Senin, 23 November 2015

Inovasi dari Kementrian Pariwisata: Crisis Center



Pariwisata salah satu sector yang menyumbang devisa dan pendapatan bagi Negara.  Namun bencana tidak dapat dihindari, tentu tidak ingin ada yang liburannya kacau akibat bencana. Beberapa rekan saya sudah merencanakan liburan. Bertepatan saat kabut asap yang berdampak pada daerah Sumatera dan Kalimantan.

Kementrian Pariwisata berinisiatif untuk membentuk Crisis Center. Upaya preventif dan repsontif terhadap bencana yang tidak diduga. Ternyata sudah ada hal yang dilakukan oleh Crisis Center, Kementrian Pariwisata, yaitu: riset, diseminasi, dan pendampingan di saat terjadi bencana seta rehabilitasi.

Seperti saat erupsi  Gunung Barujari di Lombok, Crisis Center sudah memulai tugasnya. Membantu para pelaku pariwisata untuk memberi pelayuanan terhadap wisatawan, yang terkena damp[ak erupsi baik menyangkut transportasi, akomodasi dan lainnya.  Demikian juga saat erupsi Gunung Raung, tersedia Crisis Center di Bandara Ngurah Rai, Bali dan Bandara Juanda, Surabaya. 

Selain itu ternyata Kementrian Pariwisata saat ini menyiapkan website dan aplikasi, di mana masyarkat bisa mengetahui prakiraan bencana dan sampai kapan akan terjadi. Namun saat ini masih untuk keperluan internal Kementrian Pariwisata, semoga ke depannya akan dibuka akses ke public juga.

Terlebih dengan target 120 juta wisatawan di tahun 2016, tentunya keberadaab Crisis Center akan sangat penting. Untuk antisipasi bencana dan wisatawan merasa lebih tenang seandainya terjadi bencana.