Minggu, 15 Mei 2016

Tiga Inspirator Dalam Dua Jam di Satu Acara

Selasa siang 10 Mei menjadi hari yang berbeda bagi saya. Saya berkesempatan mengikuti sebuah acara berdurasi dua jam, menghadirkan tiga narasumber yang akan memberikan inpirasi.

Dalam acara Inspirato yang merupakan acara offline dari Liputan6.com menghadirkan berbagai narasumber yang akan memberikan inspirasi.

Saya berkesempatan untuk mendapatkan tiga inpirasi, yaitu: Inpirasi untuk berjualan online, inpirasi untuk mendefinisikan arti kesuksesan, dan inpirasi untuk ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

Diawali dengan narasumber pertama, mas Fajrin Rasyid Chief Financial Officer Bukalapak. Mas Fajrin menjelaskan secara singkat berdirinya dan perkembangan Bukalapak. Bukalapak didirikan oleh tiga orang: Achmad Zaky, Fajrin Rasyid, dan Nugroho.


Penjual di Bukalapak disebut pelapak, dengan visinya memberdayakan UKM di Indonesia. Kegiatan rutin berkumpulnya antar pelapak, saling berbagi informasi dan pengalaman di tiap-tiap daerah. Dari mas Fajrin saya mendapatkan inpirasi untuk ikut menjadi pelapak.

Narasumber kedua, mba Deborah Dewi seorang Grapholog. Dengan kemampuannya mba Deborah Dewi menganalisa tulisan tangan, ia gunakan untuk mengenali orang lain dan dirinya sendiri.


Tak berhenti di situ, lewat kemampuanya mba Deborah juga membantu pihak kepolisian menganalisa beragam kasus.

Namun kali ini mba Deborah berbagi inspirasi tentang definisi kesuksesan. Beragam prestasi di karir diraih mba Deborah, namun semua berubah karena suatu kejadian. Ibu dari mba Deborah terkena Demensia Alzheimer, dikenal masyarakat dengan penyakit pikun.

Mba Deborah memilih fokus merawat ibunya dan karirpun tak bisa lagi dijalani dengan baik. Namun tak berhenti di situ mba Deborah ternyata kehilangan ayahnya beberapa waktu lalu.

Dibalik itu semua ternyata ada rencana Tuhan, mba Deborah yang merawat ibunya di Malang kini terpilih mewaliki Indonesia untuk konferensi terkait Alzeimer. Definisi sukses tak sekedar karir semata, ada keluarga dan pastinya memenuhi tujuan Tuhan di dalam hidup kita.

Narasumber ketiga, mas Bijaksana dari Greenation. Ternyata mas Bijaksana "pelaku" atas adanya kebijakan kantong plastik berbayar Rp 200. Lewat Greenation hadir karya tas Bagoes dan Waste4Change.



Gerakan Diet Kantong Plastik diawali Greenation dan pihak lain turut mendukung gerakan tersebut. Plastik berbayar Rp 200 dananya dikelola untuk acara lingkungan hidup. Berawal dari gerai Circle K, Carrefour Lebak Bulus, dan akhirnya di berbagai pusat perbelanjaan modern. 

Saat ini masih uji coba, peninjuan dan evaluasi akan dilakukan. Dari mas Bijaksana saya mendapatkan inpirasi untuk berpartisipasi menjaga lingkungan.

Rabu, 11 Mei 2016

Liburan Seru dengan Berwisata Kereta

Menghabiskan liburan ke luar kota menjadi hal yang biasa. Namun kali ini saya memutuskan untuk mengisi waktu liburan dengan cara yang berbeda. Kebetulan komunitas Tau Dari Blogger dan Jakarta by Train menyelenggarakan Wisata Kereta.


Swafoto di Stasiun Manggarai
Diawali dengan berkumpulnya kami di Stasiun Manggarai pada pukul 8 dan jam 9 dari Stasiun Manggarai kami bersama menuju ke Stasiun Gondangdia. Tak lupa berswafoto di dalam kereta commuterline. Dengan perjalanan di dalam kereta selama 10 menit kami sampai di Stasiun Gondangdia.

Swafoto di Dalam Kerata
Dari Stasiun Gondangdia kami diberikan pengarahan oleh mas Anggra dari Jakarta by Train, Rute kami dari Stasiun Gondangdia dan berakhir di Senin. cara singkat sejarah patung tani.

Penjelasan Rute Wisata


Diawali dengan berjalan kaki menuju Kwitang, dalam perjalanan kami melewati Patung Tugu Tani di daerah Menteng. Mas Anggara dari Jakarta by Train menjelaskan kepada kami.


Penjelasan Sejarah Patung Tuhu Tani
Ternyata Patung Tugu Tani simbol dari patung pahlawan pribumi, biasanya patung lainnya menyimbolkan budaya Belanda. Berbeda dengan Patung Tani yang menyimbolkan pahlawan dari pribumi.

Patung Tugu Tani di Menteng
Patung Tugu Tani di Menteng

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jembatan Kwitang, dilanjutkan menyebrang jalanan dan kami sampai di Museum Kebangkitan Nasional di  Jl. Abdul Rachman S&aleh No.26 Senen, Jakarta Pusat. Di hari Sabtu kunjungan ke Museum Kebangkitan Nasional ramai, kebetulan berlangsung pentas seni. 


Jembatan Kwitang
Pintu Masuk Museum Kebangkitan Nasional

Kami berkeliling beberapa ruangan yang berisi informasi sejarah Hari Kebangkitan Nasional. Budi Utomo menjadi awal organisasi yang hari berdirinya dijadikan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908. Beragam patung, miniatur dan dokumen sejarah bisa dilihat di Museum Kebangkitan Nasional.


Kronologi Kebangkitan Nasional
Ruangan di Museum Kebangkitan Nasional

Replikasi Kelas Stovia di Museum Nasional

Seusai itu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju gerai Es Krim Baltic di dekat Atrium Senen. Setelah lelah berjalan kaki hampir 2 km, rasanya saat sampai di gerai Es Krim Baltic ingin mencoba semua rasanya. Namun saya hanya mencoba dua rasa saja. Ini dia beberapa pilihan es krim yang bisa dipilih.

Es Krim Baltic di Senen

Gerai Es Krim Baltic menjadi tempat terakhir dari rangkaian wisata KRL. Dalam acara Wisata KRL turut didukung PT KAI Commuterline yang memberikan kami Kartu Multi Trip (KMT) dan juga Lem Fox untuk goodie bag beraneka jenis lem. 


Kartu Multitrip (KMT) Tau Dari Blogger
Souvenir dari Lem F

Senangnya berwisata dan berjalan menelusuri Jakarta dari Gondangdia-Kwitang-Senen. Selain berwisata, belajar sejarah dan pastinya bertambah sehat sekalian olahraga. 

Senin, 09 Mei 2016

Wisata Stasiun Baru di Tiga Provinsi




Berakhir pekan menuju tempat wisata mungkin sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. Namun kali ini saya berwisata ke tempat yang berbeda. Saya berwisata melintasi tiga provinsi dari stasiun ke stasiun. Komunitas Tau Dari Blogger (TDB) dan Ditjen Perpekeretaapian, Kementerian Perhubungan menyelenggarakan Wisata Stasiun.

Pagi hari jam 8 pagi kami sudah berkumpul di Stasiun Palmerah, hadir bu Joice Humas Ditjen Perkeretaapian menjelaskan desain Stasiun Palmerah tempat kami berkumpul. Seraya menunggu tujuan pertama kami, Stasiun Maja pada pukul 09.15.

Stasiun Palmerah

 Sambil menunggu kedatangan kereta, kami bertanya beragam hal tentang Ditjen Perkeretaapiaan. Ternyata Ditjen Perkeretaapian berbeda dengan PT KAI, Ditjen Perkereraapian selaku regulator dan PT KAI selaku operator.

Bu Joice, Humas Ditjen Perkeretaapian




Tak terasa kereta jurusan Tanah Abang-Maja tiba di Stasiun Palmerah tiba juga. Kami memasuki kereta yang sudah cukup padat oleh penumpang, alhasil kami harus berdiri. Kereta jurusan Tanah Abang saat ini hanya melintas satu jam sekali. Di dalam kereta tetap kami berswafoto, bisa eksis pastinya.

Berswafoto di Commuterline Tanah Abang-Maja


Sekitar 1,5 jam perjalanan dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Maja, sekitar 50-an km jarak yang kami lewati. Sesampainya di Stasiun Maja, saya merasa tidak berada ada di Kabupaten Lebak, Banten. Dari desain arsitektur, interior, dan eksterior Stasiun Maja serupa dengan stasiun yang ada di luar negeri. Hampir semua sisi stasiun dihiasi kaca, kecuali pada sisi kanan terdapat motif kayu yang "instagramable" menjadi latar belakang foto. Beberapa foto desain di Stasiun Maja:


Tangga di Stasiun Maja

Peron di Stasiun Maja

Lift di Stasiun Maja
Pintu Masuk Menuju Peron Stasiun Maja


Loket di Stasiun Maja




Ruangan Lost and Found di Stasiun Maja


Tampilan Stasiun Maja yang Lama



Tampilan Stasiun Maja yang Baru


Berswafoto di Stasiun Maja
Bu Joice menjelaskan kepada kami tentang master plan Kabupaten Tangerang. Stasiun Maja yang baru berdiri sebagai bagian dari rencana pembangunan Kabupaten Tangerang. Stasiun Maja menjadi icon dimulainya pembangunan, berlanjut ke area luar stasiun dan merambah ke area industri dan pusat bisnis Kabupaten Tangerang. 

Memang saat ini stasiun Maja belum terlalu ramai, sekalipun berdekatan dengan pasar.. Namun potensi pembangunan ke depannya, tak bisa begitu saja diabaikan. Stasiun Maja yang kini sudah baik. Kini sudah tersedia ruang menyusui, mushola, ruang lost and found, dan lift bagi penumpang prioritas.

Tak terasa hampir satu jam kami berkeliling Tujuan kami selanjutnya menuju Stasiun Parung Panjang, Bogor. Kebetulan kereta tujuan Maja-Tanah Abang sudah tersedia, selama 30 menit kami di dalam kereta menuju Stasiun Parung Panjang. Sesampaiannya di Stasiun Parung Panjang, saya serasa ada stasiun kembaran Stasiun Maja. Namun di Stasiun Parung Panjang semuanya serba kaca, tanpa adanya kayu. Kondisi Stasiun Parung Panjang cukup padat, lokasinya juga berdekatan dengan pasar. Inilah beberapa foto saat saya berada di Stasiun Maja.


Peron di Stasiun Parung Panjang

Lift di Stasiun Parung Panjang




Ruangan Lost and Found di Stasiun Parung Panjang


Loket di Stasiun Parung Panjang

Berswafoto di Stasiun Parung Panjang

Tak terasa jam sudah menunjukan saatnya makan siang, kami bersama-sama menuju salah satu rumah makan Padang. Namun saat saya mengantri, nasinya habis. Untunglah tak lama menunggu nasi yang baru matang tersedia, segera saya mengantri dan memakan nasi padang. Sekembalinya di stasiun Parung Panjang, peserta dipersilahkan salat di mushola yang tersediia di Stasiun Parung Panjang.

Setelah perut kenyang dan menjalankan ibadah salat, kami menuju peron untuk melanjutkan tujuan stasiun terakhir yang kami kunjungi: Stasiun Kebayoran. Tak lama kami menungggu kereta tujuan Parung Panjang-Tanah Abang tersedia. Perjalanan kami di dalam kereta sekitar 1 jam menuju Stasiun Kebayoran. Di Stasiun Kebayoran tampilannya serupa dengan Stasiun Palmerah, tempat kami awal berkumpul. Namun Stasiun Kebayoran menyediakan fasilitas eskalator, sehingga penumpang nantinya bisa lebih nyaman. Saat ini masih dapat proses pengerjaan


Eskalator di Stasiun Kebayoran

Tampilan Stasiun Kebayoran Saat Ini

Stasiun Kebayoran

Demikianlah berjal;an saya melintasi tiga stasiun di tiga provinsi berbeda: Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari Stasiun Maja, Stasiun Parung Panjang dan diakhiri di Stasiun Kebayoran. Ketiga stasiun akan diresmikan pada 11 Mei 2016. Senangnya di hari liburan mengujungi berbagai stasiun di tiga provinsi.