Rabu, 25 September 2019

Ecolink Hadirkan Lampu LED Berkualitas, Ramah Lingkungan, dan Harga Terjangkau

Lampu menjadi salah satu hal yang penting dalam keseharian, kebutuhan penerangan terlebih pada malam hari dan ruangan yang tidak terkena sinar matahari langsung. Namun, apa jadinya ketika baru beberapa bulan membeli suatu lampu, ternyata lampunya sudah mulai berkedip-kedip dan kemudian mati. Rasanya tentu merepotkan baru beberapa bulan digunakan harus membeli lampu lagi.

Belum lagi keengganan masyarakat untuk beralih ke lampu LED karena dianggap lebih mahal. Padahal manfaatnya lebih banyak: lebih hemat energi, lebih ramah lingkungan, lebih tahan lama, dan menurunkan biaya listrik. Terlebih saat ini banyak pilihan lampu LED dengan harga yang beragam di pasaran, tetapi tak semuanya memiliki kualitas yang baik.

Namun, betapa senangnya ketika saya mengetahui bahwa Signify Indonesia, menjawab kebutuhan konsumen Indonesia dengan memperkenalkan lampu berkualitas dan ramah lingkungan dengan harga terjangkau. Pada 23 September 2019 diperkenalkan Ecolink sebagai brand lampu LED berkualitas  dan ramah lingkungan, bahkan harganya terjangkau.

Ecolink Lampu LED Berkualitas, Ramah Lingkungan, dan Harga Terjangkau
Ecolink Lampu LED Berkualitas, Ramah Lingkungan, dan Harga Terjangkau

Rami Hajjar, Country Leader Signify Indonesia menjelaskan adanya kebutuhan konsumen rumah tangga di Indonesia yang mendapatkan lampu berkualitas, tetapi ingin berhemat dengan mencari yang harganya murah.

Country Leader Signify Indonesia
Rami Hajjar, Country Leader Signify Indonesia

Adanya gap antara kualitas dan harga, sehingga Ecolink hadir untuk mengisi gap tersebut. Dengan hadirnya  Ecolink akan semakin memudahkan masyarakat untuk beralih ke lampu berkualitas pencahayaan yang baik, menenuhi standar keamanan, dan harga yang bersahabat.

Kemudian pak Burhan Noor Sahid, Head of Marketing Signify Indonesia menjelaskan potensi akan kebutuhan penerangan di Indonesia. Pertumbuhan jumlah penduduk semakin meningkat dan saat ini ada 271 juta penduduk di Indonesia, sehingga Indonesia menjadi Country Destination dalam hal perlampuan.

Masyarakat Indonesia masih bertanya-tanya akan kebutuhan lampu, lebih memilih kualitas atau harga? Ada keraguan untuk beralih dari lampu konvensional ke lampu LED, karena hanya sebatas melihat harganya. Namun, ternyata lampu konvensional murah yang dibeli kurang berkualitas, sehingga mulai berkedip dan tak lama mati. 

Malahan jadinya harus mengganti lampu lagi dan mengeluarkan biaya lagi (reinvestment), ketika lampu murah yang dibeli tidak memiliki garansi. Ecolink hadir sebagai brand lampu LED berkualitas, ramah lingkungan, harga terjangkau, dan bergaransi.

Head of Marketing Signify Indonesia
Tujuh Keunggulan Ecolink

Ada tujuh keunggulan lampu LED Ecolink:
1) Pricing Afforrabdle, harganya terjangkau mulai dari 15ribu saja.

2) Lebih Hemat Energi, penggunaan lampu LED mampu menghemat energi hingga 88% 

3) Long Lasting, Ecolink terjamin kualitasnya akan menyala hingga 15.000 jam.

4) Memenuhi Standard yang berlaku baik internasional (Global IEC Standard) dan standard lokal (SNI).

5) Menggunakan Teknologi Lampu LED yang tidak mengeluarkan Infrared dan radiasi.

6) Bebas dari Khawatir karena memiliki garansi lampu LED selama satu tahun, jika sebelum satu tahu lampunya matu bisa ditukarkan langsung kepada toko.

7) Product Range untuk Consumer dan Trade Professional, tak hanya untuk masyarakat di rumah tangga. 

8) Untuk saat ini Ecolink akan hadir dengan produk bohlam LED Downlight dan LED Bulb. Tak hanya memiliki produk berkualitas yang tidak akan menyusahkan para trade profesional. Ke depannya akan diperkenalkan berbagai jenis produk LED Ecolink lainnya.

Ecolink LED Downlight dan LED Bulb
Ecolink LED Downlight dan LED Bulb

Kesimpulan: 
Signify Indonesia menjawab kebutuhan masyarakat akan lampu LED berkualitas dengan harga terjangkau. Ecolink hadir di Indonesia sebagai brand lampu LED berkualitas, ramah lingkungan, harga terjangkau mulai dari Rp 15.000 aja.

Minggu, 15 September 2019

Saatnya Kerajinan Indonesia Semakin Dikenal melalui KriyaNusa 2019

Kain tenun menjadi salah satu produk kerajinan yang dikenal, tetapi ternyata masih ada banyak hasil karya kerajinan di Indonesia yang berkualitas. Mulai dari songket, anyaman bambu, produk kulit, kerajinan logam, dan logam mulia.

Untuk mengenal lebih dekat tentang produk kerajinan Indonesia, saya berkesempatan menghadiri acara Temu Netizen KriyaNusa 2019 yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada 9 September 2019 di Jakarta.

Acara Temu Netizen #KriyaNusa2019 diawali sambutan oleh Pak Widodo Muktiyo, Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo RI. Pak Widodo menyampaikan di dunia yang serba terhubung dan online saat ini, menyimpan potensi untuk mendukung promosi kerajinan Indonesia.


Melalui acara KriyaNusa 2019 diharapkan kerajinan Indonesia mempunya daya saing yang tinggi dan punya pasar yang lebih luas lagi. Para pelaku UMKM saat ini merupakan pahlawan ekonomi. Sehingga perlu kita dukung dengan mempromosikannya.

Acara KriyaNusa 2019 akan berlangsung pada 11-15 September 2019 di Balai Kartini diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) didukung Kementerian Kominfo. Dukungan Kementerian Kominfo sebagai wujud pelaksanaan  tugas sebagai Goverment Public Relation (GPR) dengan tiga aspek: People, Public, Partnership.

Termasuk dukungan pada penyelenggaraan KriyaNusa 2019 yang diselenggarakan Dekranas. Pada tahun ini merupakan tahun ke-3 dukungan Kementerian Kominfo kepada Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional).

Euis Saedah, Sekretaris Jendral Dekranas menyampaikan komitmen Dekranas, melestarikan dan mempromosikan produk kerajinan Indonesia. Melalui acara KriyaNusa 2019 yang menjadi ajang promosi kerajinan Indonesia dari berbagai daerah.



Hasil karya kerajinan UMKM di KriyaNusa 2019 terjamin kualitasnya. Bu Triana Rudiantara, Ketua Bidang Humas Promosi dan Publikasi KriyaNusa 2019 menjelaskan kualitas kerajinan yang sudah terkurasi sudah dikurasi di daerah asalnya oleh Dekranas daerah asal.


Setiap daerah punya hasil kerajinan yang unik, one village one product. Sehingga sebanyak 80% peserta UMKM yang berpartisipasi dalam KriyaNusa 2018 berasal dari perwakilan Dekranas daerah dan tidak dipungut biaya untuk menjadi peserta pameran.

Untuk publikasi acara #KriyaNusa2019 Kemkominfo sudah mengirimkan SMS Blast, informasi di Videotron, dan media sosial. Sekalipun sudah trend belanja online. Namun, konsumen masih perlu memegang barang. Hal ini difasilitasi oleh Dekranas melalui pameran KriyaNusa 2019 di Balai Kartini, Jakarta. Mari, kita anak muda hadir pada acara pameran kerajinan karya nusantara, terlebih anak-anak muda untuk bangkit dan menjadi penerus pengerajin juga.


Pendapatan e-commerce di Indonesia naik 56% sehingga tak perlu ragu akan potensi promosi kerajinan Indonesia melalui online. Terlebih di daerah timur Indonesia sudah mendapatkan akses kemudahan Indonesia, sehingga tidak Jawa Sentris lagi. Jaringan internet tak hanya dibangun oleh ISP saja, kini pun sudah dibangun oleh Kementerian Kominfo melalui Palapa Ring.


Mari, bersama kita datang ke KriyaNusa 2019 di Balai Kartini, berlangsung pada 11-15 September 2019! Kita dukung dengan mempromosikan dan membeli berbagai hasil kerajinan karya UMKM Indonesia.

Sabtu, 14 September 2019

Aplikasi BPOM Mobile Memudahkan Masyarakat untuk Cek KLIK Sebelum Belanja

Berbelanja menjadi kegiatan yang sudah menjadi bagian dalam keseharian, urusan keperluan belanja rumah tangga biasanya dilakukan perempuan sebagai seorang ibu. Namun, ada saja terkadang barang yang persediannya habis dan terlupa dibeli saat belanja bulanan.

Sehingga akhirnya seorang ibu meminta bantuan anaknya yang kebetulan pergi ke mal, sekalian diminta mampir ke supermarket. Tak terkecuali saya diminta membeli saus tomat dan minuman serbuk dalam kemasan sachet.

Aplikasi BPOM Mobile, Cukup Scan untuk Mudahkan Cek KLIK
Aplikasi BPOM Mobile, Cukup Scan untuk Mudahkan Cek KLIK

Datanglah saya di hari Sabtu pada malam hari ke Lippo Mall Kemang, mal yang terkenal sebagai tempat nongkrong anak Jaksel. Ternyata di sana ada sebuah gerai supermarket, berbagai barang lengkap tersedia di sana. Saya pun sempat kebingungan menjadi rak bagian bumbu dapur dan minuman, saking luasnya area Hypermart.

Usai berbelanja di supermarket ternyata di area Avenue of Stars berlangsung acara talkshow bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tema yang diangkat pun cukup menarik, "Ayo Cek KLIK, Pilih Obat dan Makan yang Aman" bersama berbagai narasumber yang kompeten:

1. DR. IR. Penny K. Lukito, MCP, Kepala Badan POM RI

2. Tulus Abadi, Ketua YLKI

3. Ojak S. Manurung, SE, M, Kementerian Perdagangan

4. Fathurrahman, ST, Aprindo

5. Ussy Sulistawaty, Womenpreneur dan selebriti

Apa aja sih yang mesti di Cek KLIK? Bu Penny menjelaskan CEK KLIK yang dimaksud adalah Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek kedaluwarsa. Konsumen harus cerdas sebelum berbelanja. Selanjutnya pak Ojak menjelaskan peran pemerintah dalam hal pengawasan obat dan makanan sebagai: regulator, fasilitator, dan eksekutor.

Lalu pak Tulus dari YLKI mengatakan bahwa masyarakat berhak dapat obat, kosmetik, makanan yg aman. Namun, sebelum mendapatkan haknya masyarakat atau konsumen juga punya kewajiban, salah satunya mengecek kemasannya.

Diharapkan konsumen juga harus berdaya:
-Pertama saat tahap pra transaksi, cek dulu harganya, bahannya, bisa lewat inet, dan bertanya kepada teman.

-Kedua tahap saat transaksi, yakni liat kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa

-Ketiga, Jangan lupa pada saat pasca transaksi, kalau ternyata produknya cacat ya harus bicara, meminta tanggung jawaban ke toko dan pihak produsennya

Bapak Fathurrahman berbicara sebagi perwakilan dari ritel, ia menyampaikan bahwa dari sebelum masuk toko dan masuk toko, dilakukan pemeriksaan dahulu di gudang.

Ibu Penny mengatakan/ mengingatkan utk selalu cek label, pada label makanan saat inI kemasan produk harus mencantumkan tentang nutrisi. Lalu, jangan sampai sampai label itu menyesatkan masyarakat. Coba kita lihat ada kemasan-kemasan produk sudaj pasti ada nilai gizi, padahal dahulu hanya informasi komposisi saja.

Selanjutnya ada mbak Ussy tokoh publik sebagai wakil dari konsumen, ia berbagi cerita sudah memeriksa tanggal kedaluarsi produk yang dibelinya selama ini. Mbak Ussy juga menceritakan bahwa syarat produk yang ia terima untuk dendorse antara lain: bukan barang palsu dan harus ada izin BPOM.

Tantangan BPOM dalam sosialisasi Cek KLIK saat ini, yaitu:

1) Masyarakat belum sadar #BelanjaAman dengan Cek KLIK  sebelum membeli barang.

2) Semakin banyak ecommerce yang jualan kosmetik, obat, dan produk lainnya. Sehingga  BPOM juga punya cyber patrol untuk mengawasinya.

Karena banyaknya pelaku usaha pindah dari offline ke online yang merasa tidak diawasi, padahal ternyata sebenarnta diawasi oleh  Kementerian Perdagangan. Saat ini iIndeks konsumen di Indonesia saat ini ada di tingkat menengah: Mampu. Memahami hak dan kewajiban konsumen.

YLKI mengharapkan masyarakat aktif mengawasi produk yang selama ini beredar di pasaran. Siapa yang pernah belanja online, tetapi mendapatkan barang yang tak sesuai? Masih ingat kejadian beli hp, dapatnya sabun? Salah satu jenus aduan yang cukup sering diterima oleh YLKI di era digital tentang ketidaksesuaian barang.

Ibu Penny juga mengatakan bahwa BPOM mengharapkan masyarakat untuk aktif, terlebih saat ini ada QR Code pada produk khusunya obat dan vaksin. Konsumen bisa scan langsung melalui aplikasi BPOM Mobile.



Tips dari BPOM untuk mencegah supaya tidak salah belanja harus dibaca, dan belilahdi jalur yang legal (resmi), sudah terdaftar, dan di tempat-tempat yang memang baik. Kedua gunakan mata, pikiran, rasa kita saat beli produk. Jika ada yang mencurigakan jangan ragu untuk periksa di website BPOM ataupun melalui telepon ke call center, dan bahkan sudah bisa dicek di aplikasi.

Menurut Ibu Penny ada aplikasi BPOM Mobile dan pelaku usaha juga wajib memasang QR Code pada kemasan, dimulai secara bertahap dari produk berisiko tinggi seperti obat dan vaksin. Melalui aplikasi BPOM Mobile kita memeriksa produk yang dibeli dengan mudah dan melakukab pengaduan, jika kita menemui produk yang ternyata cacat atau ada masalah.


Aprindo sendiri juga punya komitmen KIE yakni, Komunikasi, Informasi, dan  Edukasi. Kemudian bersama menandatangani MOU dengan BPOM untuk penyerahan dan pemasangan banner. Komitmennya akan dilaksanakan seluruh ritel, saat ini anggota Aprindo berjumlah 40.000. Acara talkshow ditutup dengan pesan Bu Penny konsumen harus cerdas, jangan beli produk yang ilegal, sehingga tak ada lagi produk berbahaya yang terbeli. #AyoCekKLIK sebelum berbelanja.

Selasa, 03 September 2019

Selamatkan Anak Indonesia dari Bahaya Pneumonia

Penyakit Pneumonia mungkin nama penyakit yang cukup asing terdengar, tetapi diam-diam Pneumonia menjadi penyebab kematian bayi di bawah lima tahun (batita)  di Indonesia. Tak hanya bagi masyarakat awam, bahkan salah satu kader kesehatan di Kabupaten Bandung tak mengetahui secara detail Pneumonia, ia hanya mengetahui bahwa itu penyakit paru-paru. Dikarenakan tidak adanya program sosialisasi, kader kesehatan pun tidak tahu perbedaan TBC dan Brochitis dengan Pneumonia.

Mata saya pun berkaca-kaca saat membaca Brief Paper, berjudul Merdeka dari Pneumonia yang dibuat Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Partner Save the Children. Betapa tidak, penyakit Pneumonia belum cukup familiar di kalangan masyarakat awam, bahkan kader kesehatan. Namun, bahaya Pneumonia sudah demikian besar menjadi penyebab kematian kedua balita di Indonesia (setelah diare). Bahkan satu dari lima anak meninggal karena Pneumonia.

Sehingga pada 18 Agustus 2019 di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat berlangsung acara peluncuran kampanye nasional Stop Pneumonia. Saat sampai di tempat berlangsungnya acara, sekumpul ibu-ibu sedang menggerakan tangan dan kakinya dengan luwes tarian Cokek dalam mendukung kampanye nasional Stop Pneumonia.


Cerita dari Mama AR dari Kabupaten Sumba Barat tentang anaknya yang meninggal karena Pneumonia, membuat saya sejenak terdiam. Awalnya Mama AR tak mengetahui penyebab meninggal anaknya, tiba-tiba sang anak nafasnya pendek, dadanya terenggah-enggah, dan mengeluarkan bunyi nafas yang berat.
Terbayang-bayang rasa kehilangan orang terkasih, tanpa mengetahui  penyakit yang diderita. Betapa saya terenyuh menaruh empati pada cerita Mama AR, andaikan saja sang anak bisa ditangani sejak dini.

Mari, bersama kita kenali apa sebenarnya penyakit Pneumonia itu? Perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Madeleine Ramdhanu Jasin, Sp.A menjelaskan bahwa masyarakat awam familiar dengan istilah "penyakit paru-paru" basah, padahal ada banyak penyakit pernafasan pada anak-anak. Seringkali pun Pneumonia tertukar dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), padahal keduanya berbeda.

Pneumonia ditandai dengan gejala batuk, nafas cepat, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.  Sederhananya Pneumonia adalah kondisi infeksi paru-paru anak yang menyebabkan peradanhan. Jika ISPA terbatas pada saluran pernafasan atas (hidung dan tenggorokan, sedangkan pada Pneumonia termasuk infeski saluran pernafasan bawah. Infeksi menyebar hingga jaringan tisu paru-paru.

Secara global, jumlah kematian bayi di bawah lima tahun karena pneumonia pada tahun 2015 mencapai 920.000 jiwa, atau 2 balita setiap menitnya. Indonesia ada di peringkat 7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017. Dimana terdapat 25.481 kematian balita karena infeksi pernapasan akut, atau 17% dari seluruh kematian balita.

Di Indonesia, pneumonia adalah penyebab kematian balita setelah persalinan preterm. Sebesar 15.5% dari kematian balita di Indonesia disebabkan oleh pneumonia, dengan prevalensi tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur atau sebesar 38.5%

Pneumonia sangat erat kaitannya dengan kemiskinan dan kesenjangan. Di negara-negara maju, pneumonia menyebabkan anak-anak masuk rumah sakit, tetapi kasus yang fatal jarang. Sebaliknya di negara-negara miskin, pneumonia meningkatkan resiko kematian pada usia anak-anak.

Dikarenakan anak-anak yang miskin lebih jarang mendapatkan vaksinasi, memiliki gizi yang lebih buruk, dan tinggal di lingkungan beresiko. Selain itu, penanganan pneumonia membutuhkan perbaikan sistem kesehatan yang menyeluruh, termasuk memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Secara anggaran, mengobati pneumonia membutuhkan biaya yang sangat besar. Dengan perhitungan rata-rata 1,26 juta kasus pneumonia balita setiap tahun dari 2011 hingga 2016, biaya yang keluar untuk pengobatan mencapai Rp 91 miliar setiap tahunnya. Jika pneumonia bisa dicegah, biaya sebesar ini tentunya bisa dialokasikan untuk kegiatan atau program lain yang lebih efektif untuk mendukung pembangunan Indonesia.

Pengendalian pneumonia seperti yang tertuang dalam Global Action Plan for Pneumonia and Diarrhea (GAPPD) terdiri dari: perlindungan, pencegahan dan pengobatan.

-Perlindungan: melindungi anak dengan menerapkan praktek kesehatan yang baik sejak lahir melalui pemberian: air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan; nutrisi yang mencukupi; dan suplemen vitamin A.

-Pencegahan: mencegah anak-anak menjadi sakit pneumonia dan diare dengan: pemberian imunisasi pneumococcal conjugate vaccines (PCVs) disertai imunisasi pertussis, campak, HiB dan rotavirus; memastikan ketersediaan air minum dan sanitasi yang baik. Dengan membiasakan mencuci tangan dengan sabun; mengurangi polusi udara rumah tangga dan luar rumah; mencegah infeksi dari HIV.

-Pengobatan: mengobati anak-anak yang menderita pneumonia dan diare dengan pengobatan yang tepat. Hal ini didukung dengan membantu kelancaran pencarian pengobatan dan sistem rujukan antar fasilitas kesehatan; memperbaiki pengelolaan kasus pada tingkat fasilitas kesehatan dan komunitas; memastikan ketersediaan oralit, zinc, antibiotik dan oksigen; melanjutkan pemberian makanan dan ASI; membuka akses kepada fasilitas kesehatan dan asuransi kesehatan yang memadai.


Dukungan ayah dalam pengasuhan anak merupakan hal penting, termasuk dalam pemberian ASI dan penanganan anak ketika sakit. Seperti salah satu artis yang hadir, Bayu Oktara yang mendukung istrinya. Jika anak mengalami gejala nafas sesak, bisa jadi menderita Pneumonia. Segera ya diperiksakan ke layanan kesehatan terdekat.


Save The Children International di usia ke-100 tahun mengampanyekan STOP Pneumonia. Hadir dr. Windra Waworuntu M.Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI yang menjelaskan STOP:

-aSi ekslusif 6 bulan, tambahkan dengan MPASI hingga 3 tahun

-Tuntaskan imunisasi

-Obati anak jika sakit ke fasilitas kesehatan terdekat

-Pastikam kecukupan gizi anak.

Mari, bersama-sama kita kenali dan selamatkan anak Indonesia dari Pneumonia! Dengan menyampanyekan STOP Pneumonia. Agar Indonesia bisa sepenuhnya merdeka, merdeka dari pneumonia. Baik masyarakat awam, kader kesehatan, orang tua, dan berbagai pihak mendukung kampanye nasional Stop Pneumonia.