggung jawab yang dibawa. Dukungan dari netizen Indonesia, banyak orang ingin indonesia bersatu, lewat membawa nama Indonesia di selempang yang dikenakan.

Ia mengikuti kegiatan 1000 guru, komunitas Travelling and Teaching dengan kegiatan sosial dan berbagi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pengalaman berkesan saat datang ke Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur anak-anak tidak tahu mereka tinggal di Indonesia. Lewat kegiatan bertujuan untuk memotivasi agar masa depan anak-anak cerah.

Cita-cita anak-anak berdasarkan profesi yang dilihat dan memperkenalkan Indonesia dari kampungnya sendiri. Sehingga anak-anak ingin mencari ilmu dari luar, kemudian kembali ke kampung untuk membangunnya agar menjadi lebih baik.

Ayo Bela Indonesiaku versi Dimas Beck

Dimas Beck punya cara berbeda dalam membela negara, melalui kegiatan Galang Dana untuk membangun sekolah di Solo. Ada rumah yang menampung anak terkena HIV AIDS karena di sekolah-sekolahnya ditolak dan tak tahu harus ke mana, bernama Rumah Lentera yang ditampung pak Pugar yang merupakan seorang juru parkir. Rencananya hasil donasi pada Sabtu 9 Maret 2019 ini akan diserahkan.


Berawal dengan target dana 20 juta, Dimas Beck berkeinginan tercapai dalam waktu 24 jam, dan ternyata terkumpul dalam wakti 18 jam. Bekerjasama dengan Kita Bisa yang memiliki filosofi gotong royong. Kemudian target donasi dinaikan menjadi 100juta dalam waktu satu minggu, sampai dengan berlangsungnya acara launching sudah 97 juta.

Lima tahun yang lalu Dimas Beck dan teman-teman juga pernah menggalang dana melaluo penjualan gelang, berawal dari kepedulian pada teman yang meninggal karena kanker payudara. Dimas Beck kembali belajar di bangku kuliah untuk belajar marketing, apa yang dipelajari dan diimplementasi ke campaign penggalana dana dan penjualan gelang.

Kini saatnya bagi generasi muda untuk membela negara, Ayo Bela Indonesiaku. Pembelaan negara secara non fisik bisa dilakukak sesuai profesi, setiap usaha yang dilakukan untuk menjaga bangsa, serta kedualatan negara melalui proses peningkatan nasionalisme.